Friday, February 24, 2023

Putus Sekolah

 Oleh : Wyda Asmaningaju


Dok. Pribadi

 

 

Setiap anak memiliki keunikan masing-masing termasuk dalam kemampuan berpikir. Seorang anak yang cerdas memiliki kemampuan berpikir lebih cepat dan tepat. Dia biasanya memiliki sisi kreatif yang tinggi dan mudah berkonsentrasi. Sifat-sifat ini pun dimiliki oleh Arya. Tetapi beberapa kelemahannya adalah susah untuk diajak berkelompok dan cenderung merasa bosan dalam segala hal termasuk belajar serta bermain. Dia lebih suka melakukan pekerjaan sesuai dengan mood nya saja.

 

Suatu malam di kediaman Siti.

“Arya…ayo masuk.. sini belajar sama ayah.”Sumaji memanggil Arya yang dari tadi bermain di lapangan depan rumah.

Mendengar teriakan ayahnya Arya berlari masuk ruang tamu.

“Ayah, aku pingin jadi pemain sepak bola seperti temanku Fikri.” Kata Arya sambil mengguncang pundak ayahnya.

“Disuruh belajar malah minta jadi pemain sepak bola.” jawab Sumaji dengan gusar.

“Ayo yah..Fikri sudah jadi keeper sekarang.”

“Ya besuk sore latihan lagi sama teman-teman nanti lama-lama akan pintar sendiri.”

“Maksudnya aku pingin ikut club sepak bola, seperti kebanyakan mereka.”

“Ah.. gak usah macam-macam, cukup sekolah saja.”

“Ih… ayah pelit. Tidak seperti ayahnya Fikri.” bentak Arya kesal

“Hussh kamu kecil-kecil sudah berani bantah orang tua.”

Hardik Sumaji sembari mendorong tubuh Arya.

Arya yang merasa sakit lututnya karena terjatuh menangis sekencang-kencangnya.

“Ibu…ibu   .ayah jahat…” sambil mengusap-usap lututnya.

Dari belakang Siti yang menemani Sarah belajar melompat  keluar mendatangi suara itu.

“Ada apa Arya sayang?”

“Ayah jahat bu. Tadi mendorong saya.”

“Huussh… tidak boleh ngomong begitu. Apa yang terjadi mas?” Siti menutup pmulut arya dengan lembut sambil mendongak ke arah suaminya.

“Tak suruh belajar malah berani sama aku.  Itu tadi dia ngamuk minta ikut club sepak bola.”

“Anak sholeh ibu. Kenapa marah-marah?” Ucap Siti sambil membelai rambut Arya.

“Habis..ayah pelit. Tuh lihat temanku banyak yang ikut club jadinya pinter main bolanya.” Arya mengusap matanya dengan kaos birunya.

“Arya sabar ya .. ayah bukannya pelit sayang, tapi sementara ini Arya fokus sekolah dulu saja biar tidak terganggu belajarnya.”

Mendengar penuturan ibu yang juga belum bisa memuaskan, Arya masih menyimpan rasa benci terhadap ayahnya. Dia masih terus memiliki kemauan dan keinginan untuk menjadi pemain sepak bola terkenal. Keinginan kuat seorang anak yang biasanya tidak terpenuhi membuatnya menjadi seorang pembangkang.

 

Bulan berganti tahun, Arya sering membuat kekacauan di rumah dan di luar sering berkelahi dengan temannya yang pada akhirnya membuat ayahnya jengkel dan marah. Tidak jarang Arya kena pukul ayahnya baik dengan tangan kosong maupun dengan alat sekenanya. Semakin hari semakin sulit dimengerti apa maunya. Di Sekolah dia jarang masuk kelas bahkan sering nongkrong di kantin saat jam pelajaran.  Seringkali uang sekolah tidak dibayarkannya melainkan dibuat jajan sehingga menumpuk sampai satu semester baru ketahuan setelah rapotan. Sehingga mengharuskan Siti sendiri yang membayarkannya ke Sekolah. Arya bersekolah di SMP negeri karena pada dasarnya anaknya pintar dan cerdas. Melalui rekap kehadiran yang jarang masuk pada ahirnya dari hasil rapat guru-guru memutuskan dia tidak naik kelas. Dengan begitu Arya merasa malu sehingga meminta ibunya mendaftarkan ke sekolah swasta yang kurang ternama sehingga membuat dia semakin banyak berulah.

 

Seiring berjalannya waktu, Arya menjadi seorang remaja yang gagah dengan kumis tipis menghias di atas bibir. Kulitnya sawo matang dengan ukuran tubuh cukup tinggi menjadikannya semakin menawan. Usianya sudah menginjak 17 tahun dan menjadi salah satu siswa kelas 11 di sebuah SMK swasta. Tetapi dengan bertambahnya usia, dia tidak semakin dewasa melainkan semakin banyak kekacauan yang diciptakan.

 

“Apa kamu tidak sekolah Arya?” tanya Sumaji pada suatu pagi.

“Sekolah yah..tapi nanti siang.”

“Bukannya masuknya pagi sekolahmu?”

‘Ya, yah..nanti siang. Sekarang gurunya masih rapat.” Arya sering membuat berbagai alasan yang tidak masuk akal yang terpenting menghindar dari pertanyaan yang membosankan baginya.

Sarah yang sudah 2 tahun menginjak bumi kampus merasakan ada sesuatu yang ganjil terhadap adiknya. Suatu hari setelah perkuliahan selesai dia mendatangi sekolah Arya untuk melihat apakah adiknya berada di sekolah atau tidak. Dengan mengendarai motor, Sarah menempuh jarak yang tidak begitu jauh dari kampusnya. Setelah sampai di depan pintu gerbang, dia mematikan mesin kemudian memarkir sepeda dan menuju kantor kepala sekolah.

