Oleh : Wyda Asmaningaju
Memiliki dua buah hati yang lucu adalah dambaan setiap pasangan hidup. Banyak dari mereka yang belum dipercaya mengemban amanah atau belum dikaruniai sang buah hati meskipun usia penikahan sudah mencapai puluhan tahun. Pasangan suami istri Narto dan Nilam yang tidak usah menunggu kehadiran sang buah hati terlalu lama dalam mahligai pernikahannya sangat bahagia ketika dalam hitungan delapan tahun sudah mempunyai dua buah cinta yang lucu-lucu. Abdillah yang berusia tujuh tahun dan Nia yang berusia tiga tahun. Sebenarnya setelah Abdillah berusia tiga tahun mempunyai adiknya yang berusia enam bulan meninggal di kandungan. Jadi Nilam sudah melahirkan tiga kali secara normal. Setiap hari Nilam yang sebelum berangkat bekerja di sebuah kantor swasta mengurus si bocil mulai memandikan dan menyuapi mereka secara bergantian sampai menitipkan si cantik ke rumah orang tuanya dan membonceng si ganteng ke Sekolah. Sementara Narto juga mengemban amanah sebagai pegawai di sebuah perusahaan obat. Hari-hari yang padat tanpa rehat mereka jalani dengan iklhas saling support tanpa ada keluh kesah meskipun mereka belum bisa memiliki rumah pribadi.
Pada suatu sore di kediaman mereka.
“Mas, bulan ini aku belum mens, aku yakin pasti hamil.” Nilam cemas memeluk suaminya yang sedang membaca koran.
“Alhamdulillah .. masih ada tambahan bonus.” Narto menjawab dengan santai tanpa melihat ekspresi sang istri.
“Uhh aku takut mas!” Nilam gusar melihat suaminya cuek.
“Takut apa?” Kali ini Narto melipat koran dengan hati-hati.
“Maksudnya begini, kita besarkan dan sekolahkan yang tinggi Muhmmad dan Nia dengan baik tapi kalau nambah anak takutnya gak bisa maksimal mendidik mereka.”
‘Ah kamu, kalau memang kita ditakdirkan punya anak lagi Insya Allah kita bisa mendidiknya dngan maksimal.”
“Mas, bener aku takut. Bagaimana kalau kita ke dokter untuk memastikan bahwa apa bisa janin ini digugurkan seandainya memungkinkan.”
“Ya sudah besok kita periksakan ke dokter tapi janji kalau memang dokter tidak mau menggugurkan jangan memaksa.”
“Ya mas janji.” Nilam sedikit lega dengan keputusan suaminya.
Keesokan harinya mereka berdua berniat memeriksakan kandungan dengan hati yang tidak menentu. Laju motor yang tidak terlalu kencang membuat Nilam semakin berkeringat dingin dengan menyimpan seribu pertanyaan di hati. Tidak begitu lama mereka sudah sampai di parkiran dan setelah memarkir kendaraannya mereka masuk ke ruang dokter spesialis kandungan di sebuah rumah sakit daerah. Setelah melalui pemeriksaan intensif Dokter Edi mengatakan.
“ini anak ke berapa bu?”
“Anak keempat dokter.”
“Saya lihat janin ini sudah berusia 8 minggu bu, artinya kalau digugurkan sayang karena anaknya sehat.” Dokter menunjukkan monitornya sambil menggerak-gerakkan alat di perut Nilam.
“Lo dok, padahal saya baru telat 4 hari kok sudah 8 minggu.” Tanya Nilam keheranan.
“Ya bu memang seperti itu hitungannya.”
“Kalau begitu tidak jadi dok, anak ini akan kami rawat dengan baik. Terima kasih dok penjelasnannya.
Mereka pulang dengan hati lega, mau tidak mau janin itu adalah anugrah terbesar yang tak setiap ornng beruntung memilikinya.
