Monday, November 14, 2022

CASH

 By. Wyda Asmaningaju






Cash atau tunai biasanya berhubungan dengan hukum dagang atau ekonomi. Membeli barang dengan cash atau tunai. Tapi disini mungkin sedikit menyimpang, nah apa yang dimaksud dengan cash pada kisah ini? Yuk simak.

 

Pada akhir semester genap saat siswa sudah menerima ijasah SMP semua wali kelas 9 disibukkan mendata siswanya yang diterima di Jenjang selanjutnya karena data segera dikirim ke Dinas Pendidikan. Mungkin agak sulit karena mereka sudah berada didunia lain alias sudah tidak menginjak bumi SMP lagi. Hanya beberapa siswa yang mungkin masih butuh legalisir dan sebagainya masih bisa dimintai keterangan .

 

Di suatu pagi yang mana mentari enggan menampakkan sinarnya  Bu Ayu salah satu wali kelas 9H mengumpulkan siswa-siswi melalui grup whatsapp  untuk dimintai data karena hari itu terakhir dan besuknya sudah MPLS (Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah) di Sekolah baru.

        “Kamu sekolah mana mbak?”

        “saya tidak diterima di negeri bu, saya masuk SMK Adhikawacana”

        “Kamu sekolah dimana mas?”

        “Saya diterima di SMA Negeri 19 melalui jalur Zonasi bu”


Satu persatu mereka dengan bangganya menyebutkan sekolah baru yang akan ditempuhnya. Salah satu siswi duduk di pojok tampak sedih tanpa berkata apapun.

Gilirannya ditanya dan sangat pelan dia menjawab.

        ‘Kamu sekolah dimana mbak Sintia?”

        “Saya mungkin tidak sekolah dulu bu, saya akn bekerja membantu ibu”

        “Kenapa mbak?”

        “Ibu saya tidak punya biaya bu karena saya kemarin daftar jalur zonasi di SMAN 19 tapi tergeser”


Bagai disambar petir hatinya pilu mendengar pengakuan seorang anak yatim yang hanya tinggal dengan ibunya di sebuah kos-kosan sekamar.

        “Dulu Ibu jualan jajan bu tapi sekarang tidak lagi karena tidak laku dan modalnya habis buat makan sehari-hari”

        “Maaf ya saya tanya lebih jauh, untuk makan sehari-hari dan bayar kos tiap bulan bagaimana mbak?

        “makan dan kos dikasih tetangga bu”

Ya Allah… bulir-bulir air mata tanpa disuruh jatuh membasahi pipi yang memaksanya mengangkat kaca mata untuk menahan dengan tissue. Dalam hati dia bertekad untuk mencarikan sekolah gratis untuk Sintia. Setelah semua muridnya pulang kecuali Sintia, Bu Ayu mengambil motor untuk mencarikan sekolah gratis.

        “Ayo mbak kamu tak bonceng, kita coba daftar di AL-Amal. Tahun kemarin murid saya setelah tidak diterima di Negeri masih bisa diterima di SMP Al-Amal dan gratis sampai lulus”.

Sintia tidak banyak bicara dan langsung membonceng Bu Ayu sambil cerita banyak tentang keluarganya sepanjang jalan.

        “Saya dan Mama diusir bu dari rumah nenek oleh tante dari papa setelah papa dan nenek meninggal,makanya terus cari kos”.

Sepanjang Jalan Bu Ayu menahan tangisnya dan bertekad keras bagaimana Sintia bisa sekolah gratis. Kurang lebih setengah Jam perjalanan mereka sudah sampai di depan Gerbang SMP Al-Amal. Sambil memtikan mesin dan parkir didepan gerbang yang tertutup ada kertas besar dan tulisannya 

“SMP Al-AMAL TIDAK MENERIMA SISWA BARU TAPEL 2022-2023 KARENA SUDAH MEMENUHI KUOTA"

 Dengan hati yang sedikit brontak, kenapa tahun kemarin bisa tapi tahun ini sudah tutup? Mungkin karena sekolah gratis jadi banyak yang membutuhkan terutama bagi yatim. Sambil memutar otak Bu Ayu mempercepat laju motornya supaya Sintia segera pulang ke rumah. Sampai didepan kos-kosan sepeda diparkir dan masuk disalah satu kamar paling pojok didalamnya ada sosok wanita setengah tua berbadan kurus sudah menunggu kedatangannya.

