Tuesday, April 11, 2023

Salah Paham

Versi Fiksi Mini 

Oleh : Wyda Asmaningaju






“Saya polisi, kamu telah terbukti bersalah atas nama hukum. Untuk tindakan selanjutnya mohon ikut saya ke kantor polisi,” ucapku dengan mimik wajah yang serius. Terbesit perasaan senang karena akan mendapatkan penghasilan.

Semua orang menatapku lekat, memandangiku seolah ada hal yang tak biasa. Aku menatap semua orang di sekitarku. Alisku naik menanyakan hal apa yang mereka herankan.

“Lo serius?” Satu kata keluar dari mulut Andy, temanku.

Aku mengangguk setuju. “Jelas, biar gue selidiki dia di kantor polisi. Lihat dia hampir masuk penjara.” Ucapku lugas.

Davin memegang tanganku, menatapku. Wajahnya mengarah ke bawah. Dia adalah teman satu profesi denganku, polisi. Wajahnya terangkat. Ia tersenyum padauk, “lo kalau gak ada uang bilang ke gue aja.” Aku terkejut, masih tak mengerti apa maksud dari ucapannya.

“maksut lo apaan?” tanyaku sembari melepas pegangan tangannya.

“lo gak mungkin amnesia sih” gumam Andrea. Ku lihat mimik wajahnya tersirat amarah.

Aku menatap ke arah tersangka di depanku. Ia menatapku balik. Mulutnya terbuka seolah tidak percaya dengan kalimat yang baru saja aku lontarkan. Kepalanya menggelang pelan. Jarinya menunjuk padaku, “lo gila?” Satu kalimat yang akhirnya keluar dari mulutnya. Kini giliran aku yang bingung.

“Maaf?” Tanyaku meminta dia mengulangi.

Andrea tersenyum kecil dan maju beberapa Langkah. Kini posisinya berada di sebelahku. Tangannya menarik sebuah kertas yang terbuat dari karton berbentuk persegi panjang. Ia menarik benda itu dan memposisikannya tepat di depan wajahku. Tanganku lemas menyadari hal itu. Andrea tersenyum. Pikirnya rencananya berhasil.

“Maaf, gue lupa.” Ucapku singkat.

“Keterlaluan lo. Kita lagi main monopoli woi!” Seru Andy sembari menyilangkan tangannya di depan dada. Aku mendorong kertas monopoli itu menjauh dari wajahku. Ku putar badanku menghadap ke Andy, lalu membungkuk 90.

“Lo ngerusak permainan tau, gak!” Masih saja Andy kesal padaku.

“Andy cukup. Gue yang mau dibawa ke kantornya dia aja masih speechless.” Ucap Fandra jujur. Dia berdiri dan menepuk pundakku dua kali kemudian keluar dari rumah Andy.

Sebuah tangan menyentuh pundakku. Aku menoleh ke belakang untuk melihat pelakunya. Aku tersenyum, “Maaf ya vin” ucapku penuh penyesalan.

“Lo yakin gak kekurangan uang?” Wajahnya kentara sekali akan kekhawatiran. Aku mengangguk sembari memegang telapak tangannya. Ku tampilkan senyum terbaik untuk membuat dia lega. Aku menatap kedua temanku yang lain. Andrea masih tetap kukuh memegang kertas monopoli tersebut, sedangkan Andy masih terlihat sekali marah padaku.

“demi kenyamanan bersama, kita jeda reuni ini 30 menit buat jernihkan pikiran. Terutama lo.” Tangannya menaruh monopoli Kembali ke atas meja, kemudian menunjuk padaku. Dalam kalimatnya pun tersirat penekanan bahwa memang aku menyebabkan masalah pada saat reuni ini.

Andy berjalan ke luar rumahnya dengan langkah yang tergesa-gesa, di belakangnya ada Andrea yang mengejar Andy. Sepertinya mereka berencana mencari Fandra. Tubuhku jatuh terduduk di atas karpet berwarna putih di ruang tamu. Tanganku memegang kepala merasakan denyutan kecil yang kian lama, kian banyak. Davin berada di belakangku, ia berusaha menenangkanku. Tangannya menarik tubuhku dalam pelukannya.

