Saturday, December 31, 2022

Merantau

 Oleh Wyda Asmaningaju

Dok. Pribadi

 

Suasana desa terpencil yang tenang dan damai di Jawa tengah selatan membuat penduduknya semakin beriman dan bertakwa. Sore itu di sebuah ruang tamu tampak Suminah merajuk ibunya untuk mengijinkan kakaknya ikut merantau bersamanya.

        “Bu kalau besuk saat aku balik ke Surabaya mengajak yuk Siti (sebutan mbak yu) bagaimana?”.

        “Tanya sendiri saja mbakyumu”.

        “Yuk Siti…yuk Siti…”.

Tampak dari balik kelambu biru sosok wanita berambut panjang keluar menyambut panggilan adinda tercinta.

        “Ada apa dek?”.

        “Yuk besuk minggu ikut aku ke Surabaya ya daripada di sini gak ada kerjaan tetap”.

        “Ah nanti malah merepotkan kamu dek”.

        “Wis gak usah mikir macam-macam, yang penting sampean dapat pekerjaan tetap di sana”.

        “Ya nduk ikutlah adikmu untuk mencari pengalaman di kota, siapa tahu jodohmu juga orang kota”.

        “Ah Ibu kok sampai jauh pemikirannya. Aku cuma ingin kerja”.

       “La terus apa kamu gak ingin berumah tangga? Umurmu sudah tua lo.. tiga puluh tahun lebih . Lihat si Parmi anaknya sudah dua dan si Kasmini anaknya malah hampir 3”

        “Ya ingin bu tapi kan aku belum ketemu jodohku”.

        “Makanya cepat beres-beres ikut adikmu besuk”.

Gadis polos berwajah cantik dengan rambut lurus panjang terurai itu tidak kuasa menolak permintaan adinda dan ibunda tercinta. Setelah lulus sekolah dia belum pernah bekerja secara formal paling-paling membantu Mak Ti tetangga sebelah rumah matun atau menyiangi gulma di sawah. Keesokan harinya dengan meminta restu dari ayah dan ibu maka mereka berdua berpamitan.

 

Berbekal Ijasah SMA yang dimiliki Siti, kakak Suminah berniat mengadu nasib di kota. Setelah beberapa lama naik kereta mereka telah sampai di Surabaya kemudian menuju kamar kos Sumini yang dekat dengan stasiun Gubeng.

       “Ya beginilah Yuk keadaan di kota. Meskipun aku sudah setahun bekerja tapi masih tinggal di kamar kos karena rumah di sini sangat mahal”.

         “Ya gak pa pa lah yang penting kamu sudah kerja”.

        “Wis sampean sementara tinggal di sini dulu ya sama aku. Kalau mau apa-apa gak usah canggung anggap  rumah sendiri nanti sambil tak carikan info kerja”.

 

Hari demi hari Suminah berusaha mencarikan pekerjaan untuk kakaknya. Setiap temannya ditanya apa ada lowongan yang sesuai dengan ketrampilan yang dimiliki kakaknya yaitu menjahit. Alhamdulillah tidak begitu lama hanya butuh waktu sekitar semingguan ada info suatu toko bahan makanan di pusat kota membutuhkan karyawati lulusan SMA.

 

Dengan melalui beberapa tes maka Siti diterima sebagai pegawai toko bahan makanan. Rasa syukur yang mendalam dirasakan Siti yang belum pernah bekerja sebelumnya, dibuktikannya dengan menerapkan disiplin dalam setiap etos kerjanya. Jam kerjanya pukul 08.00 sampai 16.00 membuat hari-harinya sibuk. Sosok yang santun dan lemah lembut dalam berbicara membuat semua teman salut dan sangat menghargainya.

        “Tolong mbak Siti ambilkan kardus yang berisi gula halus itu ya” Pinta Santi.

        “Iya” Jawabnya sambil mengangkat kardus kecil.

 

Minggu demi minggu dilalui dengan suka cita menikmati pekerjaaan barunya. Genap sebulan Siti merasa tidak enak numpang kos di rumah adiknya terus maka diberanikan diri untuk meminta ijin kos sendiri.

        ‘Dek, aku ingin kos sendiri. Kan aku sudah menerima gaji empat kali”.

        “Sebenarnya gak usah pindah yuk, di sini saja kan gak pa pa wong sampean ya pinter masak”.

        “Sudah lama dek aku ngrepoti sampean saatnya sekarang aku belajar mandiri”.