“Assalamu’alaikum pak.”

“Wa’alaikum salam. Silakan masuk mbak.” Pak Dirman menunjuk kursi kosong sambil menggeser ke belakang.

“Maaf pak saya mengganggu. Perkenalkan saya Sarah. Adik saya Arya kelas 11 jurusan mesin. Mau menanyakan perkembangan adik saya di sekolah.”.

“Oh kalau begitu saya pangilkan wali kelasnya ya mbak.”

Tidak begitu lama seorang wanita dengan baju biru muda bermotif bunga beberhijab biru tua sudah duduk di samping Sarah.

“Perkenalkan saya Bu Retno wali kelas Arya.” Sambil bersalaman.

“Ya bu saya Sarah, kakaknya Arya. Bagaimana perkembangan adik saya kalau di Sekolah, bu?”

“Kalau melihat rekap kehadiran sepertinya Arya jarang masuk. Ini coba lihat seminggu cuma masuknya 2 sampai 3 hari.”

“Hah.. ada apa dengan Arya?” Serasa dihantam dadanya sesak Sarah kaget sambil menerawangkan pandangan jauh ke belakang.

“Mohon maaf bu, selama ini saya dan orang tua tidak tahu kalau adik saya sering bolos, padahal setiap hari masuk dan memakai seragam sekolah.” Tutur Sarah pilu.

“Begini saja mbak tolong ditanya baik-baik adiknya mungkin punya alasan bolos sekolah.”

“Iya bu terima kasih banyak atas infonya. Saya akan sampaikan ke orang tua. Saya mohon diri sekarang.”

Sarah berpamitan dan menuju rumah dengan perasaan sangat sedih.Antara menjaga hati orang tua dan mengungkapkan kenyataan pahit. Dengan berat hati Sarah menceritakan kepada ayah ibunya tentang semuanya. Seketika Sumaji yang tempramen menanti kehadiran Arya yang sudah lama membohongi dirinya. Hampir menjelang maghrib Arya memasuki rumah dengan berseragam lengkap.

“Arya kenapa kamu bohong!” Sumaji tidak sabar menunggu kedatangannya sambil membawa sapu lidi di tangannya.

“Bohong apa yah?’

‘Kamu sudah lama bolos sekolah. Terus kemana saja selama ini?” Tangannya menyabetkan sapu ke kaki Arya yang spontan menghindar.

“Ya main. Pelajaran di sekolah gak asyik.” Jawab Arya asal-asalan.

“Orang tua cari uang supaya kamu bisa sekolah tapi malah di buat main-main.” Sumaji sekali lagi memukulkan sapu ke tangan Arya.

“Kalau gak iklhas nyekolahkan aku ya sudah tak keluar saja.” Wajah Arya kemerah-merahan sambil menahan sakit.

Dari belakang Siti dan Sarah keluar mendengar teriakan ayah dan anak itu.

“Arya kenapa membohongi kami nak?” Tangan Siti merajuk tangan Arya yang penuh goresan luka.

“Saya sudah muak dengan semua ini, ayah jahat dan tidak ikhlas menyekolahkan aku. Jadi aku keluar saja” Teriak Arya sambil merampas dan membanting sapu lidi yang dipegang ayahnya.

“Kamu sudah berani sama aku.”

“Astaghfirulloh…sadar nak, apa kamu tidak ingin kuliah seperti kakakmu?” Siti memelas dengan nada sedih.

“Gak usah bu daripada buang-buang uang. Biar aku cari jalanku sendiri.” Arya berlalu ke belakang mandi dan ganti baju lalu keluar rumah lagi.

Sarah dan Siti saling berpandangan tanpa bicara hanya bahasa tubuh mereka yang mengisyaratkan kasihan dengan tumbuh kembang Arya. Penidikan dari rumah yang tidak seimbang antara ayah yang keras dan ibu yang lemah lembut membuat adiknya menjadi korban. Seketika Sarah memasuki kamar dan  tangisannya lirih mendekap bantal terus mewarnai malam itu.

 

 

 

 

 

BERSAMBUNG

 

 

 

 

Friday, February 17, 2023

Resensi Supervisi Klinis Untuk Meningkatkan Kinerja Guru

Oleh : Wyda Asmaningaju



Cover buku. Dok. Pribadi

Identitas buku :

a. Judul : Supervisi Klinis Untuk Meningkatkan Kinerja Guru

b. Penulis : Yuni Asdhiani,M.Pd

c. Penerbit : CV. Pustaka Media Guru

d. Tahun Terbit : 2021

e. Tempat Terbit : Surabaya

f. Tebal Buku : 140 halaman

g. Ukuran Buku : 14.8  x 21 cm

h. ISBN : 978-623-308-544-1

 

Buku dengan cover seorang guru ini diperuntukkan dalam meningkatkan kualitas pendidikan dan untuk mengukur keefektifan pembelajaran. Dari judulnya dapat ditebak khalayak yang cocok untuk buku ini adalah para guru. Buku ini dapat membantu para guru dalam meningkatkan kegiatan pembelajaran. Penulisnya merupakan seorang pengawas pendidikan agama islam di Kementerian Agama Kabupaten Bekasi.

 

Buku dengan judul ‘Supervisi Klinis Untuk Meningkatkan Kinerja Guru’ karya Yuni Asdhiani M.Pd. dapat membantu para guru agar mengembangkan tingkat profesionalitasnya melalui perencanaan bersama agar proses pendidikan lebih terstruktur seperti standar yang ditentukan. Supervisi pendidikan merupakan kegiatan yang memfokuskan pada pengkajian situasi belajar mengajar agar pelaksanaan proses belajar mengajar yang dilakukan para guru lebih efektif dan efisien. 


