By. Wyda Asmaningaju
Sudah menginjak tahun kelima usia pernikahan Diah dan Fahri, namun masih belum ada tanda-tanda kehamilan. Beberapa usaha medis dan tradisional sudah mereka tempuh. Hasil dari pemeriksaan medis menunjukkan bahwa keduanya tidak ada masalah alias normal-normal saja, mungkin aktifitas keduanya yang tidak bisa dimaklumi. Diah sebagai manajer sebuah bank yang tidak pernah ada kata ‘free’ dalam tugasnya sedangkan Fahri sebagai ‘owner’ di sebuah perusahaan alat-alat motor. Suatu sore mereka telah membuat janji dengan dokter Erwin untuk memeriksakan kandungan yang kesekian kalinya. Karena akhir-akhir ini menstruasi Diah tidak teratur.
“Selamat sore Nyonya Fahri, apa yang anda keluhkan?”
“Begini dok, beberapa bulan ini menstruasi saya tidak teratur. Kadang cuma 3 hari dan itupun cuma sedikit, tidak seperti biasanya”.
“sudah berapa bulan tidak teratur?”
“Kira- kira 3 bulanan”
“sebentar ya saya periksa dulu”
Dengan teliti dokter memeriksa menggunakan stethoscope dan sangat terkejut melihat perut Diah yang tidak seperti biasanya.
“Maaf, apakah anda tidak merasakan apa-apa?”
“Maksud dokter apa?”
Belum sempat dijawab ternyata dokter Erwin sudah kembali dari luar memanggil Fahri dan memberi selamat.
“Selamat Pak Fahri, anda akan menjadi ayah”
Fahri dan Diah sangat terkejut dengan berita itu. Tidak disangka mereka akan menjadi ayah bunda untuk buah cinta yang selama ini dinanti-nanti.
“Alhamdulillah…” ucap mereka hampir bersamaan
“Saya beri obat penguat ya supaya tidak keluar flek-flek nya”
“terima kasih dok”
Mereka pulang dengan perasaan yang tidak menentu. Bingung, harus syukur dengan cara bagaimana supaya nadzarnya tersampaikan pada sang pencipta.
“Setelah sampai rumah kita kumpulkan anak yatim ya bun untuk memenuhi nadzar kita”
“Ya.. yah semoga bayi ini sehat dan cerdas”
“Aamiin..”
Sambil membelokkan mobil, Fahri tidak henti-hentinya menggumam
“Alhamdulillah Ya Allah..Kau kabulkan do’a kami..Kau percayakan kami menjadi orang tua..Kau amanahkan bayi mungil pada kami… Semoga kami bisa menjaga AmanahMU..”
“Aamiin..Yaa Robb”
Tidak begitu lama mereka berdua sampai di rumah yang luasnya seperti lapangan sepak bola itu. Tidak sabar dengan berita gembira itu Diah memanggil pembantunya.
“Bi..bibi.. “
“Ya nyonya “
“tolong kumpulkan semua anak yatim yang ada di blok ini dan kita beri santunan berupa baju, mukenah, sarung”
“Memangnya tuan dan nyonya habis dapat arisan ya?”
“Huush..dengarkan ya .. kami tadi dari dokter dan aku dinyatakan hamil”
“Alhamdulillah…, saya ikut senang nyonya”
“Ayo , minta tolong Pak Darman untuk membelikan perlengkapan semua anak yatim itu”
“Baik..baik Nyonya”
Bibi Tina segera mencari Pak Darman tukang kebun untuk membelikan semua barang yang diminta juragannya. Kemudian ia kembali mencuci piring dan membersihkan lantai.
Kurang lebih 2 Jam Pak Darman pulang dengan motornya sambil membawa bungkusan besar keperluan anak yatim.
Selesai semua pekerjaan Bibi Tina dan Pak Darman mengemas tiap-tiap barang dengan mencocokkan sesuai pemiliknya.
“jangan keliru Pak Darman, ini punya Desi dan ini punya Sari karena mereka kakak adik besarnya hampir sama”
“Iya..iya sudah saya pisahkan”
Tampak mereka berempat membungkus dan memberi nama-nama pada sampulnya supaya tidak keliru.