        “Ya sudah kalau begitu besuk tak carikan kos dekat-dekat sini saja, biar gak jauh dari aku”.

Beberapa hari setelah pulang kerja mereka berdua keluar masuk rumah untuk mencari kos. Akhirnya disepakati sebuah kamar kos rapi dan bersih yang pemilik kosnya tidak tinggal di situ dan lokasinya sekitar 500 meter dari kos Suminah. Tapi kebersamaan mereka selalu tercermin dalam setiap langkah. Disempatkannya hampir setiap hari berkunjung di kos masing-masing.

 

Bulan berganti bulan tidak terasa sudah setahun keberadaan Siti di kota Pahlawan. Di suatu pagi yang cerah saat Siti bekerja seorang temannya bernama Ngatminah berbisik hampir tidak kedengaran.

        “Mbak Siti mau gak tak kenalkan tetanggaku, he..he..’

Meskipun umurnya sudah tergolong dewasa, Siti yang belum pernah merasakan punya teman dekat hatinya berasa dag dig dug.

        “Ah aku takut dek Ngat”.

        “Lo wong kenalan kok takut”.

        “Iya selama ini aku belum pernah kenal dekat dengan laki-laki manapun".

        “Serius aku mbak, siapa tau cocok. Namanya Sumaji dan bekerja di sebuah BUMN. Dia yatim piatu dan sekarang dia tinggal dengan mbahnya yang kaya raya”.

        “Tapi aku ditemani ya dek”.

        “Beres”.

Selang beberapa hari Ngatminah mengatur pertemuan mereka di rumahnya. Menjelang sore itu Siti ditemani adiknya Suminah menuju rumah Ngatminah yang letaknya kurang lebih 3 kilo dari kos mereka dengan naik motor. Sambil meyakinkan kakaknya supaya tidak grogi nanti di depan laki-laki itu maka diajaknya ngobrol ngalor ngidul. Tidak terasa sudah sampai di rumah Ngatminah.

        “Assalamu’alaikum dek Ngat”.

        “Wa’alaikum salam mbak Siti dan dek Suminah, silakan masuk”.

Sambil mempersilakan masuk dan menyiapkan minum dan aneka kue Ngatminah tampak mondar mandir. Setelah semuanya siap maka diapun duduk di sofa pojok sambil mengenalkan Sumaji.

        “Ini mas Sumaji dan ini mbak Siti. Monggo kenalan sendiri”.

Sumaji yang pendiampun mengenalkan dirinya kepada Siti.

    “Begini dek Siti meskipun saya barusan kenal jenengan tapi sudah lama dek Ngatminah ini menceritakan kepribadian jenengan kepada saya jadi saya langsung saja berniat ingin melamar dek Siti untuk menjadi istri saya”.

Siti yang pemalu merasa bingung harus menjawab apa sementara usianya yang tidak muda lagi. Seakan terngiang pesan ibunya sebelum keberangkatannya.  Diberanikan menjawab dengan polos.

        “Tapi apakah mas Sumaji tidak kecewa punya istri orang desa yang sudah berumur seperti saya?”

       “Insya Allah tidak dek. Saya sudah tidak punya orang tua dan sekarang tinggal dengan mbah di sini. Saya bekerja sebagai pegawai rendahan di sebuah BUMN. Kalau memang dek Siti mau, saya akan meminta mbah untuk melamar dek Siti di tempat oang tua dek Siti berada.”

 

Singkat cerita beberapa bulan kemudian dilaksanakan lamaran beserta pernikahan Siti dan Sumaji di desa tempat kelahiran Siti. Pernikahan yang bisa dibilang cukup meriah untuk Bu Watini mengawali punya gawe mantu karena Siti merupakan anak pertamanya. Usia Siti yang lebih tua lima tahun dari Sumaji pun tidak menjadi masalah yang serius. Semua tertutupi oleh kepribadian Siti yang dewasa dan penuh pengertian.


BERSAMBUNG

 

Surabaya, 1 Januari 2023

Wednesday, December 28, 2022

Sehat Itu Mahal

 Oleh : Wyda Asmaningaju

Dok. Pribadi

 

Secara logika dengan menerapkan pola hidup sehat maka menghasilkan kesehatan yang prima juga. Tetapi itu tidak terjadi pada diri saya beberapa waktu silam saat covid 19 sedang mewabah hampir diseluruh dunia. Secara sekilas kondisi badan tidak kelihatan sakit tapi saya merasakan dari wajah yang tidak lagi memancarkan keceriaan dan terasa sekali saat dibuat aktivitas sedikit saja sudah ngos-ngosan. Maka saya putuskan untuk memeriksakan ke dokter atau rumah sakit.