Dasar kegiatan supervisi dilakukan dalam upaya memperbaiki dan mengatur segala aktivitas yang telah terlaksana secara optimal. Supervisi adalah kegiatan efektif yang dilaksanakan oleh ‘mereka’ yang bertanggung jawab melakukannya. Salah satu model supervisi yang dapat meningkatkan profesionalitas guru yaitu melalui pengawasan klinis. Pengawasan klinis sendiri bertujuan untuk memfasilitasi pertumbuhan kinerja guru, terutama dengan mengawasi praktik pembelajaran para guru.


Pada bab selanjutnya dijelaskan bahwa supervisi pendidikan merupakan unsur yang penting dalam dunia pendidikan. Supervisi dalam konteks sekolah tidak hanya diartikan sebagai proses mengawasi dan memperbaiki pelajaran saja, tetapi sebagai proses memperbaiki hasil pembelajaran. Supervisi merupakan kegiatan untuk meningkatkan prestasi akademik peserta didik guna membantu guru dalam meningkatkan kinerja pekerjaan, profesionalitas, dan perkembangan karir mereka. Tujuan supervisi pendidikan yaitu untuk meningkatkan pengajaran ke arah yang lebih baik agar dapat memberikan kualitas pendidikan yang lebih baik.


Supervisi klinis dipelopori pertama kali oleh Morris Moto pada tahun 1960. Penulis juga memaparkan tujuan supervisi klinis adalah meningkatkan pembelajaran dengan membantu guru dalam mengevaluasi pembelajarannya sehingga mencapai tujuan yang lebih efektif. Namun, seperti yang dikatakan penulis tujuan dan sifat pengamatan berbeda menurut yang berpartisipasi dalam observasi. Observasi kelas merupakan suatu kegiatan pengamatan, analisa terhadap proses belajar mengajar yang sedang berlangsung dan juga memberikan informasi kepada guru untuk agar mengambil tindakan untuk meningkatkan pengajaran mereka.

 

Penulis menjabarkan secara garis besar ada tiga tahapan supervisi klinis antara lain : tahap perencanaan atau praobservasi, tahap observasi mengajar, tahap evaluasi dan analisis atau pascaobservasi. Guru dan pengawas pendidikan memiliki tanggung jawab dalam menerapkan kurikulum demi keberlanjutan profesionalitas untuk mencapai tujuan.

 

Pada bab kelima, penulis menyebutkan tentang penilaian kinerja. Definisi penilaian adalah komponen penting dalam melaksanakan pendidikan. Tujuan evaluasi dalam pendidikan adalah untuk meningkatkan kinerja individu maupun lembaga agar terjadi peningkatan kinerja pada saat dilakukan penilaian. Salah satu penilaian yang digunakan dalam menentukan kemampuan atau kinerja seseorang adalah penilaian untuk kerja. Penilaian untuk kerja merupakan proses pengumpulan data dengan cara pengamatan yang sistematik untuk membuat keputusan kinerja suatu individu. Tes performa atau kinerja berkaitan dengan hasil keterampilan, yaitu untuk menilai keterampilan kinerja faktualnya. Penilaian kinerja difokuskan pada produk dan produk maupun keduanya. Prosedur dan produk dinilai menggunakan check list atau rating skala. Tingkatan rating skala untuk menilai kualitas baik yaitu skala 5 atau skala 7.

 

Pada bab selanjutnya dipaparkan tentang kinerja guru Pendidikan Agama Islam. Guru Pendidikan Agama Islam tersebut mengajar mata pelajaran Agama Islam yang terdiri dari Al-Qur’an, Hadits, Fiqih, Aqidah, Akhlaq, Aswaja dan Sejarah Kebudayaan Islam. Di sini penulis mengemukakan paling sedikit ada lima pendekatann yang harus di ketahui guru agar bisa mengajar dengan baik. Pendekatan pembelajaran menurut E Mulyasa (2011) tentang kompetensi, menurut Rohmatika (2017) tentang perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi pembelajaran), menurut Supardi (2011) tentang komponen proses pembelajaran, menurut Thomas (2014) tentang perencanaan dan penyampaian pembelajaran, dalam petunjuk teknis kinerja guru PAI (2017) yang terkait dalam pembelajaran guru PAI.

Pada bab ke tujuh, penulis mendefinisikan karakteristik pembelajaran yang efektif pada observasi kelas yaitu proses perilaku dan hasil belajar siswa. Di sini penulis menggunakan tabel untuk mengukur karakteristik pembelajaran pada observasi kelas. Ada beberapa indikator yang digunakan diantaranya adalah  pembelajaran aktif, teknik bertanya, diskusi teman sebaya, instruksi terpusat pada siswa dan masih banyak lagi.

 

Pada bab selanjutnya, penulis menyatakan salah satu masalah dari penilaian kinerja adalah skala peringkat. Hal ini jika ada dua penilai atau lebih dalam proses pemeringkatan. Penilaian kinerja biasanya menggunakan item tanggapan yang dibangun, yang mengharuskan peserta memilih jawaban yang benar dari alternatif yang diberikan. Alat ukur yang digunakan tentunya harus valid dan reliabel sehingga memberi hasil yang konkrit.

 

Buku ini sangat bermanfaat untuk memperbaiki kinerja guru serta dalam peningkatan pembelajaran melalui siklus perencnaan yang sistematis, observasi dan analisis kinerja pengajaran dari peristiwa di kelas.Sehingga, diharapkan proses belajar mengajar dapat lebih linier dengan amanat undang-undang.

 

Dibalik hal tersebut, instrumen supervisi klinis tersebut juga harus diimbangi dengan kesiapan sumber daya manusia dari pihak guru maupun pengawas dalam menjalankan 23 instrumen supervisi klinis seperti yang dijabarkan dalam buku ini.

