Oleh : Wyda Asmaningaju
Kehamilan kedua Siti sedikit berbeda dengan yang pertama. Kondisi ekonomi yang sangat kurang mengharuskan dia menata rapi pundi-pundi uang yang sudah diberikan oleh suaminya dalam sebulan. Sarah yang masih butuh asupan gizi berupa susu formula untuk tumbuh kembangnya menjadi kebutuhan prioritasnya. Sementara ayah dan ibunya hanya bisa makan seadanya. Siti yang sudah terbiasa makan sayuran tanpa lauk kondisi seperti ini sedikitpun tidak menjadikan dirinya terheran-heran bahkan sampai kaget. Tapi bagi suaminya yang memang tidak mau tau kondisi keuangan, setiap makanan yang disajikan harus ada lauk dan selalu ganti dalam sehari.
Bulan berganti bulan kehamilan Siti mendekati hari persalinan. Badan Siti semakin kurus akan tetapi perutnya saja yang kian membesar. Secara rutin dia periksakan ke bidan terdekat dalam rangka juga menghemat pengeluaran. Dalam hitungan 30 minggu usia kehamilan yang mestinya jnain sudah masuk ke dalam jalan rahim tetapi beda dengan janin Siti yang masih belum masuk. Sampai suatu saat pada hitungan 36 minggu Siti mulai kesakitan dalam beraktifitas di pagi itu. Untungnya Sumaji masih belum berangkat kerja. Perutnya semakin mengencang dan terasa sangat sakit. Secepat kilat Sumaji mencarikan becak untuk mengantar istrinya ke bidan yang tidak jauh dari rumahnya. Tidak begitu lama mereka sudah berada di depan rumah bidan Jumadi. Dengan tergopoh-gopoh Bu Jumadi menyilakan mereka masuk lewat halaman depan kemudian memasuki ruangan bersalin. Dia sibuk menyiapkan kebutuhan persalinan Siti seperti air hangat, waslap, handuk bayi, sarung tangan, gunting dll. Setelah melalui beberapa pemeriksaan lanjut, maka bidan itu pun mengatakan.
“Bu ini bayinya belum masuk jalan lahir. Nih bokongnya yang di bawah bukan kepalanya, mungkin nanti lahirnya sungsang.” jelas bidan sambil memegang dan sedikit menggoyang bagian bawah perut Siti.
Siti yang merasakan perutnya semakin sakit hanya bisa mengangguk sambil berdzikir dan pasrah kepada Allah Azza Wajalla.
Sambil mengelus perut Siti, bidan itu berucap lirih.
“Ayo anak baik..lahirlah dengan normal kasihan ibumu yang terus merasa kesakitan karena posisimu tidak normal.”
Bak mantera yang sakti, maka kalimat itu pun diulang terus menerus. Kontraksi yang dialami Siti sudah sekitar lebih dari lima jam yang harusnya mendekati kelahiran. Pembukaan sudah hitungan ke sepuuh tapi bokong bayi masih berada di bawah, otomatis tidak ada usaha dari bayi untuk keluar. Melalui perjuangan yang sangat kuat akhirnya bayi itu bisa keluar dalam kondisi sungsng.
“Alhamdulillah.. akhirnya kamu keluar juga anak ganteng.” Seru bu bidan sambil meluruskan kaki bayi.
“Alhamdulillah..anakku selamat.” kata Siti lirih.
‘Maaf ya bu terpaksa saya gunting jalan lahirnya karena sampai pembukaan terakhir dia tidak mau berubah posisinya.” Bu Bidan merasa lega dengan keadaan bayi sungsang yang hanya melalui cara tradisional bisa keluar.
“Saya hanya bisa pasrah bu bidan. Panjenengan yang lebih tau mana yang terbaik buat saya dan bayi saya.” kilah Siti seraya mengusap keringat di keningnya.
“Sabar ya bu, ini saya dulukan merawat si ganteng baru setelahnya saya mengobras jenengan he..he..” jelas Bu bidan sambil terkekeh.
Setelah semuanya diselesaikan maka Sumaji di panggil masuk ruangan untuk mengadzani anak keduanya.