 

Setelah melalui beberapa pemeriksaan bahkan sampai ceck up lengkap maka saya dinyatakan sehat oleh dokter dan disarankan untuk pulang sambil mengkonsumsi vitamin alami saja karena pada saat itu rumah sakit penuh dengan pasien covid 19.  Merasa belum ada solusi yang menenangkan hati maka saya pulang dengan sejuta pertanyaan.

            “Terus saya sakit apa?”  

 

Sambil berbaring ku ambil handphone yang tergeletak di samping bantal dan asal klik apa saja yang menarik tanpa tujuan. Pada saat saya buka status whatsapp teman lama yang hampir tidak saya kenali wajahnya mungkin saking cantiknya. Bu Yayuk memegang gelas berisi minuman sambil mesam mesem ada beberapa gaya dan ditulis juga minuman sehat bonus cantik.

 

Dengan sejuta rasa penasaran yang berkecamuk saya tahan sebentar untuk mengikuti statusnya besuk dan lusa. Di balik hati yang paling dalam saya menolak apa yang diiklankan itu.

        “Minuman apa itu yang membuat sehat pasti banyak bahan pengawetnya, bukankah sehat melalui makanan 4 sehat 5 sempurna  sudah cukup?”

 

Tidak bisa dipungkiri setelah saya bercermin dengan layar HP sangat kelihatan dari wajah saya tidak sehat. Sambil kuraba kelopak mata yang semakin keriput, mata yang tidak bersinar, kulit yang kusam wah sampai bingung apa yang harus aku lakukan.

 

Akhirnya kuputuskan chat wa dengan Bu Yayuk tersebut menanyakan produk itu dan manfaatnya. Tanpa disangka-sangka disambut dengan suka cita dan  hanya beberapa menit langsung datang bersama mbak Nur ke rumah. Saya diincipi minuman nutrisi (katanya) ada yang dibender dan satunya seperti teh pakai air hangat. Sambil membawa timbangan apalah itu namanya yang berfungsi untuk mengecek lemak tubuh, kadar air dalam tubuh, lemak perut, dan sebagainya. Saya disuruh berdiri saja sudah terdeteksi hasilnya. Maka saya dinyatakan kurang konsumsi air putih dan lemak tubuhnya tinggi yang harusnya sekian bla..bla..bla..

Setelah adzan maghrib berkumandang, mereka berduapun meminta ijin untuk pulang.

 

Setelah sholat maghrib chat wa saya lanjutkan karena memang saya ingin sehat. Betapa kagetnya ketika saya tanya tentang harga setiap produk. Maka Bu Yayuk menjelaskan dengan rinci.

      “Kalau ingin murah bisa member 35% seumur hidup dengan belanja sekitar 8 jutaan nanti dapat banyak produk”

 

Sampai malam pikiran saya tidak tenang sehingga perang batin antara ya atau tidak. Sementara kata suami terserah saya kalau memang butuh sehat ya ambil saja. Uang sebesar itu yang saya keluarkan untuk kesehatan saya, mengapa tidak? Akhirnya pukul 22.00 malam saya transfer ke rekening Bu Yayuk dan seketika diresponnya.

        “Alhamdulillah, semoga Bu Ayu selalu sehat sekeluarga dan rezekinya melimpah.”

 

Keesokan harinya Bu Yayuk membelanjakan uang saya tadi ke agen resmi produk tersebut karena memang tidak dijual di pasaran. Menjelang sore hari mereka berdua datang lagi sambil membawa satu tas besar isi sekitar 23 produk beserta banyak hadiah. Setelah mengeluarkan semua produk mbak Nur menjejerkannya di depan saya sambil menjelaskan manfaatnya. Sejak saat itu saya dan keluarga mengkonsumsi produk itu.

 

Beberapa saat kemudian, Bapak saya yang beda rumah merasakan sakit ketika buang air kecil. Saya mendampingi beliau untuk memeriksakan keluhan ini ke dokter keluarga kami. Setelah melalui chek up lengkap termasuk urin maka bapak dinyatakan terkena batu ginjal dan harus dilanjutkan tindakan ke rumah sakit. Setelah itu saya meyakinkan bapak untuk melanjutkan ke rumah sakit. Tapi rupanya bapak takut karena pada saat itu kalau masuk rumah sakit harus melalui swab dsb.