 


Wednesday, February 15, 2023

Menyikapi Perbedaan

Oleh : Wyda Asmaningaju 

 

 

Dok. Pribadi

 

Waktu berjalan begitu cepat, dua balita itu pun kini sudah menjadi pelajar di sebuah Sekolah Dasar yang sama. Sarah sudah kelas 6 dan berusia 12 tahun  sedangkan adiknya kelas 3 dan berusia 9 tahun. Kehidupan dua bersaudara ini tumbuh dan berkembang dengan penuh kasih sayang dari ibunda sementara ayahanda jarang sekali menyapa kehadiran buah hatinya di saat dirinya dibutuhkan.  Siti yang dengan setia mengantar sekaligus menjemput mereka, hanya dengan berjalan kaki mereka sudah sampai di sekolah. Sarah yang selalu rajin belajar mengakibatkan dirinya selalu meraih juara kelas. Sementara Arya yang memang pada dasarnya seorang anak cerdas meskipun tidak pernah belajar tetapi nilainya selalu sangat baik. Tidak kalah dengan pendidikan umum, Siti juga memberikan mereka pendidikan agama mulai dini dengan menitipkannya di sebuah Taman Pendidikan Al-qur’an (TPA) dekat rumah mereka. Pada suatu hari ada lomba menghafal surat pendek beserta artinya. Semua peserta menyiapkan dirinya tidak terkecuali Sarah dan Arya.

“Ibu..aku sudah menghafal surat ad-dhuha dari kemarin tapi masih belum hafal.” Keluh Sarah sambil menutup buku iqro’ nya.

“Jangan putus asa sayang, ayo ibu bantu menghafalnya.” Siti meminta buku dari Sarah dan membimbing dengan sabar.sementara Arya yang sibuk dengan kegiatannya di luar rumah bersama teman-temannya. Jarum jam menunjukkan angka 9 tampak Arya memasuki rumah dengan setengah berlari.

“Arya..dari mana saja nak?” Siti menutup buku iqro’ Sarah dengan sedikit berteriak.

“Main bu sama Iwan dan Banu.”

“Apa tidak belajar menghafal surat Asy-Syams untuk persiapan besuk?” Siti bertanya untuk kesekian kalinya.

“Gak usah belajar bu besuk pasti bisa.” Keyakinan Arya yang sudah terbiasa tidak belajar.

 

***

 

Saatnya Lomba menghafal surat pendek diselenggarakan tepat ba’da sholat ashar. Panitia membuka acara dengan bacaan basmalah dan kegiatan diawali dengan pembacaan ayat suci al-Qur’an. Suara qori’ menggema menembus arsy melangitkan do’a anak-anak sholeh sholehah yang siap dalam mengasah kecerdasan otak dalam menghafal ayat al-qur’an. Selesai pembacaan ayat suci dan terjemahannya, acara dilanjutkan dengan beberapa sambutan dari ketua penyelenggara dan pengurus TPA. Kemuadian dilanjutkan dengan lomba yang ditunggu-tunggu. Semua peserta berjumlah 34 dengan wajah yang beraneka ragam, ada yang ragu, biasa-biasas saja dan percaya diri untuk tampil di depan panggung yang lumayan luas itu. Tidak terkecuali dengan Sarah dan Arya yang saling support. Sarah merasa agak gugup sebelum namanya dipanggil.

“Kak..jangan gugup, nanti hafalan kakak hilang semua!” Arya mencoba menegur kakaknya yang dari tadi murung tanpa ekspresi.

“Iya dek, tapi aku gak bisa santai kayak kamu.” Tangan dingin milik Sarah memegang lengan Arya yang lebih besar.

“Nyantai kak,”

 

Tibalah saatnya namanya dpanggil. Sarah mengucap bismillah dan meluncur menaiki panggung. Di awali dengan mengucap salam dan seketika Sarah melafalkan surat Ad-dhuha dengan lancar. Hampir di akhir ayat, dia lupa dan berhenti sejenak kemudian dilanjutkannya dengan suara pelan seakan tidak yakin.

Satu per satu peserta tampil setelah selesai semuanya, sambil menunggu dewan juri memutuskan juaranya maka diselingi dengan tampilan beberapa penghafal al-qur’an dan qasidah dari anggota. Suasana panggung yang meriah sangat menghibur banyak peserta yang sudah tidak sabar menanti pengumuman pemenang. Dalam hitungan menit selesai hiburan, maka ketua panitia mengumumkan para pemenangnya.

“Hadirin yang dimulykan Allah, tibalah saat yang dinanti, saya atas nama panitia akan mengumumkan pemenangnya. Bagi yang sudah mendapat juara saya mohon untuk tidak berhenti sampai di sini belajarnya, dan bagi yang belum beruntung lebih giat lagi dalam belajar” Mahmud membacakan juara paling akhir yaitu harapan 3 sampai juara 2.

“Apakah Bapak Ibu dna adik-adik penasaran dengan juara pertama? nah saya panggilkan Arya Budi Santoso dengan bacaan surat Asy-Syams nya yang sangat luar biasa.” Lanjut Mahmud sambil meminta Arya untuk naik panggung. Tepuk tangan hadirin yang sangat meriah mengapresiasi para pemenang yang tampil di atas panggung. Siti yang juga hadir menyaksikan acara demi acara dengan hati berdebar terutama pada saat melihat tampilan kedua anaknya yang memiliki perbedaan kecerdasan dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Arya dengan bangganya menenteng piala penghargaan menuju ibunya yang duduk berada di kursi belakang.

“Bu..aku dapat piala.”

“Alhamdulillah.. anak sholehku” Siti meraih kening Arya dengan bibirnya sambil meendo’akan.

“Aku sudah bilang kakak supaya tidak gugup, nah akirnya kakak jadi lupa bacaannya.”