        “Mama…ada Bu Ayu tadi aku mau didaftarkan sekolah tapi sudah tutup”

        “Monggo Bu Ayu beginilah keadaan kami. Maksud saya Sintia tidak usah sekolah dulu biar kerja supaya punya uang untuk daftar sekolah tahun depan. Makan dan bayar kos semua dibantu tetangga bu”.

Ibunya mengatakan itu sambil nangis tidak tahan dengan nasib yang selalu merepotkan tetangganya.

        “Oalah bu kalau lulusan SMP mau kerja apa? Begini bu saya akan berusaha semampu saya membantu Sintia supaya bisa sekolah gratis nggih”

        “Matur nuwun bu sebelumnya biarlah Gusti Allah yang membalas”

        “kalau begitu saya pamit dulu nggih bu”

 Kata-kata yang mengenaskan terekam dalam otaknya sambil memohon petunjuk dari Sang Maha Agung untuk bisa menyelesaikan masalah ini dengan baik.

Selesai sholat Isya’ diambilnya Handphone dan dicarinya sekolah gratis di Surabaya melalui website tapi lagi-lagi tidak ada tanda- tanda berhasil. Pada saat anak-anak ngelist di whatsapp grup ada salah satu siswa menyebutkan sekolah di SKBN. Tanpa pikir panjang dicari kepanjangan SKBN di web, ternyata Sanggar Kegiatan Belajar Negeri Surabaya. Sekolah non formal dan gratis sampai Lulus. Sekolah milik Pemkot Surabaya.

Keesokan harinya Bu Ayu memberitahu teman guru tentang Sekolah ini supaya kalau mereka punya murid tidak mampu bisa sekolah disini. Setelah selesai ngajar Sintia dihubungi supaya datang ke Sekolah untuk didaftarkan di SKBN.

Untuk kedua kalinya mereka berboncengan dengan tekad kuat mendaftar sekolah.

Alhamdulillah Setelah sampai disambut hangat oleh petugasnya yang masih sangat muda.

        ‘ Silahkan Ibu, mau mendaftarkan putrinya ya?”

        “Bukan mbak, ini murid saya dari SMP Negeri 31”

        “oh ya bu ini syaratnya”

Sambil menunjukkan syarat-syaratnya salah satunya harus ada surat MBR.

        “Apa kamu punya MBR Sin?”

        “Tidak apa-apa bu sambil ngurus kita data dulu”

        “Ya mbak terima kasih”

Kataku sambil menyerahkan berkas yang dibawa Sintia seadanya.

        “Nah sekarang bilang Mama suruh ngurus MBR ya mbak untuk memenuhi syarat sekolahmu”

        “Iya bu terima kasih”

Dengan langkah pasti Sintia pulang dengan hati riang dan bercerita dengan mamanya tentang apa yang baru saja dilakukan oleh Bu Ayu.

        “Matur nuwun Bu Ayu, saya tidak bisa balas apa-apa”

        “Sudah bu gak usah mikir macem-macem yang penting Sintia bisa mlanjutkan Sekolah. MBR nya diurus nggih”

        “Nggih, akan saya urus secepatnya”


Hari berganti sambil menunggu kabar dari Sintia, Bu Ayu mencoba telpon Sintia bagaimana usahanya untuk ngurus MBR.

        “Pak RT tidak mau bu katanya saya bukan penduduknya”

        “Sudah mbak kamu ke kelurahan saja sekarang sama Mama ya bilang Pak RT tidak mau mendaftarkan kamu”

        “Iya bu saya akan ke kelurahan”

Beberapa saat Sintia telpon lagi dengan nada putus asa.

        “Bu.. kata kelurahan yang bisa mendaftarkan hanya RT jadi saya harus balik lagi ke RT bagaimana bu?”

Dengan  gusar Bu Ayu menimpali Sintia yang tengah gundah.

        “Gak usah mbak, saya akan cari alternatif lain supaya kamu bisa dapat surat MBR,

Sekarang kamu pulang dulu ya istirahat”.

Beberapa teman lain yang berada di ruang guru ikut marah  mendengar percakapan tadi dan menyarankan.

        “Coba dengan aplikasi wargaku surabaya , jenengan bisa complain diisitu dan menyebutkan OPD tertentu misalnya Dinas Sosial yang harus mengeluarkan surat MBR”


Dengan berbagai cara dicoba melaui instagram Sapa Wargaku, aplikasi wargaku Surabaya,  Email Pak Erik, Walikota Surabaya dan masih banyak lagi. Semua isinya adalah complain tentang perlakuan RT dan kelurahan yang tidak bertanggung jawab terhadap warganya yang benar-benar membutuhkan.