            “Aku gak mau ke rumah sakit nanti aku di Covid”

Ketakutan bapak beralasan karena memang banyak temannya yang meninggal karena covid.

           “Ya sudah kalau tidak mau ke rumah sakit, tapi bapak harus minum ini ya tiap pagi” kataku sambil menunjukkan produk tersebut.

 

Akhirnya kuputuskan untuk memberi bapak nutrisi yang barusan saya beli dengan teratur. Setiap pagi saya mengantar 2 gelas yang siap diminum untuk sarapan bapak. Alhamdulillah belum sampai seminggu bapak sudah merasakan kalau buang air kecil tidak sakit.

    “Alhamdulillah nak, tadi pagi sepertinya batunya sudah keluar dan sekarang kalau pipis tidak sakit lagi”.

         "Alhamdulillah, Pak kalau begitu dilanjutkan saja minumnya biar tambah sehat.”

 

Keputusanku sudah bulat untuk melanjutkan mengkonsumsi produk ini sekeluarga dengan satu tujuan yaitu sehat. Makanan 4 sehat 5 sempurna juga tidak lupa kami tinggalkan yang memang sudah menjadi pola hidup kami. Setelah beberapa kali belanja ternyata produk ini ada bisnisnya. Sekali dayung 2 pulau terlampaui. Why not? Bisnis yang menantang meskipun saya berstatus pegawai tapi bisa saya lakukan diluar jam bekerja. Lumayan juga sih hasil yang sudah saya capai meskipun hanya sekitar teman sendiri pembelinya.

 

Dengan mengikuti beberapa pertemuan (fokus group) dan pelatihan tentang produk, maka saya semakin paham akan perusahaan pencakar langit ini. Setiap daerah memiliki Presiden team yang tentunya awal dia mengenalkan produk itu di daerah mereka. Perusahaan MLM yang sangat kokoh berdiri di atas kaki para pejuang receh menurut saya.

 

Club nutrisi didirikan setelah adanya kesepakatan waktu yang ditentukan setelah beberapa lama harus nempel club dalam artian bantu-bantu di club atasan. Menurut pengamatan saya banyak dari mereka yang merasa belum mempunyai cukup uang dipaksa atasannya untuk buka club nutrisi sehingga dengan cara apapun alias berhutang sana sini sehingga tujuan itu terwujud. Belum lagi mereka harus keliling setiap hari mencari nasabah sehingga posisinya semakin meningkat.

 

Semakin ke sini saya disadarkan bahwa memang bisnis ini tidak sehat meskipun produknya membuat badan sehat. Akhirnya saya putuskan kembali kepada yang alami dan saya simpulkan di sini bahwa kesehatan itu sangat mahal. Dengan selalu menjaga dan merawat kesehatan tubuh merupakan salah satu upaya mewujudkan syukur kita kepada Allah.

 

 

 

 

 

 

Surabaya, 29 Desember2022

Monday, December 26, 2022

Rindu Pemimpin Bijak

 Oleh : Wyda Asmaningaju

foto Bu Ratih (dok pribadi)


Kehadirannya hampir bersamaan dengan saya di sekolah ini. Jabatan Kepala Sekolah baru saja di terima melalui segudang prestasi akademiknya. Nama lengkap beliau adalah Ibu Hj. Dra.  Ratih Retno Hartati, M.Pd. Tepatnya awal bulan Oktober 2017 beliau menjabat Kepala Sekolah setelah kepulangan melaksanakan ibadah haji di tanah suci bersama suami tercinta.

 

Awal kehadirannya yang mungkin menjadi siraman hujan es yang membuat kesejukan bagi penghuninya.. Tentunya sebagai pemimpin baru ada banyak pihak berebut untuk mencari celah perhatiannya tapi sedikitpun beliau tidak pernah bertindak sembrono. Pertama yang dilakukannya hanya sebagai pengamat tanpa banyak percaya dari berbagai sumber terutama sang pencari muka. Tak jarang banyak laporan di sana sini dari orang yang terkesan peduli beliau tapi sekali lagi hanya diterima selanjutnya melalui banyak proses penyelidikan.