Sarah yang kehilangan senyum dari tadi hanya bersandar pada pundak ibunya. Tangan Siti yang lembut membelai jilbab Sarah sambil berucap.

“Gak apa-apa sayang, dalam setiap pertandingan pasti ada yang kalah dan menang. Itu hanya sebuah permainan jadi jangan terlalu sedih kalau kalah dan jangan terlalu bangga kalau menang.

“Tapi aku sudah berusaha bu menghafal. Saat tampil tiba-tiba hafalanku hilang.” Tanpa terasa air matanya beraair.Siti dengan lembut mencoba menenangkan Sarah dengan menawarkan sesuatu.

“Ayo sayang setelah sholat maghrib kita jalan-jalan di taman kota ya!”

“Gak mau bu, aku mau pulang dan belajar untuk besuk.” Tolak Sarah sambil merapikan jilbabnya.

Tanpa pikir panjanglagi, Siti menggandeng dua buah hatinya untuk pulang.

 

Suatu malam di kediaman Siti.

‘Ibu …adik ganggu aku lagi belajar nih.” teriak Sarah sambil menutupi bukunya dengan telapak tangannya.

“Arya..kenapa sayang?”

“Aku cuma lihat bukunya kak Sarah yang penuh dengan warna kuning dan hijau.”

‘Bohong…kamu mencoret bukuku. Sana nulis di bukumu sendiri.” Usir Sarah sambil mengambil bukunya Arya.

“Sudah sayang.. Arya kalau bukunya mau warna-warni kayak kak Sarah ini pakai stabilo.” kata Siti sambil menyerahkan Stabilo.

Dengan cepat Arya membuka tutup stabilo dan mencoret-coret bukunya.

‘Eh…Arya sayang, yang diberi warna bukan semua tulisan tapi yang penting-penting saja.”

“Ah bosen bu..kalau buat warna ini terus, sekarang aku mau main.” kata Arya sambil berlalu.

“Adik enak ya bu.. gak pernah belajar tapi nilainya selalu bagus.” protes Sarah dengan cemberut.

“Sarah sayang..Allah menciptakan semua makhluknya lengkap dengan kelebihan dan kekurngannya. Nah setiap manusia wajib menggali kelebihan yang ada pada dirinya. Mungkin sekarang adik masih sering bosan belajarnya, mungkin kalau sudah besar tambah rajin belajarnya kayak kakaknya.”

Mempunyai dua buah hati yang saling melengkapi merupakan idaman untuk keluarga kecil ini.

 

BERSAMBUNG

 

 

 

 

Monday, February 6, 2023

Kelahiran Anak kedua

 Oleh : Wyda Asmaningaju


Dok. Pribadi


Kehamilan kedua Siti sedikit berbeda dengan yang pertama. Kondisi ekonomi yang sangat kurang mengharuskan dia menata rapi pundi-pundi uang yang sudah diberikan oleh suaminya dalam sebulan. Sarah yang masih butuh asupan gizi berupa susu formula untuk tumbuh kembangnya menjadi kebutuhan prioritasnya. Sementara ayah dan ibunya hanya bisa makan seadanya. Siti yang sudah terbiasa makan sayuran tanpa lauk kondisi seperti ini sedikitpun tidak menjadikan dirinya terheran-heran bahkan sampai kaget. Tapi bagi suaminya yang memang tidak mau tau kondisi keuangan, setiap makanan yang disajikan harus ada lauk dan selalu ganti dalam sehari.

 

Bulan berganti bulan kehamilan Siti mendekati hari persalinan. Badan Siti semakin kurus akan tetapi perutnya saja yang kian membesar. Secara rutin dia periksakan ke bidan terdekat dalam rangka juga menghemat pengeluaran. Dalam hitungan 30 minggu usia kehamilan yang mestinya jnain sudah masuk ke dalam jalan rahim tetapi beda dengan janin Siti yang masih belum masuk. Sampai suatu saat pada hitungan 36 minggu Siti mulai kesakitan dalam beraktifitas di pagi itu. Untungnya Sumaji masih belum berangkat kerja. Perutnya semakin mengencang dan terasa sangat sakit. Secepat kilat Sumaji mencarikan becak untuk mengantar istrinya ke bidan yang tidak jauh dari rumahnya. Tidak begitu lama mereka sudah berada di depan rumah bidan Jumadi. Dengan tergopoh-gopoh Bu Jumadi menyilakan mereka masuk lewat halaman depan kemudian memasuki ruangan bersalin. Dia sibuk menyiapkan kebutuhan persalinan Siti seperti air hangat, waslap, handuk bayi, sarung tangan, gunting dll. Setelah melalui beberapa pemeriksaan lanjut, maka bidan itu pun mengatakan.

“Bu ini bayinya belum masuk jalan lahir. Nih bokongnya yang di bawah bukan kepalanya, mungkin nanti lahirnya sungsang.” jelas bidan sambil memegang dan sedikit menggoyang bagian bawah perut Siti.

Siti yang merasakan perutnya semakin sakit hanya bisa mengangguk sambil berdzikir dan pasrah kepada Allah Azza Wajalla.

Sambil mengelus perut Siti, bidan itu berucap lirih.

“Ayo anak baik..lahirlah dengan normal kasihan ibumu yang terus merasa kesakitan karena posisimu tidak normal.”

Bak mantera yang sakti, maka kalimat itu pun diulang terus menerus. Kontraksi yang dialami Siti sudah sekitar lebih dari lima jam yang harusnya mendekati kelahiran. Pembukaan sudah hitungan ke sepuuh tapi bokong bayi masih berada di bawah, otomatis tidak ada usaha dari bayi untuk keluar. Melalui perjuangan yang sangat kuat akhirnya bayi itu bisa keluar dalam kondisi sungsng.

“Alhamdulillah.. akhirnya kamu keluar juga anak ganteng.” Seru bu bidan sambil meluruskan kaki bayi.

