Friday, October 28, 2022

BUKAN KEBETULAN


 By. Wyda Asmaningaju

 

Bersama Bunda Telly, Bunda Budiyanti dan Ibu Sumintarsih


        Pengalaman Naik kereta setelah sekian lama enjoy dengan kendaraan pribadi, hari ini terulang lagi pada hari Jum'at, 21 Oktober 2022. Awal masuk stasiun gubeng berbekal screenshot pemesanan ticket dari teman yg baik, saya masuk dengan santainya dengan menunjukkan ke petugas sambil menanyakan kalau print tiket dimana.

       "Tidak usah di print bu cukup butuh barcode saja"

Maka saya telpon teman baik untuk minta barcode. Setelah dikirim barcode kemudian saya menunjukkannya pada petugas dan mengijinkan saya masuk setelah memberitahu kereta sancaka lewat jalur 6. Masih ada waktu kurang lebih setengah jam untuk menunggu, saya duduk disebelah seorang Ibu yg juga naik kereta satu tujuan. Setelah mengamati screenshot barcode tadi saya baru sadar tempat duduk nomer berapa? Gerbong berapa? Wah koq gak pintar..he..he.. Pada akhirnya harus balik lagi ke petugas tadi dan ternyata sudah ada tulisan Pre-2/2D yg artinya premium 2 no.2D. maklum...pikirku. Tepat pukul 09.00 kereta berangkat meninggalkan Surabaya.

        Sebelah tempat dudukku adalah seorang pemuda yang sedang telepon ibunya sepertinya dalam obrolan itu dia minta dimasakan sesuatu. Dia berumur 23 tahun seusia anak saya berasal dari  Sleman yg sudah bekerja sebagai polisi Di Kupang, NTT selama 5 tahun. Sambil mengunyah permen yang dihisap dia bercerita panjang lebar tentang pendidikan polisi yang ditempuh selama 9 bulan dan mendapatkan rapelan gaji meskipun semua gajinya diberikan kepada ibunya untuk nyicil hutang. Meskipun jarak jauh dengan ortu disempatkannya 2x setahun menjenguknya tanpa melihat besar biaya yang dikeluarkan. Tidak lupa setiap bulan juga mengirim uang untuk adiknya yg masih kelas 2 SMK. Mungkin ini bakti dari anak yg sholeh. Sesampainya di stasiun Jogja sekitar pukul 13.15 . Saya menuju musholah untuk melaksanakan Sholat dhuhur kemudian melanjutkan perjalanan ke Balai Besar Guru Penggerak (BBGP) Jl. Kaliurang km 6. dengan naik grab kurang lebih 1 jam perjalanan. 

        Setelah sampai saya diberi kunci kamar 18 yg mungkin bukan kebetulan bersama Ibu Mien Sumintarsih Penulis dari Purwokerto. Dari awal perbincangan sudah menyenangkan, saya diberi buku-buku beliau yg sangat menginspirasi saya termasuk kiriman E-book nya. Saya hanya bisa terheran- heran sambil membaca dengan perasaan sangat senang. Beliau berbagi cerita tentang cara menulis yang baik sampai di publish itu bagaimana termasuk cara mengikuti workshop pelatihan menulis dan pengalaman mengajar di sekolah Islam yang mayoritas siswanya kalangan menengah keatas serta selalu memberi kesimpulan dalam setiap kisah. Beliau sudah kurang lebih 2 tahun menjadi anggota Rumah Virus Literasi. 

        Rumah Virus Literasi adalah komunitas penulis handal yang saling berbagi dan saling mengisi. Dari sinilah saya lebih banyak termotivasi untuk segera menulis apa yang saya alami, atau pengalaman orang lain.

        Keesokan harinya adalah hari yang dinantikan oleh hadirin tiba, tepat pukul 08.00 acara Kopdar dan peluncuran 185 judul buku karya 17 penulis dimulai. Beberapa nara sumber yang hadir yaitu :

1. Prof. Dr. Nunuk Suryani (melalui zoom karena beliaunya sakit)

2. Prof. Dr. Ngainun Naim

3. Moch. Khoiri

4. Rita Audriyanti

5. Sri Sugiastuti

6. Mukminin

        Nara sumber satu per satu menyampaikan materi yang luar biasa. Pengalaman menulis mereka yang sudah mendunia.belum lagi cara mereka menginspirasi hadirin dengan berbagai hadiah bagi setiap penanya. Saat acara peluncuran buku bersama Penulisnya maka Mr. Emcho mengatakan supaya masing-masing penulis menyiapkan dirinya. Karena di ruangan Bazaar buku kosong maka saya yang memang belum punya buku untuk dipamerkan diminta Mr.Emcho untuk menunggunya.

        “Bu ayu tunggu disini ya”

        “ Nggih Pak”

Dari 17 penulis membawa buku karya mereka dan berbaris didepan diiringi lagu “Suasana Jogja”. dalam hati berbisik “saya harus bisa berdiri didepan dengan buku karya saya tahun depan” . Kegatan berakhir hampir pukul 4.30 yang akhirnya saya pamit Bu Mien balik ke kamar untuk mandi dan sholat ashar sementara Bu Mien masih sibuk mengemasi buku-buku bazaar. Saat pukul 16.45 Bu Mien balik ke kamar langsung ambil wudlu dan sholat setelah itu kembali lagi ke bazaar mungkinurusan a belum selesai setelah maghrib kira-kira pukul 18.15 saya mendengar Bu Mien membuka pintu kamar dan saya baru sadar belum sholat maghrib alias ketiduran. Tanpa basa basi langsung masuk kamar mandi ambil air wudlu dan sholat maghrib.

        Setelah makan malam saya masuk kamar dan menemui Bu Mien akan sholat Isya’ maka saya berniat untuk jamaah sekalian. 

        Setelah sholat Isya’ kita memutuskan untuk keluar kamar mencari teman yang bisa diajak ngobrol. Alhamdulillah di Lobby ada Bu Kanjeng dari Solo, Bu Dian dari Malang dan Bu Budiyanti dari Ambarawa yang sudah siap dengan aneka kuenya untuk teman ngobrol. Pembicaraan mereka sangat berbobot dan saling mengisi sementara saya hanya pendengar setia. Tidak terasa waktu menunjukkan pukul 23.30 sementara ada 4 teman yang baru saja datang dari Malioboro dengan barang bawaannya. Dari samping seorang teman berbisik.

        “Jenengan hebat lo baru masuk grup sudah bisa mengikuti acara sebesar ini’

        “Bukan saya yang hebat tapi Allah yang menyusun semua kisah kehidupan yang hebat”. Semua itu bukan suatu kebetulan tapi sudah tertulis DISANA. Hanya Karena keterbatasan ilmu kita yg kadang-kadang  menyebutkan semua yg kita temui itu kebetulan.

 

 

 

 

 

Yogyakarta, 23 Oktober 2022

6 comments:

Salah Paham

Versi Fiksi Mini  Oleh : Wyda Asmaningaju “Saya polisi, kamu telah terbukti bersalah atas nama hukum. Untuk tindakan selanjutnya mohon ikut ...