Saturday, December 31, 2022

Merantau

 Oleh Wyda Asmaningaju

Dok. Pribadi

 

Suasana desa terpencil yang tenang dan damai di Jawa tengah selatan membuat penduduknya semakin beriman dan bertakwa. Sore itu di sebuah ruang tamu tampak Suminah merajuk ibunya untuk mengijinkan kakaknya ikut merantau bersamanya.

        “Bu kalau besuk saat aku balik ke Surabaya mengajak yuk Siti (sebutan mbak yu) bagaimana?”.

        “Tanya sendiri saja mbakyumu”.

        “Yuk Siti…yuk Siti…”.

Tampak dari balik kelambu biru sosok wanita berambut panjang keluar menyambut panggilan adinda tercinta.

        “Ada apa dek?”.

        “Yuk besuk minggu ikut aku ke Surabaya ya daripada di sini gak ada kerjaan tetap”.

        “Ah nanti malah merepotkan kamu dek”.

        “Wis gak usah mikir macam-macam, yang penting sampean dapat pekerjaan tetap di sana”.

        “Ya nduk ikutlah adikmu untuk mencari pengalaman di kota, siapa tahu jodohmu juga orang kota”.

        “Ah Ibu kok sampai jauh pemikirannya. Aku cuma ingin kerja”.

       “La terus apa kamu gak ingin berumah tangga? Umurmu sudah tua lo.. tiga puluh tahun lebih . Lihat si Parmi anaknya sudah dua dan si Kasmini anaknya malah hampir 3”

        “Ya ingin bu tapi kan aku belum ketemu jodohku”.

        “Makanya cepat beres-beres ikut adikmu besuk”.

Gadis polos berwajah cantik dengan rambut lurus panjang terurai itu tidak kuasa menolak permintaan adinda dan ibunda tercinta. Setelah lulus sekolah dia belum pernah bekerja secara formal paling-paling membantu Mak Ti tetangga sebelah rumah matun atau menyiangi gulma di sawah. Keesokan harinya dengan meminta restu dari ayah dan ibu maka mereka berdua berpamitan.

 

Berbekal Ijasah SMA yang dimiliki Siti, kakak Suminah berniat mengadu nasib di kota. Setelah beberapa lama naik kereta mereka telah sampai di Surabaya kemudian menuju kamar kos Sumini yang dekat dengan stasiun Gubeng.

       “Ya beginilah Yuk keadaan di kota. Meskipun aku sudah setahun bekerja tapi masih tinggal di kamar kos karena rumah di sini sangat mahal”.

         “Ya gak pa pa lah yang penting kamu sudah kerja”.

        “Wis sampean sementara tinggal di sini dulu ya sama aku. Kalau mau apa-apa gak usah canggung anggap  rumah sendiri nanti sambil tak carikan info kerja”.

 

Hari demi hari Suminah berusaha mencarikan pekerjaan untuk kakaknya. Setiap temannya ditanya apa ada lowongan yang sesuai dengan ketrampilan yang dimiliki kakaknya yaitu menjahit. Alhamdulillah tidak begitu lama hanya butuh waktu sekitar semingguan ada info suatu toko bahan makanan di pusat kota membutuhkan karyawati lulusan SMA.

 

Dengan melalui beberapa tes maka Siti diterima sebagai pegawai toko bahan makanan. Rasa syukur yang mendalam dirasakan Siti yang belum pernah bekerja sebelumnya, dibuktikannya dengan menerapkan disiplin dalam setiap etos kerjanya. Jam kerjanya pukul 08.00 sampai 16.00 membuat hari-harinya sibuk. Sosok yang santun dan lemah lembut dalam berbicara membuat semua teman salut dan sangat menghargainya.

        “Tolong mbak Siti ambilkan kardus yang berisi gula halus itu ya” Pinta Santi.

        “Iya” Jawabnya sambil mengangkat kardus kecil.

 

Minggu demi minggu dilalui dengan suka cita menikmati pekerjaaan barunya. Genap sebulan Siti merasa tidak enak numpang kos di rumah adiknya terus maka diberanikan diri untuk meminta ijin kos sendiri.

        ‘Dek, aku ingin kos sendiri. Kan aku sudah menerima gaji empat kali”.

        “Sebenarnya gak usah pindah yuk, di sini saja kan gak pa pa wong sampean ya pinter masak”.