“Alhamdulillah..anakku selamat.” kata Siti lirih.

‘Maaf ya bu terpaksa saya gunting jalan lahirnya karena sampai pembukaan terakhir dia tidak mau berubah posisinya.” Bu Bidan merasa lega dengan keadaan bayi sungsang yang hanya melalui cara tradisional bisa keluar.

“Saya hanya bisa pasrah bu bidan. Panjenengan yang lebih tau mana yang terbaik buat saya dan bayi saya.” kilah Siti seraya mengusap keringat di keningnya.

“Sabar ya bu, ini saya dulukan merawat si ganteng baru setelahnya saya mengobras jenengan he..he..” jelas Bu bidan sambil terkekeh.

 

Setelah semuanya diselesaikan maka Sumaji di panggil masuk ruangan untuk mengadzani anak keduanya.

Melihat jenis kelamin anaknya laki-laki betapa gembiranya dia pada saat itu. Pandangannya menerawang jauh seakan menembus cakrawala. Bayangan seorang ayah berkejar-kejaran dengan jagoannya sampai-sampai dia terbatuk dalam berlarian yang pada akhirnya sang ayah menyerah kalah. Di raih tangan kecilnya seakan menyerahkan estafet kepemimpinan yang akan ditinggalkannya. Tampak dari bola mata yang tajam dan kulit sawo matang serta panjangnya 51cm, dia akan menjadi lelaki kekar. Harapannya untuk mempunyai anak laki-laki terpenuhi seakan melengkapi kebahgiaan yang mewarnai keluarga kecil itu. Bayi mungil itu pun diberi nama Arya Budi Santoso. Harapannya menjadi anak yang berbudi luhur dan berjiwa kstaria.

 

Setelah pulang ke rumah.

 

Baru saja Siti meletakkan tas besar isi barang-barang Arya, dari pintu yang belum sempat dtutup bermunculan lima tetangga dekat yang ingin menikmati bersama kebahagiaannya.

“Sehat dek Siti.” Ucap Farah

“Alhamdulillah mbah Farah sehat.”

“normal ya lahirnya?”

“Alhamdulillah iya normal, tapi lahirnya bukan kepala dulu tapi bokongnya.” Ungkap Siti tanpa malu.

“Subhanalloh..kekuasaan Alloh sedikitpun tidak bisa di fikirkan oleh akal manusia.”Ucap Farah sangat senang mendengar kelahiran sungsang tanpa operasi.

“Iih gantengnya. Kulitnya kayak ayahnya dek.” Puji Endang sambil mendekatkan pipinya ke bayi mungil itu.

“Ya satu sama he..he.. Sarah kulitnya putih kayak dek Siti sedangkan ini kayak ayahnya gelap.” tambah Herna ngakak.

“ngomong-ngomong namanya siapa mbak?” Tanya Yani penasaran.

‘Arya Budi Santoso.” jawab Siti singkat.

“Lama gak dek lahirnya?’

“Sebenarnya pembukaannya tidak lama, berhubung kepala di atas sehingga anaknya tidak bisa mendorong jalan lahir maka di gunting he..he..” Jelas Siti tersipu.

“Berarti lahirnya sungsang ya.” sahut Yayuk menyimpulkan.

“Ya mbak yayuk begitulah.”

“Biasanya kalau lahirnya sungsang anaknya nakal gedenya.” Tambah Yayuk meyakinkan.

“Huushh mbak yayuk ngawur.’ tepis Yani mengelak.

“Iya nih..kita ke sini untuk menikmati kesenangan lahirnya adiknya Sarah, bukan malah mendo’akan yang jelek.” Endang menjelaskan sambil sedikit marah.

“Bukan mendo’akan jelek maksudku. Maaf..maaf dek Siti bukan itu maksudku.” Kata Yayuk sambil mengatupkan tangannya.

“Ya mbak gak pa pa. Silakan diminum seadanya ” Jelas Siti menutup pembicaraan.

 

 

Memiiki dua putra putri yang masih balita tidak mudah bagi Siti dalam membagi waktu. Dia benar-benar harus menjaga kesehatannya supaya bisa semaksimal mungkin mengurus suami dan anak-anaknya. Dari bangun tidur Siti menyiapkan air hangat untuk memandikan Sarah dan Arya. Setelah bergantian memandikannya dia menyiapkan pakaian ganti untuk suami sebelum mandi. Setelah beres semuanya dia mulai mengeksekusi bahan masakan untuk dijadikan masakan sehat dan terlezat buat dinikmati sekeluarga. Setelah sarapan dia bergerak lagi ke dapur untuk mencuci peralatan masak dan melanjutkannya dengan mencuci pakaian.

 

Saat suaminya bekerja, Siti tidak pernah keluar dengan dalih main ke tetangganya. Rumahnya sering tertutup rapat seakan tidak berpenghuni. Dia tidak membiasakan dirinya untuk ngobrol sedikitpun tanpa tujuan jelas seperti yang dilakukan kaum hawa pada umumnya di kampung padat.

 

Memberikan asi eksklusif untuk Arya juga merupakan ikhtiarnya untuk menjaga hubungan kedekatan ibu dan anak selain memberikan nutrisi terbaik. Apalagi dia sekarang tidak bekerja pasti bisa menyusui selama dua tahun tekadnya.

 

 

BERSAMBUNG

Saturday, February 4, 2023

Ketika Mendapat Rezeki

 Oleh : Wyda Asmaningaju

Dok. Pribadi



Di suatu pagi yang sedikit berawan abu-abu selepas keberangkatan suaminya  bekerja, Siti hendak masuk untuk melanjutkan olah raga paginya yaitu mencuci, masak, setrika dan bermain dengan Sarah. Tetiba ada suara ketukan pintu berbarengan.