Kehadiran sekitar 20 anak yatim memeriahkan rumah yang luas itu.
Do’a mereka menembus Arsy. Tampak Fahri memimpin acara itu dan meminta do’a mereka untuk kesehatan ibu dan bayinya. Senang sekali melihat mereka makan hidangan yang disediakan. Setelah selesai makan, hadiah dibagikan sesuai nama yang dipanggil dan mereka berpamitan.
Bulan berganti bulan Kehamilan Diah sudah menginjak bulan ke 8. Sesuai arahan dokter Erwin, Diah harus lebih banyak beristirahat serta makan sayur dan buah. Tampak hampir semua anggota tubuhnya membesar terutama kaki. Padahal selama hamil Diah jarang ngantor dalam rangka mengurangi kegiatannya diluar dan sudah mengurangi makanan asin.
Menurut Dokter Erwin kaki bengkak itu biasa selama tidak ada indikasi tekanan darah tinggi. Hari-hari yang menegangkan semakin mendekati Hari Perkiraan Kelahiran (HPL) tanggal 25 Juni 2022. masih kurang semingguan perut Diah semakin sakit dan tiba-tiba kepalanya pusing. Fahri segera melarikan mobilnya ke rumah sakit yang sudah siap dengan dokter Erwin untuk memeriksanya.
“Pak. Ternyata ibu menderita preeclamsia (tekanan darah tinggi) sehingga Janin harus dikeluarkan secepatnya. Nanti saya buatkan surat pengantar untuk caesar paling lambat besok.”
Seketika itu Diah tidak diperkenankan untuk pulang karena masih banyak pemeriksaan dan tindakan yang harus dilakukan dokter. Diah dan Fahri hanya bisa berdo’a dan tawakal dengan keadaan seperti ini. Semaksimal mungkin usaha manusia tetaplah takdir milik sang khalik.
Tampak wajah Diah sedikit takut dengan berbagai tindakan dokter mulai obat minum, sesekali memeriksa perutnya sampai suntik melalui infus. Fahri yang menunggu dengan sabar hampir semalaman tidak beranjak sedikitpun dari samping Diah sambil memegang tangannya dia berbisik.
“Sabar ya bunda.. Insya Allah bayi kita sehat begitupun juga bundanya”. Diah hanya bisa mengangguk sambil menahan nyeri pada kepala dan perutnya.
Keesokan harinya tanggal 20 Juni 2020 pukul 08.00 Dokter Erwin sudah membuatkan surat pengantar untuk caesar besuk pagi dijadwalkan pukul 09.00 sehingga mulai nanti malam Diah harus berpuasa. Serasa waktu berjalan begitu cepat dengan hati yang tidak menentu segala sakit tidak dirasa dengan lemahnya bibir Diah selalu menyebut nama Allah.
Waktu yang sangat mendebarkan hari berganti tepat pukul 08.00 beberapa perawat menyiapkan alat-alat operasi dan membaringkan tubuh Diah di meja operasi. Tepat pukul 09.00 belum ada tanda-tanda kehadiran dokter Erwin. Dokter anastesi dan perawat sudah siap di tempat itu. Tampak satu perawat menelpon Dokter Erwin untuk mengingatkan jadwal operasi.
“Ya aku masih terjebak macet karena Jl. Sudirman ada perbaikan jadi lewat Jl. Hasanudin satu-satunya akses menuju Rumah sakit Bunda.”
“Baik dok, kita akan tunggu”
Kurang lebih 30 menit Dokter Erwin masuk ruangan dan memimpin operasi caesar. Pelaksanaan operasi itu memakan waktu sekitar 50 menit dan bersyukur sekali berjalan dengan lancar. Bayi perempuan dengan berat badan 3.2 kg berhasil dikeluarkan dengan selamat.
Setelah Diah sadar tampak seorang perawat berjilbab putih membuka pintu ruangan dan memanggil Fahri di ruang tunggu.
“Tuan Fahri, Istri anda sudah sadar, silahkan masuk”
Dengan langkah setengah berlari Fahri masuk ke ruangan dan bola matanya menemukan istri tercintanya di pojok ruangan.