“hei, its okei. Lo stress gara-gara udah jarang ada korban yang masuk kantor polisi?” Pertanyaanatau bisa disebut tebakan itu tepat sasaran sekali. Aku mengangguk. Davin semakin mengeratkan pelukannya. 

 

 

 

 

 

Surabaya, 12 April 2023

Friday, April 7, 2023

Ramadhan Tak Terlupakan

 Oleh : Wyda Asmaningaju



Dok. Pribadi


Memiliki dua buah hati yang lucu adalah dambaan setiap pasangan hidup. Banyak dari mereka yang belum dipercaya mengemban amanah atau belum dikaruniai sang buah hati meskipun usia penikahan sudah mencapai puluhan tahun. Pasangan suami istri Narto dan Nilam yang tidak usah menunggu kehadiran sang buah hati terlalu lama dalam mahligai pernikahannya sangat bahagia ketika dalam hitungan delapan tahun sudah mempunyai dua buah cinta yang lucu-lucu. Abdillah yang berusia tujuh tahun dan Nia yang berusia tiga tahun. Sebenarnya setelah Abdillah berusia tiga tahun mempunyai adiknya yang berusia enam bulan meninggal di kandungan. Jadi Nilam sudah melahirkan tiga kali secara normal. Setiap hari Nilam yang sebelum berangkat bekerja di sebuah kantor swasta mengurus si bocil mulai memandikan dan menyuapi mereka secara bergantian sampai menitipkan si cantik ke rumah orang tuanya dan membonceng si ganteng ke Sekolah. Sementara Narto juga mengemban amanah sebagai pegawai di sebuah perusahaan obat. Hari-hari yang padat tanpa rehat mereka jalani dengan iklhas saling support tanpa ada keluh kesah meskipun mereka belum bisa memiliki rumah pribadi.

 

Pada suatu sore di kediaman mereka.

“Mas, bulan ini aku belum mens, aku yakin pasti hamil.” Nilam cemas memeluk suaminya yang sedang membaca koran.

“Alhamdulillah .. masih ada tambahan bonus.” Narto menjawab dengan santai tanpa melihat ekspresi sang istri.

“Uhh aku takut mas!” Nilam gusar melihat suaminya cuek.

“Takut apa?” Kali ini Narto melipat koran dengan hati-hati.

“Maksudnya begini, kita besarkan dan sekolahkan yang tinggi Muhmmad dan Nia dengan baik tapi kalau nambah anak takutnya gak bisa maksimal mendidik mereka.”

‘Ah kamu, kalau memang kita ditakdirkan punya anak lagi Insya Allah kita bisa mendidiknya dngan maksimal.”

“Mas, bener aku takut. Bagaimana kalau kita ke dokter untuk memastikan bahwa apa bisa janin ini digugurkan seandainya memungkinkan.”

“Ya sudah besok kita periksakan ke dokter tapi janji kalau memang dokter tidak mau menggugurkan jangan memaksa.”

“Ya mas janji.” Nilam sedikit lega dengan keputusan suaminya.

 

Keesokan harinya mereka berdua berniat memeriksakan kandungan dengan hati yang tidak menentu. Laju motor yang tidak terlalu kencang membuat Nilam semakin berkeringat dingin dengan menyimpan seribu pertanyaan di hati. Tidak begitu lama mereka sudah sampai di parkiran dan setelah memarkir kendaraannya mereka masuk ke ruang dokter spesialis kandungan di sebuah rumah sakit daerah. Setelah melalui pemeriksaan intensif Dokter Edi mengatakan.

“ini anak ke berapa bu?”

“Anak keempat dokter.”

“Saya lihat janin ini sudah berusia 8 minggu bu, artinya kalau digugurkan sayang karena anaknya sehat.” Dokter menunjukkan monitornya sambil menggerak-gerakkan alat di perut Nilam.

“Lo dok, padahal saya baru telat 4 hari kok sudah 8 minggu.” Tanya Nilam keheranan.

“Ya bu memang seperti itu hitungannya.”

“Kalau begitu tidak jadi dok, anak ini akan kami rawat dengan baik. Terima kasih dok penjelasnannya.

Mereka pulang dengan hati lega, mau tidak mau janin itu adalah anugrah terbesar yang tak setiap ornng beruntung memilikinya.