Beliau seakan membangunkan orang yang sudah lama terlelap dalam buaian semilir angin kesejukan. Saya percaya hal itu memang sangat sulit terutama untuk mereka yang benar-benar “tertidur pulas”. Mungkin ini yang dinamakan perjuangan berat dalam kepemimpinan, mulai bawahan sampai staff dilakukannya penertiban tugas masing-masing sesuai tupoksi mereka.

Tentunya Kehadiran Kepala Sekolah baru yang “manantang” ini  banyak mengundang aksi pro dan kontra terutama pemain lama atau senior. Semua wakil dan staff beliau rombak sesuai penilaian pribadi. Mereka yang sudah nyaman dengan kiprahnya tetiba ada pergeseran jabatan dan sebagainya. Tentunya kelompok itu yang sering membuat bumerang di tengah-tengah lajunya ketertiban di sekolah. Saya yang sudah biasa dengan gaya kepemimpinan beliau layaknya dulu masih ikut swasta tidak gentar sedikitpun. Malah saya sangat mendukung setiap program-program yang di tugaskan kepada saya.

Meskipun rumah beliau di Surabaya selatan dan sekolah kami di Surabaya Utara, beliau tidak pernah mengajarkan kami mengenal kata “terlambat” sama sekali. Kehadirannya setiap hari di sekolah sebelum jam 06.00 pagi. Tidak jarang bagi teman yang suka terlambat sering terburu-buru sambil melirik sudah ada Bu Ratih berdiri menyalami anak-anak. Ini yang menjadi teladan kami untuk tidak mengenal kata terlambat.

   Disiplin itu nomer satu yang harus kita tanamkan dalam diri kita mulai sekarang setelah itu baru mendisiplinkan orang lain atau anak didik kita.” Petuah beliau disaat rapat.


Kebijakan yang diterapkan tidak pandang bulu apakah pesuruh atau staff dan membuat kebanyakan orang “kebakaran jenggot” tapi hal ini tidak membuat beliau berkecil hati malah menjadi pemantik untuk selalu bersikap tegas dan disiplin dalam setiap langkah. Keputusan yang diambil benar-benar sudah melalui pemikiran yang ketat sehingga tidak pernah merugikan kami sebagai pelaksana. Tidak jarang beliau menemukan pembangkang yang tidak bertanggung jawab tapi dihadapinya dengan sabar dan tawakal.


Setiap penerima program atau pengemban tugas wajib melaporkan tugas mereka masing-masing. Secara periodik beliau memeriksa setiap laporan yang masuk. Seakan tanpa kenal lelah beliau menjalankan tugasnya dengan enjoy bahkan beliau sering pulang sore karena memang semua urusan baru saja kelar. Seandainya ada yang tidak sesuai beliau selalu menegur dengan cara memanggil di ruangan tersendiri. Sudah menjadi pembicaraan banyak orang seandainya ada yang masuk ruang kepala sekolah berarti orang ini bermasalah.


Tidak jarang beliau mengadakan rapat dadakan terkait evaluasi program yang kadang tidak sesuai dengan rencana. Rapat selalu diawali pemutaran video asmaul husna sehingga memberikan kesan bagi penghuninya adalah semua hal yang kami lakukan ada Allah yang selalu meminta pertanggung jawaban kita sebagai hambaNYA. Dalam rapat beliau sering meminta pertanggung jawaban tentang tugas-tugas yang mungkin belum kami kumpulkan. Untuk sang pembangkang juga tidak kalah pentingnya beliau langsung menunjuk supaya mematuhi aturan yang sudah disepakati.


Dari beberapa sikap dan gaya kepemimpinan beliau menghasilkan sekolah yang nyaman, rindang, tertib, disiplin dan bertanggung jawab bukan hanya siswa tetapi juga seluruh  tenaga kependidikannya. Semakin sedikit guru dan murid yang terlambat bahkan sampai tidak pernah terlambat. Semua bekerja sesuai tupoksi masing-masing tanpa ada pergolakan lagi. Standar Operasional Prosedur (SOP) tidak hanya menempel di dinding tapi sebagai acuan pelaksanaan setiap program. Sumber daya manusia yang sudah terbiasa mengalir deras laksana air sungai memenuhi kewajibannya. Sekolah tertib dan program yang berkelanjutan menjadi idola setiap penghuninya. Banyak melahirkan siswa dan guru berprestasi.