Melihat jenis kelamin anaknya laki-laki betapa gembiranya dia pada saat itu. Pandangannya menerawang jauh seakan menembus cakrawala. Bayangan seorang ayah berkejar-kejaran dengan jagoannya sampai-sampai dia terbatuk dalam berlarian yang pada akhirnya sang ayah menyerah kalah. Di raih tangan kecilnya seakan menyerahkan estafet kepemimpinan yang akan ditinggalkannya. Tampak dari bola mata yang tajam dan kulit sawo matang serta panjangnya 51cm, dia akan menjadi lelaki kekar. Harapannya untuk mempunyai anak laki-laki terpenuhi seakan melengkapi kebahgiaan yang mewarnai keluarga kecil itu. Bayi mungil itu pun diberi nama Arya Budi Santoso. Harapannya menjadi anak yang berbudi luhur dan berjiwa kstaria.
Setelah pulang ke rumah.
Baru saja Siti meletakkan tas besar isi barang-barang Arya, dari pintu yang belum sempat dtutup bermunculan lima tetangga dekat yang ingin menikmati bersama kebahagiaannya.
“Sehat dek Siti.” Ucap Farah
“Alhamdulillah mbah Farah sehat.”
“normal ya lahirnya?”
“Alhamdulillah iya normal, tapi lahirnya bukan kepala dulu tapi bokongnya.” Ungkap Siti tanpa malu.
“Subhanalloh..kekuasaan Alloh sedikitpun tidak bisa di fikirkan oleh akal manusia.”Ucap Farah sangat senang mendengar kelahiran sungsang tanpa operasi.
“Iih gantengnya. Kulitnya kayak ayahnya dek.” Puji Endang sambil mendekatkan pipinya ke bayi mungil itu.
“Ya satu sama he..he.. Sarah kulitnya putih kayak dek Siti sedangkan ini kayak ayahnya gelap.” tambah Herna ngakak.
“ngomong-ngomong namanya siapa mbak?” Tanya Yani penasaran.
‘Arya Budi Santoso.” jawab Siti singkat.
“Lama gak dek lahirnya?’
“Sebenarnya pembukaannya tidak lama, berhubung kepala di atas sehingga anaknya tidak bisa mendorong jalan lahir maka di gunting he..he..” Jelas Siti tersipu.
“Berarti lahirnya sungsang ya.” sahut Yayuk menyimpulkan.
“Ya mbak yayuk begitulah.”
“Biasanya kalau lahirnya sungsang anaknya nakal gedenya.” Tambah Yayuk meyakinkan.
“Huushh mbak yayuk ngawur.’ tepis Yani mengelak.
“Iya nih..kita ke sini untuk menikmati kesenangan lahirnya adiknya Sarah, bukan malah mendo’akan yang jelek.” Endang menjelaskan sambil sedikit marah.
“Bukan mendo’akan jelek maksudku. Maaf..maaf dek Siti bukan itu maksudku.” Kata Yayuk sambil mengatupkan tangannya.
“Ya mbak gak pa pa. Silakan diminum seadanya ” Jelas Siti menutup pembicaraan.
Memiiki dua putra putri yang masih balita tidak mudah bagi Siti dalam membagi waktu. Dia benar-benar harus menjaga kesehatannya supaya bisa semaksimal mungkin mengurus suami dan anak-anaknya. Dari bangun tidur Siti menyiapkan air hangat untuk memandikan Sarah dan Arya. Setelah bergantian memandikannya dia menyiapkan pakaian ganti untuk suami sebelum mandi. Setelah beres semuanya dia mulai mengeksekusi bahan masakan untuk dijadikan masakan sehat dan terlezat buat dinikmati sekeluarga. Setelah sarapan dia bergerak lagi ke dapur untuk mencuci peralatan masak dan melanjutkannya dengan mencuci pakaian.
Saat suaminya bekerja, Siti tidak pernah keluar dengan dalih main ke tetangganya. Rumahnya sering tertutup rapat seakan tidak berpenghuni. Dia tidak membiasakan dirinya untuk ngobrol sedikitpun tanpa tujuan jelas seperti yang dilakukan kaum hawa pada umumnya di kampung padat.
Memberikan asi eksklusif untuk Arya juga merupakan ikhtiarnya untuk menjaga hubungan kedekatan ibu dan anak selain memberikan nutrisi terbaik. Apalagi dia sekarang tidak bekerja pasti bisa menyusui selama dua tahun tekadnya.
BERSAMBUNG
No comments:
Post a Comment