“Sarah…Sarah…”

“Ya … siapa ya? Sahut Siti sambil membuka pintu.

“Eh ada budhe Reni dan budhe Danita. Silakan masuk budhe.”

Tampak kedua budhe Sarah berpakaian seperti tidak biasanya dengan tas jinjing besar.

“Ayo dek kita refreshing..” ajak Reni.

“Maksudnya apa budhe?” tanya Siti dengan heran.

“Maksud kami mengajak dek Siti dan Sarah ke pantai sekarang. Kasihan Sarah sudah sebesar ini belum pernah diajak ayahnya jalan-jalan.” Danita menjelaskan sambil mengeluarkan Hp dari kantongnya.

‘Tapi mbak, mas Sumaji masih bekerja dan saya tidak berani keluar tanpa ijinnya.” Wajah Siti memelas takut dengan suaminya.

“Sudah..ijin lewat telpon saja.” jelas Danita sambil memberikan Handphone miliknya.

Dengan keberanian yang terpaksa akhirnya Siti mencoba menghubungi suaminya dan meminta ijin untuk pergi ke pantai bersama kakaknya berdua. Hp yang sudah di speaker atas permintaan Danita pun berdering.

“Hallo dek, mana mbak Reni tolong berikan telponnya. aku pingin ngomong.” Sumaji ragu sejenak kemudian dibayangkan wajah Reni dan Danita yang sudah lama dikenalnya.

Siti memberikan telpon genggam kepada Reni.

“Hallo dek Ji. Ini dek Siti dan Sarah mau tak ajak ke pantai ya? Paling gak sampai sore. Nanti dek Ji pulang kita sudah balik.” ungkap Reni memaksa.

“Ah mbak Reni… Sarah kan masih kecil mana tau kalau harus diajak ke pantai?” Sumaji berusaha menghentikan niatan mereka mencampuri urusan rumah tangganya.

“Justru karena tidak pernah diajak ayahnya jalan-jalan makanya kami ajak.” Danita yang dari tadi diam kini melemparka kata-kata pedas.

“Ya sudah mbak kalau gitu. Tapi hati-hati ya dengan Sarah.” Sumaji menutup telpon dengan hati kesal. Enggan lagi berdebat dengan Reni dan Danita.

“Beres..pasti kita ekstra hati-hati.”

Begitu telpon ditutup maka Siti bergegas untuk bersiap-siap meluluskan permintaan budhenya Sarah yang berhati mulia. Mulai berhenti kerja, dia tidak pernah lagi merasakan udara di luar meskipun hanya menikmati suasana taman kota. Yang ada dalam benaknya hanyalah mengatur lalu lintas keuangan supaya rapi dan teratur.

Tidak begitu lama Siti sudah kembali membawa Sarah dengan kaos orange bercelana jeans dan bersepatu putih. Rambutnya yang ikal dikuncir bak air mancur menambah gemes bagi yang melihatnya.

“Waduh..ponakan budhe cantik bener ya..sampai-sampai budhe pangling gak ngenali..” goda Reni.

“Iya nih..gemes ya mbak lihat Sarah.” tambah Danita.

Siti hanya tersenyum simpul bingung dengan apa yang akan dilakukan. Sisa uang belanja masih ada untuk 2 hari, lalu bagaiamana nanti kalau Sarah minta jajan? Secepat kilat ditepisnya semua pikiran yang tidak beralasan supaya tidak tampak di depan mereka.

“Ayo Sarah..gendong budhe.” pinta Reni sambil memberikan tangannya untuk Sarah.

‘Nanti gantian ya mbak.” sela Danita

‘Beres..”

Begitu mereka berempat keluar dari gang kecil menuju jalan raya, sebuah mobil toyota rush yang dikemudikan Pak Mahdi sopir pribadi mbah putri menjemputnya. Tampak Reni duduk di samping sopir kemudian Siti, Sarah dan Danita duduk di bangku kedua. Laju mobil itu tidak terlalu kencang bahkan sampai membuat Sarah terlelap dalam suasana hening dengan dinginnya AC.

 

Perjalanan hanya memakan waktu kurang lebih satu jam menuju pantai. Angin berhembus sepoi seakan membuat pengunjungnya terpesona oleh keindahan alam ciptaan sang Maha Agung. Pemandangan laut kebiruan yang memberikan ketenangan batin dan pikiran. Angan Siti melayang jauh merindu pada suasana desa yang sudah ditinggal cukup lama. Kemilau birunya air laut yang jernih terkena sinar mentari seakan tampak semua isinya. Birunya cakrawala mewarnai hamparan luasnya sawah bak lukisan terindah dari sang Maha Agung. Tawa, canda, gotong-royong dan saling berbagi merupakan ciri khas penduduk desa. Ah..itu hanya lamunanku. Tepisnya.

 

Mobil putih itu pun berhenti di tempat parkir tepat di samping pantai. Semua penumpangnya keluar termasuk Pak Mahdi sambil menutup pintu mobil dan menguncinya. Sarah yang sudah terbangun heran melihat sekelilingnya ada banyak orang.

Bergantian Reni dan Danita menggendong Sarah sambil bermain pasir dengannya. Tampak Sarah sangat senang dengan suasana yang belum pernah dia kunjungi sebelumnya. Siti hanya membututi perginya mereka serasa tersimpan perasaan sungkan. Sesekali dimintanya Sarah takutnya malah membebani tapi sekalipun tidak diijinkan Siti untuk mengambilnya. Tidak terasa waktu begitu cepat sudah siang menjelang sore mereka pun akhirnya pulang dengan perasaan amat bahagia. Dalam perjalanan pulang Sarah juga tertidur pulas mungkin kecapekan.

 

 

Suatu sore. 

 

“Bagaimana Sarah tadi di pantai?”