Sayangnya kiprah beliau hanya berjalan sekitar 2 tahun dikarenakan ada rotasi kepala sekolah. Beliau dipindah mendekati tempat tinggal. Kami yang belum puas dengan hasil yang dicapai seakan tidak rela beliau pindah ke tempat lain. Tapi apa boleh buat SK sudah diterima Bu Ratih dan sekarang beliau sudah purna tugas. Semoga perjalanan beliau yang hanya 2 tahun ini menjadikan amal jariyah yang tidak pernah putus. Pesan moral yang penting selalu menjadi cambuk bagi mereka yang mau membaca alam sekitar. Selamat menikmati purna tugas Ibu dan semoga selalu sehat, sukses dunia akhirat.

 

 

 

 

 

Surabaya, 27 Desember 2022

Tuesday, December 20, 2022

Hikmah dibalik Refreshing

 Oleh : Wyda Asmaningaju

          Halaman Liponsos. Dokpri

Beberapa tahun silam saat putra kami masih menjadi siswa di SMP Negeri 19 Surabaya, sekitar satu bulan menjelang Ujian Nasional tradisi yang diterapkan adalah refreshing dengan tujuan menjernihkan kepenatan pikiran yang jenuh, stress yang akan memulihkan kembali stamina yang sudah terkuras oleh beberapa bimbingan belajar yang diikuti di Sekolah maupun di luar.

 

Beberapa kelas lain refreshingnya berupa nonton bioskop, makan di restaurant, mengunjungi Panti asuhan atau panti Jompo, ada juga yang rekreasi di Pantai. Sangat berbeda dengan wali kelas 9D  yaitu Ibu Dian Rachmawati, S.Pd, beliau merencanakan mengajak anak didiknya ke Liponsos (Lingkungan Pondok Sosial) yang di dalamnya menampung, membina dan memberdayakan orang-orrang kurang berutung seperti gelandangan, pengemis, Orang sakit jiwa, PSK, Jompo dan lain sebagainya.

 

Meskipun saya pribadi asli Surabaya tapi selama ini belum pernah datang ke Liponsos. Sebelum kunjungan ke Liponsos diadakan rapat bersama wali murid membahas akomodasi dan lain-lain. Rasa penasaran berkecamuk dalam diri bersamaan dengan wali murid yang lain. Maka saya mengacungkan tangan saat Bu Dian menanyakan kesiapan mobil dan sopir yang bisa mendampingi anak-anak hebat. Sekitar 8 mobil pribadi kepunyaan wali murid yang bersedia membawa mereka menikmati suasana dan pengalaman baru.

 

Pada hari yang ditentukan semua kelas yang didampingi wali kelas dan satu guru pedamping mempunyai tujuan yang berbeda untuk refreshing sejenak. Sekitar pukul 08.00 iring-iringan mobil pribadi yang menuju liponsospun ikut berpartisipasi. Perjalanan memakan waktu kurang lebih 30 menit. Setelah masuk gerbang kami disilakan untuk parkir sepanjang pelataran Liponsos.

Pemandangan yang belum pernah kami lihat sebelumnya. Penghuni disana terutama bagi mereka yang tidak punya keluarga atau sengaja  di buang oleh keluarganya meminta perhatian dari kita. Semua perhatian menuju kepada mobil yang baru saja parkir. Mereka berhamburan menghampiri kita sambil menengadahkan tangan. Bu Dian yang sudah paham dengan kondisi di sana sebelumnya sudah menginstruksikan anak-anak supaya membawa makanan untuk mereka yang terutama tidak punya keluarga. Sambil berbagi makanan di tiap-tiap kelompok, Bu Dian berucap :

            “minta do’anya ya … supaya anak-anak saya lulus dengan nilai memuaskan dan sukses dunia akhirat”.

            “Aamiin” Seketika jawab mereka berbarengan

Salah satu petugas mengarahkan kami ke suatu ruang pertemuan seperti sebuah Hall. Ruang yang sangat rapi dan bersih sekaligus nyaman untuk tamu. Rombongan kami masuk dan disilakan duduk. Salah satu petugas di sana membuka acara ini dengan bacaan bismillah. Kemudian beliau menjelaskan tentang Liponsos adalah tempat rehabiliasi sosial untuk gelandangan, anak berkebutuhan khusus, pengemis, orang jompo, tun wisma, anak jalanan dan lain-lain. Mereka ada yang tidak punya keluarga sehingga keberadaannya di Jalan Raya sehingga diamankan petugas untuk direhabilitasi di tempat ini. Kalau bagi mereka yang punya keluarga setelah mereka dirasa cukup direhabilitasi maka akan dikembalikan pada keluarganya mengingat daya tampung hanya untuk 700 orang. Tapi tidak jarang setelah kami kembalikan mereka balik lagi ke jalanan sehingga petugas membawanya ke Liponsos lagi mungkin lebih kerasan di sini.