 

Kehamilan Nilam semakin besar yang membuatnya sedikit repot dengan urusan kerjanya dan menitipkan kedua anaknya ke rumah eyangnya sehingga orang tuanya menyarankan untuk sementara tinggal di rumah mereka sampai Nilam melahirkan bayinya. Narto dan Nilam menyambut baik niat itu dengan hanya menghitung hari Nilam sudah melahirkan normal bayi cantik pada malam hari pukul 20.45 WIB dibantu seorang bidan kampung. Bayi itu bernama “Zahro Syarifatul ‘Aini” dengan panggilan RIFA.  Setelah dua hari persalinan Nilam diizinkan pulang karena kesahatan ibu dan bayi sangat prima. Ibu Nilam menyongsong dengan suka cita dan sangat bersyukur.

“Alhamdulillah, cucuku sehat dan cantik. Selamat cah ayu kamu selalu melahirkan gangsar.” Ibu Nilam menciumi Nilam dan bayinya.

“Iya bu. Alhamdulillah. Tadi malam kontraksi cuma sebentar terus diberi perangsang langsung lahir.” Nilam bercerita lebar.

 

Kehadiran Rifa menambah ramainya suasana rumah yang hanya dihuni kedua eyangnya itu. Setiap pagi Nilam memandikan ketiga anaknya dan menyuapi Muhammad dan Nia tak lupa selalu memberi Asi eksklusif kepada Rifa tercinta. Selesai menjalani tugas sebagai ibu rumah tangga, dia menuju kantor sambil mengendarai motornya. Hari berganti bulan tidak terasa Rifa sudah berusia empat bulan. Hari ini adalah Ramdhan ke sebelas menjadi saksi bagi seluruh umat muslim menunjukkan ketakwaan kepada Rabbnya. Rifa yang lucu semakin tampak menggemaskan. Senyumnya yang menawan tanpa bisa melupakannya walau sejenak. 


Seperti biasanya selepas ba’da ashar Nilam menggendongnya di teras depan rumah sehingga mengundang banyak penggemarnya hadir menyapa Rifa yang terus mengumbar senyum. Tidak biasanya sore itu Rifa tidak mau menunjukkan senyum manisnya sehingga banyak fannya yang terus berusaha menggodanya. Saatnya adzan maghrib berkumandang, Nilam, suami dan ayah ibunya segera berbuka puasa dan menjalankan sholat maghrib berjamaah. Selepas sholat teraweh Nilam merasakan tubuh Rifa sedikit panas dan tetiba selepas minum susu, dia muntah. Dengan lembut Nilam mengganti baju Rifa dan memberinya susu lagi karena tampak dia sangat ngantuk. Di tengah-tengah malam tampak Nilam sedikit heran dengan Rifa yang tidak mau nenen dan minum susu botol tanpa pikir panjang dia mengambil sendok untuk menyuapi susu. Tampak mata Rifa tidak terkatup meskipun saat tidur dan tidak rewel sama sekali meskipun belum minum mulai sore sampai jam 12 tengah malam. Ini yang membuat Nilam semakin bingung yang pada akhirnya semalaman dia tidak tidur dan pukul 03.00 dini hari waktunya orang sahur dia membawa Rifa ke rumah sakit milik propinsi bersama suami. Sesampainya di IGD secepat kilat dokter memeriksa dan mengatakan bahwa Rifa tersedak air susu sehingga sesak nafas dan hanya menyuruh Narto dan Nilam hanya berdo’a. Tampak tubuh kecil itu di penuhi kabel-kabel yang tersambung dengan komputer. Dengan bantuan oksigen dia bernafas dan mungkin Rifa merasakan sakit yang luar biasa tanpa diketahui orang di sekitarnya. Penanganan medis dilakukan team dokter sekitar dua jam setelah itu berhasil mengeluarkan cairan susu sekitar setengah cangkir dan bersamaan itu nyawa Rifa tidak terttolong. Nilam hanya bisa menangis tidak tahu kalau Rifa tersedak dan sesak nafas. Dia hanya berucap :seandainya aku tidak terlambat membawa Rifa ke dokter.

 

 

 

Surabaya, 07 - 04 - 2023

Salah Paham

Versi Fiksi Mini  Oleh : Wyda Asmaningaju “Saya polisi, kamu telah terbukti bersalah atas nama hukum. Untuk tindakan selanjutnya mohon ikut ...