Oleh : Wyda Asmaningaju
Menapaki bahtera rumah tangga yang masih seumur jagung, Siti dan Sumaji sudah menemui beberapa kerikil tajam kehidupan. Dengan keputusan Siti yang berhenti bekerja membuat Sumaji berputar otak untuk bisa memenuhi kebutuhan hidup sendirian tanpa bantuan istri, termasuk memikirkan kontrakan yang sebentar lagi akan habis.
“Dek, saya akan ke rumah mbah untuk menanyakan barangkali ada rumah yang habis kontrakannya.”
“Maksudnya bagaimana mas?”
‘Mbah kan punya banyak rumah yang dikontrakkan, mungkin salah satunya ada yang sudah habis masa kotrakannya. Nah kita bisa tinggal disitu.”
“Apa gak pa pa mas dengan mbakyu - mbakyu kan juga punya hak.”
“Kalau masalah hak ya harusnya aku yang paling banyak. Karena mbah kan punya dua anak. Yang pertama bude atau ibunya mereka dan yang kedua adalah ibuku.”
“Oh..gitu. Tapi aku gak enak mas. Tapi ya terserah njenengan lah.”
“Aku selama ini tidak penah minta apa-apa sama mbah. Lihat Itu mbakyu - mbakyu perhiasannya yang nempel banyak di badan mereka semua dari mbah. Aku cuma dikasih peniti emas itupun kalau anakku pertama perempuan. Ya…Alhamdulillah anakku perempuan.”
Siti hanya melongo sambil membayangkan semua hal yang dilihat dan dirasakan setelah mendengar pengakuan polos suaminya.
“Ya sudah dek, aku pamit ke rumah mbah dulu ya.”
“Iya mas, hati-hati.”
“Assalamu’alaikum .”
“Wa’alaikum salam.”
Dalam benaknya masih berkecamuk seribu pertanyaan tentang suaminya. Sambil merapikan taplak meja Siti dikagetkan dengan tangisan Sarah yang sepertinya terbangun dari tidur. Setengah berlari dibopongnya gadis montok yang lucu itu kemudian ditenangkan.
Beberapa saat kemudian di kediaman mbah putri.
“Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikum salam.”
“Apakah ada mbah, mbak Reni?”
“Itu lagi di dapur.” Reni sambil menunjuk ke arah dapur.
Tanpa panjang lebar Sumaji langsung menuju dapur mencari sosok orang penting baginya.
“Mbah…mbah..”
“Eh kamu..mana istrimu dan cucuku?”
‘Mereka di rumah.”
“Kenapa tidak diajak?”
“Mbah..aku ke sini mau tanya apa ada rumah kosong? Mau tak tempati sekeluarga.”
“Lo..apa kontrakanmu sudah habis? Kan istrimu juga kerja dekat kontrakan?”
“Dek Siti sudah gak kerja lagi mbah.”
“Kenapa?”
“Ah sudah mbah jangan tanya itu.”
‘Kamu pasti buat masalah ya.”
“Ayo mbah jawab pertanyaanku tadi.”
“Pertanyaan yang mana?”
“Aduh… yang kontrakan tadi lo..”
“Sebentar aku tanya mbakyumu dulu. Ayo ikut aku.”
Sambil menggandeng Sumaji ke ruang tamu mbah ti sedikit berteriak kepada cucu lainnya.
“Ren. Ini Sumaji tanya apakah ada rumah yang kosong atau kontrakannya tidak diperpanjang?”
‘Mungkin pak Rusdi yang kontrakannya di belakang itu mbah kurang satu bulan habis dan katanya mau pindah ke desa karena proyeknya sudah selesai.”
“Coba kalian tembusi lagi kalau memang kosong biar ditempati Sumaji sekeluarga.”
“Ya mbah habis ini saya tanyakan.’
‘Ayo mbak sama aku tanyanya biar lega kalau memang sudah habis.”
Bagai dikejar setoran, Sumaji langsung tancap gas mengajak mbak Reni konfirmasi kontrakannya kepada Pak Rusdi. Laksana gayung bersambut, usaha Sumaji tidak sia-sia alias membuahkan hasil. Maka detik itu pun dipastikan bahwa rumah itu sebulan lagi kosong dan akan ditempatinya sendiri. Setelah mendapatinya semua keinginannya maka Sumaji tanpa banyak basa basi langsung pamit pulang.