 

Alhamdulillah dari semua usaha direspon oleh Dinas Sosial dan kelurahan. Mereka minta data-data Sintia dan dengan semangatnya Bu Ayu menghubunginya sambil menyuruhnya menyiapkan semua berkas yang dibutuhkan.

Kurang lebih 2 hari  file surat MBR dikirim di HP Bu ayu setelah itu dirint dan dibuat daftar sekolah. Kali ini Bu Ayu mengajak Mama Sintia untuk mendaftar supaya tahu betul sekolah putrinya. Dengan motor sendiri-sendiri mereka berjalan hampir bersamaan.

        “Silahkan masuk Ibu’ Kata petugasnya sambil mempersilahkan kami

        “Ini mbak kita sudah membawa surat MBR, maaf ya agak lama tapi tidak telat kan”

        “tidak bu”

Sambil memeriksa surat MBR dan meminta pas foto mbaknya berkata

        “Ibu secara resmi adik Sintia sudah diterima disini pendidikan dan semua sergam gratis sampai lulus bahkan sampai kuliah gratis”

Mama Sintia tidak bisa menahan air matanya dengan sedikit berteriak memeluk anaknya.

        “Alhamdulillah Ya Allah.. akhirnya anakku bisa sekolah sampai sarjana dengan gratis. Terima kasih Bu Ayu…terima kasih..”

        “Bu saya hanya perantara saja semua itu rencana Allah sehingga  memudahkan usaha kita”.

Tidak henti-hentinya Mamanya Sintia mengagumi gedung lantai 3 itu dan mereka pulang dengan hati riang.

 

Dihari berikutnya  anak kandung Bu Ayu meminta restu dalam menghadapi ujian skripsi yang masing-masing pengujinya adalah proffesor.

        “Mas, selamat berproses menjalani ujian ya semoga sukses”

        “Aamiin.. Iya bu”

Pagi itu Bu Ayu tidak seperti biasanya di sekolah hatinya cemas dan gelisah seakan-akan ingin secepatnya tahu hasil ananda. Setelah sore hari ananda masih belum pulang dan hanya chat yang membuatnya penasaran.

        “Nanti saja bu setelah dirumah saya cerita ya”

Sehabis sholat maghrib ananda pun baru muncul dengan santunnya memberi salam.

        “Assalamualaikum bu,” sambil mencium tangan ibunya

        “Waalaikum salam, bagaimana mas hasilnya”

Setelah panjang lebar bercerita tentang ujiannya akhir kata yang mengejutkan.

        “Kata Pak Habib : Bu Ris anak ini direkom S2 karena skripsinya sempurna”

        “Alhamdulillah Ya Allah kau kabulkan cita-cita hamba yang miskin ini bisa menyekolahkan anak lebih tinggi dari orang tuanya”.

 

Mungkin ini adalah imbalan dari perbuatan Bu Ayu yang membantu sekolah siswinya sampai kuliah gratis sementara putra pertamanya mendapat beasiswa S2 gratis. Ini yang dinamakan pahala cash atau tunai tidak harus menunggu di akherat kelak. Berbuatlah baik kepada siapapun, dimanapun tanpa melihat siapa dan bagaimana orang itu.

 

 

 

 

Surabaya, 15 November 2022



11 comments:

  1. Perjuangan Bu Ayu patut diteladani. Cakep surakep

    ReplyDelete
    Replies
    1. Matur nuwun Prof. Sekedarnya saja Yang saya lakukan

      Delete
  2. Selamat ya Bun, semua kebaikan yang ibu lakukan semua akan kembali kepada Ibu.

    ReplyDelete
  3. Luar biasa. Judul yang mengundang pembaca. Sampai lupa, sampai akhir membaca baru sadar ada judul yang unik.
    Keren....

    ReplyDelete
  4. Luar biasa... Perjuangan bu ayu. Semoga menginspirasi yang lainnya

    ReplyDelete
  5. Luar biasa. Perjuangan Bu Ayu membuahkan hasil. Semoga menginspirasi kami

    ReplyDelete

Salah Paham

Versi Fiksi Mini  Oleh : Wyda Asmaningaju “Saya polisi, kamu telah terbukti bersalah atas nama hukum. Untuk tindakan selanjutnya mohon ikut ...