Kehamilan Nilam semakin besar yang membuatnya sedikit repot dengan urusan kerjanya dan menitipkan kedua anaknya ke rumah eyangnya sehingga orang tuanya menyarankan untuk sementara tinggal di rumah mereka sampai Nilam melahirkan bayinya. Narto dan Nilam menyambut baik niat itu dengan hanya menghitung hari Nilam sudah melahirkan normal bayi cantik pada malam hari pukul 20.45 WIB dibantu seorang bidan kampung. Bayi itu bernama “Zahro Syarifatul ‘Aini” dengan panggilan RIFA. Setelah dua hari persalinan Nilam diizinkan pulang karena kesahatan ibu dan bayi sangat prima. Ibu Nilam menyongsong dengan suka cita dan sangat bersyukur.
“Alhamdulillah, cucuku sehat dan cantik. Selamat cah ayu kamu selalu melahirkan gangsar.” Ibu Nilam menciumi Nilam dan bayinya.
“Iya bu. Alhamdulillah. Tadi malam kontraksi cuma sebentar terus diberi perangsang langsung lahir.” Nilam bercerita lebar.
Kehadiran Rifa menambah ramainya suasana rumah yang hanya dihuni kedua eyangnya itu. Setiap pagi Nilam memandikan ketiga anaknya dan menyuapi Muhammad dan Nia tak lupa selalu memberi Asi eksklusif kepada Rifa tercinta. Selesai menjalani tugas sebagai ibu rumah tangga, dia menuju kantor sambil mengendarai motornya. Hari berganti bulan tidak terasa Rifa sudah berusia empat bulan. Hari ini adalah Ramdhan ke sebelas menjadi saksi bagi seluruh umat muslim menunjukkan ketakwaan kepada Rabbnya. Rifa yang lucu semakin tampak menggemaskan. Senyumnya yang menawan tanpa bisa melupakannya walau sejenak.
Seperti biasanya selepas ba’da ashar Nilam menggendongnya di teras depan rumah sehingga mengundang banyak penggemarnya hadir menyapa Rifa yang terus mengumbar senyum. Tidak biasanya sore itu Rifa tidak mau menunjukkan senyum manisnya sehingga banyak fannya yang terus berusaha menggodanya. Saatnya adzan maghrib berkumandang, Nilam, suami dan ayah ibunya segera berbuka puasa dan menjalankan sholat maghrib berjamaah. Selepas sholat teraweh Nilam merasakan tubuh Rifa sedikit panas dan tetiba selepas minum susu, dia muntah. Dengan lembut Nilam mengganti baju Rifa dan memberinya susu lagi karena tampak dia sangat ngantuk. Di tengah-tengah malam tampak Nilam sedikit heran dengan Rifa yang tidak mau nenen dan minum susu botol tanpa pikir panjang dia mengambil sendok untuk menyuapi susu. Tampak mata Rifa tidak terkatup meskipun saat tidur dan tidak rewel sama sekali meskipun belum minum mulai sore sampai jam 12 tengah malam. Ini yang membuat Nilam semakin bingung yang pada akhirnya semalaman dia tidak tidur dan pukul 03.00 dini hari waktunya orang sahur dia membawa Rifa ke rumah sakit milik propinsi bersama suami. Sesampainya di IGD secepat kilat dokter memeriksa dan mengatakan bahwa Rifa tersedak air susu sehingga sesak nafas dan hanya menyuruh Narto dan Nilam hanya berdo’a. Tampak tubuh kecil itu di penuhi kabel-kabel yang tersambung dengan komputer. Dengan bantuan oksigen dia bernafas dan mungkin Rifa merasakan sakit yang luar biasa tanpa diketahui orang di sekitarnya. Penanganan medis dilakukan team dokter sekitar dua jam setelah itu berhasil mengeluarkan cairan susu sekitar setengah cangkir dan bersamaan itu nyawa Rifa tidak terttolong. Nilam hanya bisa menangis tidak tahu kalau Rifa tersedak dan sesak nafas. Dia hanya berucap :seandainya aku tidak terlambat membawa Rifa ke dokter.
Surabaya, 07 - 04 - 2023
No comments:
Post a Comment