“Alhamdulillah.. kelihatannya sangat senang mas. Itu budhenya pada rebutan gendong.”

“Tapi gak boleh sering-sering ikut orang dek, nanti jadi keterusan enak.” protes Sumaji yang tidak bisa langsung menghentikan tindakan licik mereka menurutnya.

“Tapi aku sudah bilang gak berani kalau jenengan kerja, tapi mbak Reni maksa.” Siti memelas tidak mau disalahkan.

“Ya memang mereka senengnya maksa. Gak ngerti kalau gajiku sedikit cuma cukup buat makan. Kalau Sarah suatu saat minta seuatu diluar kemampuanku bagaimana?” Ucap Sumaji sambil melempar kaos singlet nya.

“Ah .. Insya Allah tidak mas.” Siti berusaha mendinginkan suasana dengan membuatkan teh manis dan kue buatan sendiri.

“Kamu gak ngerti mbak Reni seperti apa. Jangan percaya kebaikan semu dek. Semua itu sama saja merendahkan aku di depan Sarah.” jelasnya panjang lebar disertai bibirnya yang mengerucut.

“Astaghfirulloh.” Siti mengelus dadanya.

 

Beberapa saat kemudian.

“Mas..sekarang badanku terasa tidak enak dan kepalaku pusing.”

“Kenapa kamu dek?”

“Gak tau… sepertinya sedikit lemas karena sepulang dari pantai tidak kemasukan makanan sama sekali karena setiap makan terasa pahit dan akhirnya pasti muntah.”

“Paling masuk angin, sana minum obat.”

Sambil berbaring Siti menutupi badannya dengan selimut karena menggigil.

“Mas..badanku panas tapi terasa dingin.’Ucap Siti gemetar susah mengatupkan bibirnya.

Melihat pemandangan itu Sumaji tidak tega pada istrinya, meskipun baru saja membicarakan Reni akhirnya sekarang dia butuh pertolongannya. “Ya sudah kalau begitu kita ke dokter saja. Kita titipkan Sarah pada mbak Reni.”

 

Setelah mendengar ucapan suaminya, maka Siti bergegas untuk memeriksakan keadaannya. Dikuat-kuatkan menggendong Sarah untuk dititipkan ke rumah mbak Reni yang kurang lebih 100 meteran dari rumahnya. Selanjutnya mereka berdua berboncengan menuju ke dokter praktek yang jaraknya sekitar 2 km. Tidak begitu lama mereka sudah berada di teras ruangan praktek.  Sumaji mendaftar ke loket kemudian tidak lama sudah dipanggil.

 

“Ibu Siti Sholehah.. sillakan masuk” Kata penjaga loket.

“Ya mbak, terima kasih.” Jawab Sumaji singkat.

Siti ditemani Sumaji masuk ke ruangan dokter dan duduk bersebelahan tepat didepan meja dokter.

“Silakan duduk.” kata dokter sambil mempersilakan mereka.

“Ya dokter.. ini istri saya badannya tidak enak katanya seperti menggigil tadi.”

“Silakan Ibu berbaring sambil saya periksa.”

Setelah beberapa saat melalui pemeriksaan intensif maka dokter Bambang mengatakan sesuatu.

“Apa ibu hari ini tidak menstruasi?”

“Benar dokter. Biasanya saya mens setiap tanggal 15 tapi sekarang sudah tanggal 17 masih belum dapat.”

‘Sepertinya ibu hamil kurang lebih sudah  2 minggu.”

“Haah…saya hamil?”

“Lo kok hah..bukan Alhamdulillah..”

“Uupps. Maaf dok tapi anak pertama saya masih kecil bulan depan usianya 28 bulan, dan saya barusan menyapihnya.” Jelas Siti sambil menutup mulut dengan tangan kanannya.

“Bagaimana ini pak? Ini ibu merasa keberatan.” gurau dokter Bambang sambil melirik Sumaji yang duduk di kursi pasien..

“Maksud saya bukan keberatan dok. Kalau memang hamil ya diterima karena sudah di beri rezeki sama Allah. Tapi saya kaget kok secepat ini.” Kilah Siti menarik kalimat awalnya.

“Diterima dengan terpaksa ya.” canda dokter lagi sambil terkekeh.

“Ah tidak juga dok.” Kata Siti dengan tersipu.

‘Kalau saya sangat senang dok punya anak lagi. Apa lagi laki-laki.” Sumaji ikut menimpali.

“Mas.. terus yang momong Sarah siapa?” Siti menegaskan lagi.

“Kan ada ibunya siap 24 jam.” Jawab Ayah Sarah dengan cepat.

“Mungkin sekarang ibu kecapekan sehingga badannya demam.”

“Iya dok. tadi siang habis dari pantai.” jelas Sumaji menyindir.

“Ya sudah bu ini saya beri resep untuk vitamin dan anti mual supaya bisa tercukupi kebutuhan makan dan minumnya. Kalau memang tidak mau nasi diganti karbohidrat yang lain gak pa pa jangan lupa dua minggu lagi kontrol ya!”

“Baik dok. Terima kasih.”

 

Mereka pulang dengan membawa perasaan masing-masing yang tidak sinkron. Siti menerawang jauh cuma memikirkan bagaimana dengan Sarah yang masih harus selalu didampingi seandainya dia dalam kondisi tidak stabil dalam kehamilannya. Secepat kilat di hempaskan semua rasa ketakutan yang tidak beralasan itu. Astaghfirulloh al adziim. Bismillah..semua atas kehendakmu ya Allah.

 

 

 

 

BERSAMBUNG

Salah Paham

Versi Fiksi Mini  Oleh : Wyda Asmaningaju “Saya polisi, kamu telah terbukti bersalah atas nama hukum. Untuk tindakan selanjutnya mohon ikut ...