Tuesday, November 29, 2022

TERGANTUNG KUALITAS

 Oleh : Wyda Asmaningaju



Anda kenal dengan makanan di atas? Ya benar kalau di Surabaya dan sekitarnya bernama ote-ote, ada juga orang Jawa  tengah memberi nama bakwan, di Bandung orang menyebutnya bala-bala, Bu Widut dari Madiun memberi label weci. Bunda Telly dari Makasar menyebutnya bikang doang. Itulah kebinekaan bahasa daerah kita.

 

Ote-ote merupakan makanan yang paling disukai di semua lapisan masyarakat. Karena harganya relatif murah (kalau beli di warung) dan bisa mengenyangkan. Di kantor saya hampir setiap hari seorang teman membawa gorengan dan salah satunya pasti ada ote-ote. Mayoritas teman kantor yang belum sempat sarapan dari rumah mereka membeli gorengan untuk mengganjal perut.

 

Biasanya saat disajikan ote-ote memiliki teman setia yaitu petis atau cabe lalap. Nah terutama bagi teman yang suka pedas ote-ote sebiji bisa menghabiskan 3 sampai 5 cabe. Wah bagaimana ya rasanya?

 

Di nikmati saat hujan , pagi hari, malam hari,sambil nunggu jemputan, sambil ngopi atau ngeteh semuanya mendukung. Kalau saya menikmatinya sambil membaca buku Master Emcho S.O.S sopo ora sibuk (menulis dalam kesibukan). Saking asyiknya menyimak isi buku dengan bahasa sederhana tapi penuh makna sampai tidak terasa habis berapa yang saya makan.

 

Rasanya yang gurih dan tampilannya yang sederhana membuatnya semakin diminati banyak orang. Terkandung protein hewani dan nabati serta karbohidrat didalamnya.

 

Bahan dasarnya adalah tepung terigu, tepung beras, kecambah atau tauge serta irisan kotak kecil wortel dan bawang pre dengan bumbu bawang putih, bawang merah dan merica serta garam secukupnya. Ada juga yang menambahkan dengan udang besar ditengan-tengah bagian atas. Ada yang mengisinya dengan tiram, rumput laut bahkan cincangan daging ayam sehingga harganya bisa lebih mahal.

 

Apakah ote-ote selalu didominan oleh rakyat kecil? Jangan salah..di dalam Mall-Mall terkenal  juga banyak jajanan itu. Nah kalau di sini tampilan dan isinya beda dengan yang dijual Mak Ti di pinggir jalan, yang hanya beralaskan tanah dan beratapkan terpal. Kalau di Mall kualitas dan kebersihannya terjamin beda dengan dagangan Mak Ti yang hanya ditutup koran bekas.

 

Pada Umumnya harga ote-ote paling murah  mulai 1000 perak sampai paling mahal per biji 25 ribu yang saya ketahui di Surabaya adalah ote-ote porong. Berbeda dengan ote-ote sayur lainnya, ote-ote porong memiliki ciri khas sendiri yaitu adonannya ditambahkan kedelai halus sehingga membuatnya semakin padat.

 

Mak Ti yang kesehariannya berjualan ote-ote bisa mengumpulkan uang 50 ribu per hari (kotor) karena yang dijual per biji seharga 1000 perak. Sedangkan Bu Verina yang berjualan ote-ote di Mall bisa 10 kali lipat penghasilan kotornya karena yang dijual ote-ote per biji 25 ribu. Apa yang membedakan? kualitas barang.

 

Semakin bergengsi tempat jualan kita semakin banyak menarik orang ‘high class’ untuk membeli dagangan kita. Sekali beli mereka minim 5 biji untuk keluarganya. Jarang sekali mereka hanya beli cuma satu meskipun harganya 25 ribu sebiji.

Kalau memang tidak punya toko atau tidak mampu sewa tempat di Mall, kita bisa jualan lewat online yang tentunya mengutamakan kualitas. Dari bahan dasar yang mudah dicari dan murah kebanyakan orang bisa membuatnya.



Surabaya, 29 November 2022

4 comments:

 My advertisement in the last week