 

Tampak Bu Dian sebagai tamu kehormatan disilakan untuk menyampaikan tujuan datang ke Liponsos.

            “Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh”

            “Wa’alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh”

            “Pertama tama kita ucapkan syukur Alhamdulillah rombongan dari SMP Negeri 19 Surabaya bisa hadir di tengah-tengah Bapak Ibu semua. Saya ditemani wali murid, Ibu dosen, Ibu guru mendampingi anak-anak hebat untuk menikmati suasana di Liponsos. Banyak pelajaran yang bisa kita petik di sini selain anak-anak bisa mewujudkan bentuk rasa syukur yang luar biasa. Mengapa saya mengajak kalian ke sini? Sementara teman kalian banyak yang menikmati refreshing dengan bersenang-senang? Kalau bersenang - senang tentunya bisa kalian nikmati setiap hari bersama keluarga tercinta sebab kebanyakan kalian datang dari keluarga mampu. Nah, kalau di Liponsos, saya yakin kalian semua belum pernah mengunjunginya. Dari sini kita bisa wujudkan berbagai pelajaran hidup misalnya rasa empati, rasa syukur, rasa solidaritas, sikap gotong royong dan sebagainya. Kalian wajib bersyukur karena masih punya orang tua yang sangat mencintai kalian dan sangat mendukung cita-cita kalian. Masih banyak saudara-saudara kita yang kurang beruntung sehingga memerlukan kedua  tangan kita untuk selalu berbagi cinta dan material untuk mereka. Mungkin hanya ini yang bisa saya sampaikan, terima kasih atas partisipasi Bapak Ibu wali murid atas dukungan panjenengan dan anak-anak hebat.”

 

Acara terahir adalah penyerahan bantuan sembako dari uang urunan anak-anak yang sangat dibutuhkan oleh mereka. Menurut petugas berapapun dana yang dikucurkan oleh Pemerintah Kota selalu kurang karena penghuni terus bertambah dan biaya operasional selalu naik seirama dengan kenaikan harga sandang dan pangan. Setelah selesai acara salah satu petugas mengantar kami untuk keliling melihat kondisi penduduk Liponsos sambil mengenalkan tiap-tiap kasus yang dimiliki.

Tiba-tiba salah seorang teman putra kami berteriak memanggil anak laki-laki seumurannya yang berada dibalik jeruji besi :

            “Arman…” ucapnya sambil meneteskan air mata

            “Firman..” balasnya tidak kalah keras

Menurut keterangan petugas, Arman diamankan Satpol PP karena ngamen di jalanan.

 

 

 

 

 

Surabaya, 21 Desember 2022

Sunday, December 18, 2022

Rekor MURI vs Orang Penting

 Oleh : Wyda Asmaningaju


Penyerahan piagam Rekor MURI kepada Walikota Surabaya


Hari ini menjadi hari bersejarah untuk kota Pahlawan. Minggu, tanggal 18 Desember 2022 Surabaya mencatatkan rekor dunia MURI (Museum Rekor Dunia-Indonesia) dengan menggelar tari Remo serentak di 10 titik lokasi berbeda yang diikuti 65.945 pelajar SD dan SMP se Surabaya. Pusat lokasi gelaran tari massal adalah di Jembatan Suroboyo. Sebanyak 10.000 penari yang berlokasi di Jembatan Suroboyo, Kenjeran.

 

Cak Eri Cahyadi, Walikota Surabaya dalam sambutannya menyampaikan bahwa tujuan kegiatan tersebut bukan semata-mata untuk meraih rekor MURI saja tetapi lebih melestarikan budaya supaya anak cucu kita mempunyai pribadi yang kuat tidak terpengaruh oleh budaya Luar Negeri. Tari Remo yang berasal dari Jombang, Jawa Timur merupakan tarian penyambutan tamu yang ditampilkan baik oleh satu orang atau lebih.

 

Disini saya akan flash back membicarakan persiapan kegiatan tersebut diatas di Sekolah kami. Kurang lebih seminggu anak-anak dipersiapkan untuk latihan setiap hari setelah class meeting. Bisa dibayangkan hanya dengan waktu seminggu, seperti kebakaran jenggot semua guru, staff dan wakil Kepala Sekolah berperan memanage siswa yang jumlahnya hampir 1000.