        “Sudah lama dek aku ngrepoti sampean saatnya sekarang aku belajar mandiri”.

        “Ya sudah kalau begitu besuk tak carikan kos dekat-dekat sini saja, biar gak jauh dari aku”.

Beberapa hari setelah pulang kerja mereka berdua keluar masuk rumah untuk mencari kos. Akhirnya disepakati sebuah kamar kos rapi dan bersih yang pemilik kosnya tidak tinggal di situ dan lokasinya sekitar 500 meter dari kos Suminah. Tapi kebersamaan mereka selalu tercermin dalam setiap langkah. Disempatkannya hampir setiap hari berkunjung di kos masing-masing.

 

Bulan berganti bulan tidak terasa sudah setahun keberadaan Siti di kota Pahlawan. Di suatu pagi yang cerah saat Siti bekerja seorang temannya bernama Ngatminah berbisik hampir tidak kedengaran.

        “Mbak Siti mau gak tak kenalkan tetanggaku, he..he..’

Meskipun umurnya sudah tergolong dewasa, Siti yang belum pernah merasakan punya teman dekat hatinya berasa dag dig dug.

        “Ah aku takut dek Ngat”.

        “Lo wong kenalan kok takut”.

        “Iya selama ini aku belum pernah kenal dekat dengan laki-laki manapun".

        “Serius aku mbak, siapa tau cocok. Namanya Sumaji dan bekerja di sebuah BUMN. Dia yatim piatu dan sekarang dia tinggal dengan mbahnya yang kaya raya”.

        “Tapi aku ditemani ya dek”.

        “Beres”.

Selang beberapa hari Ngatminah mengatur pertemuan mereka di rumahnya. Menjelang sore itu Siti ditemani adiknya Suminah menuju rumah Ngatminah yang letaknya kurang lebih 3 kilo dari kos mereka dengan naik motor. Sambil meyakinkan kakaknya supaya tidak grogi nanti di depan laki-laki itu maka diajaknya ngobrol ngalor ngidul. Tidak terasa sudah sampai di rumah Ngatminah.

        “Assalamu’alaikum dek Ngat”.

        “Wa’alaikum salam mbak Siti dan dek Suminah, silakan masuk”.

Sambil mempersilakan masuk dan menyiapkan minum dan aneka kue Ngatminah tampak mondar mandir. Setelah semuanya siap maka diapun duduk di sofa pojok sambil mengenalkan Sumaji.

        “Ini mas Sumaji dan ini mbak Siti. Monggo kenalan sendiri”.

Sumaji yang pendiampun mengenalkan dirinya kepada Siti.

    “Begini dek Siti meskipun saya barusan kenal jenengan tapi sudah lama dek Ngatminah ini menceritakan kepribadian jenengan kepada saya jadi saya langsung saja berniat ingin melamar dek Siti untuk menjadi istri saya”.

Siti yang pemalu merasa bingung harus menjawab apa sementara usianya yang tidak muda lagi. Seakan terngiang pesan ibunya sebelum keberangkatannya.  Diberanikan menjawab dengan polos.

        “Tapi apakah mas Sumaji tidak kecewa punya istri orang desa yang sudah berumur seperti saya?”

       “Insya Allah tidak dek. Saya sudah tidak punya orang tua dan sekarang tinggal dengan mbah di sini. Saya bekerja sebagai pegawai rendahan di sebuah BUMN. Kalau memang dek Siti mau, saya akan meminta mbah untuk melamar dek Siti di tempat oang tua dek Siti berada.”

 

Singkat cerita beberapa bulan kemudian dilaksanakan lamaran beserta pernikahan Siti dan Sumaji di desa tempat kelahiran Siti. Pernikahan yang bisa dibilang cukup meriah untuk Bu Watini mengawali punya gawe mantu karena Siti merupakan anak pertamanya. Usia Siti yang lebih tua lima tahun dari Sumaji pun tidak menjadi masalah yang serius. Semua tertutupi oleh kepribadian Siti yang dewasa dan penuh pengertian.


BERSAMBUNG

 

Surabaya, 1 Januari 2023

2 comments:

Salah Paham

Versi Fiksi Mini  Oleh : Wyda Asmaningaju “Saya polisi, kamu telah terbukti bersalah atas nama hukum. Untuk tindakan selanjutnya mohon ikut ...