Oleh : Wyda Asmaningaju
Beberapa tahun silam saat putra kami masih menjadi siswa di SMP Negeri 19 Surabaya, sekitar satu bulan menjelang Ujian Nasional tradisi yang diterapkan adalah refreshing dengan tujuan menjernihkan kepenatan pikiran yang jenuh, stress yang akan memulihkan kembali stamina yang sudah terkuras oleh beberapa bimbingan belajar yang diikuti di Sekolah maupun di luar.
Beberapa kelas lain refreshingnya berupa nonton bioskop, makan di restaurant, mengunjungi Panti asuhan atau panti Jompo, ada juga yang rekreasi di Pantai. Sangat berbeda dengan wali kelas 9D yaitu Ibu Dian Rachmawati, S.Pd, beliau merencanakan mengajak anak didiknya ke Liponsos (Lingkungan Pondok Sosial) yang di dalamnya menampung, membina dan memberdayakan orang-orrang kurang berutung seperti gelandangan, pengemis, Orang sakit jiwa, PSK, Jompo dan lain sebagainya.
Meskipun saya pribadi asli Surabaya tapi selama ini belum pernah datang ke Liponsos. Sebelum kunjungan ke Liponsos diadakan rapat bersama wali murid membahas akomodasi dan lain-lain. Rasa penasaran berkecamuk dalam diri bersamaan dengan wali murid yang lain. Maka saya mengacungkan tangan saat Bu Dian menanyakan kesiapan mobil dan sopir yang bisa mendampingi anak-anak hebat. Sekitar 8 mobil pribadi kepunyaan wali murid yang bersedia membawa mereka menikmati suasana dan pengalaman baru.
Pada hari yang ditentukan semua kelas yang didampingi wali kelas dan satu guru pedamping mempunyai tujuan yang berbeda untuk refreshing sejenak. Sekitar pukul 08.00 iring-iringan mobil pribadi yang menuju liponsospun ikut berpartisipasi. Perjalanan memakan waktu kurang lebih 30 menit. Setelah masuk gerbang kami disilakan untuk parkir sepanjang pelataran Liponsos.
Pemandangan yang belum pernah kami lihat sebelumnya. Penghuni disana terutama bagi mereka yang tidak punya keluarga atau sengaja di buang oleh keluarganya meminta perhatian dari kita. Semua perhatian menuju kepada mobil yang baru saja parkir. Mereka berhamburan menghampiri kita sambil menengadahkan tangan. Bu Dian yang sudah paham dengan kondisi di sana sebelumnya sudah menginstruksikan anak-anak supaya membawa makanan untuk mereka yang terutama tidak punya keluarga. Sambil berbagi makanan di tiap-tiap kelompok, Bu Dian berucap :
“minta do’anya ya … supaya anak-anak saya lulus dengan nilai memuaskan dan sukses dunia akhirat”.
“Aamiin” Seketika jawab mereka berbarengan
Salah satu petugas mengarahkan kami ke suatu ruang pertemuan seperti sebuah Hall. Ruang yang sangat rapi dan bersih sekaligus nyaman untuk tamu. Rombongan kami masuk dan disilakan duduk. Salah satu petugas di sana membuka acara ini dengan bacaan bismillah. Kemudian beliau menjelaskan tentang Liponsos adalah tempat rehabiliasi sosial untuk gelandangan, anak berkebutuhan khusus, pengemis, orang jompo, tun wisma, anak jalanan dan lain-lain. Mereka ada yang tidak punya keluarga sehingga keberadaannya di Jalan Raya sehingga diamankan petugas untuk direhabilitasi di tempat ini. Kalau bagi mereka yang punya keluarga setelah mereka dirasa cukup direhabilitasi maka akan dikembalikan pada keluarganya mengingat daya tampung hanya untuk 700 orang. Tapi tidak jarang setelah kami kembalikan mereka balik lagi ke jalanan sehingga petugas membawanya ke Liponsos lagi mungkin lebih kerasan di sini.
Tampak Bu Dian sebagai tamu kehormatan disilakan untuk menyampaikan tujuan datang ke Liponsos.
“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh”
“Wa’alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh”
“Pertama tama kita ucapkan syukur Alhamdulillah rombongan dari SMP Negeri 19 Surabaya bisa hadir di tengah-tengah Bapak Ibu semua. Saya ditemani wali murid, Ibu dosen, Ibu guru mendampingi anak-anak hebat untuk menikmati suasana di Liponsos. Banyak pelajaran yang bisa kita petik di sini selain anak-anak bisa mewujudkan bentuk rasa syukur yang luar biasa. Mengapa saya mengajak kalian ke sini? Sementara teman kalian banyak yang menikmati refreshing dengan bersenang-senang? Kalau bersenang - senang tentunya bisa kalian nikmati setiap hari bersama keluarga tercinta sebab kebanyakan kalian datang dari keluarga mampu. Nah, kalau di Liponsos, saya yakin kalian semua belum pernah mengunjunginya. Dari sini kita bisa wujudkan berbagai pelajaran hidup misalnya rasa empati, rasa syukur, rasa solidaritas, sikap gotong royong dan sebagainya. Kalian wajib bersyukur karena masih punya orang tua yang sangat mencintai kalian dan sangat mendukung cita-cita kalian. Masih banyak saudara-saudara kita yang kurang beruntung sehingga memerlukan kedua tangan kita untuk selalu berbagi cinta dan material untuk mereka. Mungkin hanya ini yang bisa saya sampaikan, terima kasih atas partisipasi Bapak Ibu wali murid atas dukungan panjenengan dan anak-anak hebat.”
Acara terahir adalah penyerahan bantuan sembako dari uang urunan anak-anak yang sangat dibutuhkan oleh mereka. Menurut petugas berapapun dana yang dikucurkan oleh Pemerintah Kota selalu kurang karena penghuni terus bertambah dan biaya operasional selalu naik seirama dengan kenaikan harga sandang dan pangan. Setelah selesai acara salah satu petugas mengantar kami untuk keliling melihat kondisi penduduk Liponsos sambil mengenalkan tiap-tiap kasus yang dimiliki.
Tiba-tiba salah seorang teman putra kami berteriak memanggil anak laki-laki seumurannya yang berada dibalik jeruji besi :
“Arman…” ucapnya sambil meneteskan air mata
“Firman..” balasnya tidak kalah keras
Menurut keterangan petugas, Arman diamankan Satpol PP karena ngamen di jalanan.
Surabaya, 21 Desember 2022
Kegiatan yg menarik. Sukses selalu....
ReplyDeleteAamiin..terima kasih Bu Mien
ReplyDeleteThis comment has been removed by the author.
ReplyDeleteMenanamkan empati anak melalui kegiatan refreshing religi... Top banget.
ReplyDeleteTerima kasih responnya bu cahyati
Delete