“Eh.. kamu mau kemana?’
“Pulang mbah. Mau bilang dek Siti tentang ini.”
“Sebentar, ini bawa buat istri dan anakmu.”
Mbah ti menyiapkan bungkusan aneka kue dan masakan buatan sendiri untuk oleh-oleh.
“Ya sudah mbah saya pulang, assalamu’alaikum”
“wa’alaikum salam.”
Dengan hati berbunga-bunga Sumaji menyampaikan berita ini kepada istrinya dengan berapi-api. Singkat cerita mereka akhirnya pindah rumah baru meskipun tampak sedikit pudar warnanya karena sudah lima tahun dikontakkan tanpa di cat ulang. Rumah dengan ukuran 6 x 12 itu dengan dua kamar tidur bawah dan beralaskan jubin biasa serasa cukup untuk keluarga kecil mereka.
Kali ini Siti merasa agak asing karena pindahan rumah bukan kontrak tapi hasil pemberian seseorang yang sedikit dipaksa suaminya. Tapi apa boleh buat penghasilan bersumber pada satu orang dan baginya menurut dengan suami adalah jalan menuju surgaNYA. Selama sang suami tidak mengajaknya ke tempat maksiat.
Rumahnya agak masuk gang kecil tapi masih bisa dilalui sepeda motor. Kampung yang padat membuat Siti harus menyesuaikan kembali dengan tetangga barunya. Hari pertama menempati rumah Siti memasak bubur beras merah dan putih dan selanjutnya diantar sendiri ke tetangga dekat sembari berkenalan. Kehadirannya disambut hangat oleh banyak orang di kelilingnya tanpa memandang asal usul Siti. Sikapnya yang ramah dan penuh tanggung jawab menjadikan orang lain sangat menghargainya. Sementara Sumaji yang memang asli dari kampung itu sikap dan kepribadiaannya sudah diketahui banyak orang. Beberapa menit setelah Siti masuk kamar terdengar suara ketukan pintu
“Assalamu’alaikum…”
“Wa’alaikum salam..” Siti membukakan pintu sambil merapikan jilbabnya.
“Eh mbak Reni dan mbak Danita.. monggo silakan masuk.”
“Ya dek Siti. Kedatangan kami hanya main dan sangat kangen dengan si cantik Sarah.”
“Sebentar ya mbak saya panggilkan.”
Siti masuk kamar sebentar dan keluar lagi sambil menggendong Sarah.
“Ini budhe Sarah nya.”
“Aduh..tambah gemol ya badannya. Pinter ibunya merawat dari bayi paling minim beratnya sekarang sudah gendut.” Cetoteh Reni seraya mencuil pipi Sarah.
‘Iya nih Sarah tambah cantik ya.” tambah Danita.
“Sini sama budhe ya cantik.” kata Reni sambil menyiapkan kedua tangannya untuk menggendong Sarah.
“Eh ngomong-ngomong mana ayahnya?” Tanya Reni sambil memangku Sarah
“Ada di kamar budhe. Mau saya panggilkan ya?”
“Eh gak usah nanti malah ganggu.” cegah Danita
“Dek Siti kalau ingin ikut arisan PKK besuk saya daftrakan ke bu RT.” tambah Danita
“Ya mbak terima kasih.”
“Apa dek Siti masih kerja di toko makanan ya?” tanya Reni
“Saya sudah tidak kerja mbak, karena tidak ada yang ngurus Sarah.”
‘Oh gitu. Ya dek mending ngurus anak sendiri daripada di momong sama pembantu yang tidak jelas.”
“Ya mbak.”
“Sarah.. ini budhe punya sedikit makanan untuk kamu ya cantik.” Kata Reni sambil mengeluarkan beberapa kue dan menyerahkan pada Sarah.
“Terima kasih budhe..” Sahut Siti mewakili anaknya.
“Sudah malam ya.. Sarah mau bobok. Budhe pamit ya.” Kata Reni sambil mengecup pipi Sarah dan menyerahkan Sarah ke ibunya.
“Kami pamit dulu dek, nanti disampaikan dengan ayah Sarah ya.”
“Baik budhe terima kasih banyak atas kedatangannya.”
“Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikum salam.”
BERSAMBUNG
30 Januari 2023
No comments:
Post a Comment