 

Awal latihan bersama di lapangan dengan 5 anak di tas panggung diharapkan bisa menjadi contoh gerakannya ternyata hasilnya kurang maksimal karena kurangnya pantauan. Tanpa memiliki pengetahuan dasar menari yang cukup mereka hanya asal-asalan menggerakkan tangan dan kaki.

 

Akhirnya latihan kedua diputuskan untuk kelas 8 dan 9 di kelompokkan di kelas masing-masing dengan pembagian 3 kelas menjadi satu kelompok yang di dampingi oleh wali kelas masing-masing. Alhamdulillah lumayan membuahkan hasil, lebih banyak yang sudah hafal gerakannya terutama siswa perempuan. Latihan per kelompok dilakukan selama 3 hari karena pada hari Jum’at diaksanakan gladi kotor dan Sabtunya gladi bersih.


 

Pak Satiyo sedang mondar mandir di lapangan saat acara Remo massal untuk mengecek suara sound systemnya.


Tidak kalah pentingnya dengan peran guru-guru dan wali kelas, Bapak berputra dua ini sangat sibuk menyiapkan alat-alat elektronik untuk zoom sebelum hari H. Karena H-1 tepatnya hari Sabtu pukul 14.00 WIB dilaksanakan zoom se Surabaya untuk memastikan kegiatan di semua sekolah tersambung dengan kegiatan pusat.

 

Pak Satiyo Jaya adalah seorang petugas kebersihan yang lumayan pintar IT. Beliau juga punya peran penting dalam mensuksekan acara ini. Mulai LCD proyektor, LCD, speaker, TV kabel, laptop, kabel rol dan alat-alat lain yang dibutuhkan diangkatnya sambil mondar mandir ke lapangan tanpa minta bantuan temannya. Tampak petugas Tata Usaha juga membantu mengangkat alat yang belum dibawa Pak Satiyo ke lapangan. Prinsip hidupnya sederhana yang membuat kami salut yaitu “Bekerjalah seperti tuyul tidak dilihat orang tapi hasilnya Jelas”.

 

Memang semboyan ini sering dibuktikan dengan kinerjanya sangat luar biasa. Tanpa banyak bicara dan tanpa mengeluh sediktpun dia sering lembur menyelesaikan tugas yang menjadi tanggung jawabnya. Untuk mempersiapkan tari Remo di atas Pak Satiyo juga menyiapkan sound system yang dibutuhkan di lapangan saat latihan bareng. Keberadaannya tidak kalah penting dengan guru. Tubuhnya yang kecil membuatnya ringan untuk bergerak kesana kemari.

 

Kalau menurut saya Pak Satiyo memang sangat cerdas dan kreatif. Beliau bisa membaca keadaan dan bisa memanfaatkan barang yang tidak berguna menjadi sesuatu yang bermanfaat. Tidak ada waktu sedikitpun yang terbuang saat bekerja. Tangannya yang terampil sering membuahkan terong, labu, tomat dan lombok yang pada akhirnya dinikmati guru-guru. Kolam kura-kura pun disulap menjadi kinclong dengan tangan saktinya. Tanpa komando atau disuruh siapapun dia tanggap dengan situasi. Pada saat Rapat dia sudah menyiapkan alat-alat yang dibutuhkan misalnya microphone, speaker, LCD, laptop  dan lain-lain.

 

Kadang saya guyoni “Pak jenengan itu SK nya sebenarnya sebagai apa sih?”

“SK saya kebersihan bu tapi kalau saya lihat ada yang tidak beres dalam bidang IT, tangan saya gatel bu ingin membetulkan he..he..”

Orang penting tidak harus pejabat yang mempunyai pangkat tinggi dan prestasi segudang. Pak Satiyo merupakan orang penting dibalik layar. Kerjanya totalitas tanpa batas yang bisa menjadi teladan teman seprofesinya. Ikhlas tanpa pamrih, tanpa minta dipuji, tanpa minta dikasihani seakan tidak punya rasa lelah mondar mandir sambil membawa alat-alat yang tidak jarang lebih besar dari ukuran badannya. Pak Satiyo adalah orang yang memiliki posisi utama dalam setiap kegiatan dan kehadirannya selalu bermanfaat buat orang lain.

 

 

 

 

 

 

Surabaya, 19 Desember 2022

 My advertisement in the last week