Sunday, November 20, 2022

DENGARKAN AKU

 By. Wyda Asmaningaju





Perjalanan hidup seseorang tidak bisa ditebak oleh siapapun termasuk dirinya sendiri.  Rezeki, jodoh dan maut sepenuhnya bukanlah hak kita untuk mengetahuinya. Sang Sutradara Hebat yang sudah menulis di lauhul Mahfuz semua skenario kehidupan. Senang, sedih, tangis, bahagia adalah bumbu kehidupan supaya menjadi penyedap rasa sehingga manusia bisa mengambil hikmah dalam setiap langkah. Apa saja hikmah dari kisah berikut ini? Yuk simak !

 

Sambil berbaring di atas sofa lobby, Danita mengungkapkan isi hatinya kepada Santi yang menemaninya duduk dengan santai selagi istirahat makan siang di kantor.

        “Santi..apa perasaanmu ketika suamimu memperlakukan kamu sebagai bawahan?”

        “Maksudnya bagaimana?”

        “Ya seperti bawahannya misalnya ambilkan ini dan itu, cuci bajuku, bersihkan

Sepatuku, cuci piringku dan sebagainya tanpa ada kata tolong”

        “Kalau menurutku hal itu sudah biasa. Kita para istri memang wajib melakukan pekerjaan untuk suami”

        “Ah kamu gak ngerti maksudku sih… dengarkan aku ya.. nyuruhnya itu seperti pegawainya atau bawahannya. Nadanya tinggi sambil nunjuk-nunjuk”

        “Ya memang suamimu kan direktur,wajar saja kalau menyuruh anak dan istrinya seperti halnya bawahannya mungkin sikapnya itu terbawa sampai ke rumah”.

        “Dari awal menikah sampai punya dua anak suamiku tidak pernah bantu aku sedikitpun dalam hal urusan rumah. Eh cuci piring, setrika, cuci baju bahkan nyapu saja lo gak pernah. Dia taunya hanya kasih uang tanpa memperhatikan tumbuh kembang anaknya atau memperhatikan perasaan istrinya. Apakah kalau aku sakit atau menanyakan pekerjaanku bagaimana dia tidak peduli. Mungkin menurut dia hanya uang yang bisa membeli apa saja”

        “Ah menurutku tidak ada yang aneh pada suamimu. Orangnya khusuk sholatnya dan tajir he..he.. tanpa uang kamu tidak bisa beli apa-apa Sis..”

Perbincangan mereka seperti itu seringkali diungkapkan Danita selagi ada waktu senggang di kantor tapi Santi tidak menanggapinya dengan serius.

Mempunyai suami yang sholeh dan kuat imannya adalah sangat didambakan oleh seorang muslimah sejati.

 

Sesuai pengakuan Danita pernikahannya atas dasar dijodohkan oleh ibunya dengan pertimbangan suaminya bekerja di Perusahaan Minyak bumi dan sudah mempunyai mobil dan rumah sebelum menikah. Suami Danita adalah orang Betawi yang mempunyai banyak saudara. Mulai belum menikah adik-adiknya sering minta dibelikan barang-barang mahal mungkin karena kakaknya sudah menjadi pimpinan perusahaan. Pertimbangan orang tua pastilah ingin melihat buah hatinya mapan dalam berumah tangga, tidak lebih dari itu.

 

Danita berasal dari keluarga sederhana dan terpandang di kampungnya karena Ayahnya seorang Lurah yang disegani penduduknya. Dia anak ke 3 dari  4 bersaudara. Mereka hidup saling rukun dan saling berbagi satu sama lain. Tidak pernah ada suara keras dirumahnya. Orang tuanya mendidik dengan penuh kesabaran dan bertanggung jawab sehingga keempat-empatnya bisa sampai sarjana semua.

 

Suatu pagi yang Indah Danita bercerita lagi mengenai suaminya.

        “Kamu tau kan sekarang aku sakit, tapi suamiku tidak mau tau sama sekali. Pokoknya tidak pernah pedulikan aku dan anak-anak”.

        “Ya mungkin orangnya repot, banyak kerjaan sehingga tidak tau kalau kamu sakit. Ngomong dong kalau sakit!”.

        “Percuma kayaknya ngomong sama kamu. Gak pernah membela aku malah membela suamiku”.

        “Maaf Danita bukan itu maksudku. Setiap pasangan hidup itu sudah menjadi rezeki masing-masing jadi tidak boleh protes dengan takdir. Kita harus menyesuaikan dengan suami kita supaya bisa seirama berjalan mengarungi samudra kehidupan”.

        “Tapi kenapa aku terus yang harus menyesuaikan? Kenapa dia tidak mau belajar menyesuaiakan?”.

        “Wah..aku gak bisa jawab ini..tanyakan saja pada rumput yang bergoyang”.

Sambil ngakak Santi mengalihkan pembicaraan dengan tema lain.

        “Ayo kita shopping! Mau pergi kemana tuan putri, hamba siap untuk menemani”

 

Santi yang sederhana dalam berpikir sering menemani Danita ke Mall untuk melupakan sejenak urusannya atau kepenatannya dengan suaminya. Harta yang mungkin tidak habis dimakan tujuh turunan sering dihamburkannya untuk membeli sesuatu yang tidak bermanfaat. 

