TakdirMU terbaik Untuknya
Oleh : Wyda Asmaningaju, S.Pd
Hari ini kamis, 30 Juli 2026 tepat pukul 11. 35 aku menunggu adzan dhuhur persiapan sholat. Pagi tadi sengaja ijin tidak mengajar karena harus kontrol wajahku yg tembem disebabkan salah kosmetik anti flek ke RS. Husada Utama. Sambil nyantai kubuka laptop anakku Iqbal yang sudah 2 hari tidak dibawa. Sambil mengambil tissue basah kuusap layar dan bagian keyboard yang sangat kotor dengan hati-hati. belum kelar pekerjaanku, telpon disampingku berdering dan kulihat Iqbal nelpon sambil menyebutkan dokter hendak berbicara. pada awalnya saya sempat kaget karena seorang dokter diseberang sana menjelaskan bahwa anakku barusan datang ke RS. Jiwa, Menur dan Dr. tersebut meminta saya untuk datang sekarang juga di RS.Menur. Saya menyanggupinya selesai sholat dhuhur. akhirnya perjalananku tidak jadi balik ke sekolah malah ke RS. Jiwa Menur.
Sesampainya di IGD RS. Jiwa menur, saya menemui Dr. Feery yang tadi nelpon saya. disampaikannya secara singkat bahwa Iqbal sudah pernah melakukan percobaan bunuh diri hampir 3x dan tadi malam mau loncat dari kapal Very sialnya laut dalam keadaan surut jadi penumpang tidak diijinkan turun ke kapal. Ya Alloh ... apakah selama ini saya salah dalam mendidik anak? apakah saya terlalu mendikte atau diktator? padahal versi saya selalu ajak ngobrol supaya sama nyamannya.
Dr. Ferry menyerahkan Script milik iqbal sekitar 17 halaman berisi tentang kisah hidupnya yang bisa dia curahkan mulai usia 15 tahun. dan semuanya tidak pernah dia ceritakan kepada saya maupun bapaknya. menurutnya kami terlalu memaksakan idealisme versi kita, tidak memberi kesempatan dia untuk berkembang sesuai keahliannya. masuk SMA, kuliah S1 dan S2 ternyata tidak dia nikmati atas dasar suka tapi terpaksa.
Jauh ke belakang ingatan saya bergerilya sejak kecil Iqbal adalah anak yang pendiam dan keras kepala. sering membuat saya bertindak tidak sabar menghadapinya. sewaktu SMA punya sahabat yang bernama Prasetyo dan pernah dibawa ke rumah. dari Facebook saya tahu bahwa Pras nama panggilannya sudah sukse setelah mendapatkan beasiswa S2 kemudian bekerja di kementrian. Pada saat itu saya jujur ikut senang dan memberi kabar Iqbal, tapi diluar nalar saya bahwa Iqbl menanggapinya dengan negatif thinking bahwa Pras sering bermuka dua di depan gurunya.
Mungkin Iqbal sakit hati dipikirannya dia adalah anak gagal tidak seperti pras, padahal bukan itu maksudku. Jujur, saya ikut senang karena Pras bisa sukses meskipun orang tuanya seorang sekurity dan tinggal di Rumah susun. Di script dia menulis semua salah orang tua yang membentuk karakternya tidak sesuai yang diharapkan. padahal versi saya semua yang saya lakukan hasil diskusi dengan Iqbal karena sebagai orang tua, kita hanya bisa memotivasi dan membiayayi saja.
Setelah kutemui Iqbal di suatu kamar IGD dia hanya ngomong capek. akhrnya saya katakan Ibu ihklas apa yang sudah terjadi berarti kamu tidak lanjut kuliah dan dia hanya mengangguk. sebagai orang tua mungkin saya hanya bisa intropeksi diri apakah saya salah kalau mengarahkan anak kandung saya ke jalan yang benar padahal seingat saya tidak pernah memaksa sekolah dan bidang apa yang akan dia ambil. saya selalu mengajak diskusi meskipun dengan keterbatasan waktu yang saya punya. Ya Alloh... ingatan saya berkelana tentang Iqbal....bagi saya dia seorang anak yang pendiam dan penurut tanpa tau isi hatinya berontak dengan pola asuh kondusif yang saya lakukan. dulu setelah lulus S1 dia pernah melamar pekerjaan di sebuah restoran hanya berjalan 2 minggu dan tidak dibayar. kemudian diterima di BRI Tower lama bekerja satu bulan dan tidak dibayar karena tidak memenuhi target pasar uang (trader). Ya Alloh... tapi dia tidak mau intropeksi diri saya suruh mendekatkan diri dengan Alloh, Zat yang Maha Kaya tapi sepertinya tidak berkenan.Akhirnya menerima pekerjaan sebagai Ghostwriting sampai sekarang.