Tapi Santi tidak mau memanfaatkan kekayaan Danita karena dinilai Danita memang butuh teman untuk curhat supaya dia tidak melampiaskan ke orang lain. Bahkan orang tuanya dan saudara-saudaranya menganggapnya Danita dan suami baik-baik saja. Tidak terasa pernikahan mereka sudah menginjak usia 17 yang seharusnya di usia tersebut hubungan suami istri semakin penuh kasih sayang dan pengertian.

Bulan berganti sampai pada suatu saat Danita dan Santi menghadiri pesta pernikahan teman sekantornya yang berada di luar kota. Mereka membuat janji bertemu di suatu daerah pinggiran kota dan masing-masing membawa mobil.

Santi sudah menunggu kurang lebih 10 menit tapi Danita masih belum kelihatan. Tanpa pikir panjang diambilnya handphone yang ada di dashboard mobilnya.

        “Hallo.. kamu sudah sampai mana?”.

        “Ya sebentar lagi sampai”.

Tepat didepan mobil Santi tampak sedan merah Danita berhenti. Seketika Santi keluar dari mobil dan memastikan apakah benar Danita yang datang.

Danita juga tampak keluar dari mobil dan berjabat tangan dengan Santi. Dengan memperhatikan mobil Danita masih ada orang lain yang belum turun tepatnya di sebelah kanan (Sopir). Tanpa basa basi Santi langsung menanyakan orang itu.

        “Kamu dengan siapa?”

        “Sasminto”

Astaghfirulloh… nama itu sering terngiang dari bibir Danita menyebutkan teman SMA yang simpati dengan nasibnya. Bahkan dia sering datang ke rumahnya meskipun ada suaminya. Apakah mereka selingkuh? Padahal Sasminto juga mempunyai anak dan istri tapi kenapa pergi berdua dengan Danita diijinkan istrinya? Ya Allah... semoga perkiraanku salah.   

Setelah bersalaman merekapun masuk ke mobilnya masing-masing. Perjalanan yang membuat Santi tidak nyaman meskipun dia tidak satu mobil dengan Danita. Hatinya selalu memohon untuk kebaikan Danita dan keluarganya.

Sesampainya di pesta semua mata tertuju pada Danita dengan kedatangan yang mengejutkan semua teman. Bertanya-tanya dengan siapa dia hadir? Tapi Danita dengan santai menjawab beribu pertanyaan bahwa Sasminto adalah teman SMA. Santi hampir berkata kasar pada Danita tapi ditahannya dengan perlahan dia berbisik.

        “Apa maksudmu mengenalkan Sasminto pada teman-teman? Apa memang Pak Ahmad sudah tidak bisa menjadi suami yang baik sehingga kamu pindah ke lain hati?”

Danita hanya tersenyum dengan menyimpan seribu jawaban.

Tahun berganti tahun Danita masih menjadikan Sasminto sebagai pahlawan dalam rumah tangganya. Tanpa berputus asa selain mengingatkan dan menyadarkannya, Santi juga setiap saat memohon kepada Dzat yang Maha Hidup supaya Danita kembali ke jalan yang benar. 

Pada hari kamis depan Santi akan menunaikan ibadah Haji bersama suami. Persiapan demi persiapan sudah dilakukan mulai hari ini. Tak lupa Santi berpamitan dengan Danita. Meskipun kepergian Santi hanya untuk sementara tapi Danita sangat kehilangan sahabatnya itu.

Sesampainya di tanah suci Santi bisa sejenak melupakan masalah Danita. Tapi pada saat Ziarah ke Jabal Rahmah dia memohon do’a untuk Danita dan Suami tercinta supaya diberi kelanggengan sampai maut memisahkan mereka. Setelah kembali ke hotel yang baru saja sampai di lobby HP nya tersambung internet dan ada panggilan dari seseorang. Setelah diangkat ternyata dari Danita.

        “Assalamu'alaikum..”

        “Wa'alaikum salam”

        “Maaf Santi, aku mengganggu ibadahmu”

        “Tidak koq..ini aku barusan dari Jabal Rahmah”

        “Begini, dengarkan aku sebentar ya..aku minta maaf sekali karena selama ini aku selalu marah, kesal dan benci selama dirimu mengingatkan aku untuk tidak selingkuh…hu..hu..hu”

Tangisnya pecah sambil terbata-bata sambil menjelaskan.

“Aku baru sadar sekarang kalau selama ini tidakanku salah dan Alhamdulillah suamiku bisa merubah sikapnya dan mau mengerti aku. Sekarang suamiku lebih sayang aku dan anak-anak daripada pekerjaannya sendiri.”

Alhamdulillah … Ya Allah Engkau kabulkan setiap do’a yang kupanjatkan dengan tulus dan ihklas untuk sahabatku yang kehilangan arah.  Pada saat hamba ibadah di Mekkah KAU sadarkan Danita yang kurang lebih dua tahun selingkuh dengan orang lain. Memang ketulusan do’a menembus Arsy. Persahabatan tulus tanpa memandang kekayaan atau jabatan. 

 

 

 

 

Surabaya, 20 November 2022

8 comments:

Salah Paham

Versi Fiksi Mini  Oleh : Wyda Asmaningaju “Saya polisi, kamu telah terbukti bersalah atas nama hukum. Untuk tindakan selanjutnya mohon ikut ...