Dengan lembut Fahri mencium kening Diah sambil memeluknya dan berbisik
“Alhamdulillah… kita jadi orang tua bunda. Bayi mungil ini menghiasi cinta kita, rumah kita dan akan menjadi pemimpin di masa mendatang. Sambil menggendong bayi perempuan berparas cantik itu Fahri mengenalkan Nama Allah dengan mengadzaninya. Setelah selesai tidak henti-hentinya bayi mungil itu dipeluk dan diciumnya. Kini Kehidupan mereka diwarnai oleh tangisan putri kecil bernama Sandra Ayunda Fahri. Kurang lebih 4 hari di Rumah Sakit Bayi dan ibunya diijinkan pulang karena memang kondisinya sudah sehat.
Bibi Tina setiap pagi mengurus bayi dan ibunya tidak ketinggalan Pak Darman juga membantu sesekali di panggil.
“Pak Darman jangan jauh-jauh ya kalau ada perlu biar aku gak teriak-teriak” celoteh Bibi Tina
“ Ya.. ya….siap bos”
“Eh jangan salah.. aku bukan bos tapi asistan bos, ngerti..”
Dengan menahan tawa Pak Darman menutup mulut dengan tangan sembari keluar rumah untuk membersihkan halaman depan.
Sambil memandikan Sandra mungil Bibi Tina mendongeng .
“Anak cantik kalau besar ingin jadi apa? Ayo jawab… he..he.. lupa ya bibi kalau aden masih kecil..pinter ya…besuk kalau sudah besar sekolah yang tinggi… sekali.. jangan seperti Bibi gak pernah makan bangku sekolah”
Dengan rajinnya Bibi Tina mengurus semua pekerjaan rumah tangga yang dengan bertambahnya pekerjaan tidak membuatnya mengeluh malah lebih semangat lagi dalam melakukannya.
Bulan demi bulan berganti tidak terasa sudah menginjak bulan ketiga usia Sandra. Pada pagi yang cerah seperti biasanya Bibi Tina memandikannya sambil mendongeng. Ditatapnya mata kecil itu dengan penuh kasih sayang. Tapi kali ini Bibi curiga ada yang berbeda dari si kecil. Tatapan kosong dan tidak ada respon setiap kali disapa. Mungkin anak seusia Sandra sudah wakunya tengkurap dan merespon jika diajak bicara entah dengan senyuman atau lainnya.
“Ah mungkin perkembangan anak beda-beda” tepisnya
Sampai pada suatu hari Diah sendiri juga agak curuga dengan keadaan putrinya karena mulai bayi sampai sekarang meskipun dibelikan mainan yang merangsang pendengaran dan penglihatan sikecil tidak memberikan respon sama sekali. Pada malam hari Diah menyampaikan hal itu pada suaminya yang mungkin hanya malam hari ketemu sikecil dan selalu dalam kadaan tidur sehingga tidak tahu banyak tumbuh kembangnya.
“Ya sudah.. besuk kita periksakan ke dokter, sekarang bunda istirahat dulu ya”
Sambil menyelimuti istrinya Fahri tidak lupa mencium sikecil yang sudah tertidur dari tadi. Diah yang masih gelisah berusaha memejamkan mata meskipun pikiran masih berkecamuk kemana-mana.
Keesokan harinya mereka bertiga sudah bersiap untuk ke dokter memeriksakan tumbuh kembang sikecil. Kali ini dokter Arman yang sudah stanby dengan kehadiran mereka karena Dokter Erwin masih berada di luar kota.
“Pagi dok, ini putri kami yang mau saya periksakan menurut istri saya sampai saat ini belum merespon meskipun disekitarnya ada suara.”
Setelah melalui pemeriksaan intensif sekitar 1 jam dokter menemui Fahri dan Diah didepan mejanya dan mengatakan.
“Maaf Tuan Fahri setelah saya lakukan pemeriksaan dengan seksama ternyata putri anda mengalami celebral palsy (CP) atau lumpuh otak. Hal ini disebabkan oleh banyak faktor bisa sebelum atau sesudah melahirkan. Terdapat beberapa metode penanganan yang dapat menunjang agar bayi dapat tumbuh dan berkembang dengan sebaik mungkin yaitu dengan terapi.
Tujuan terapi utama juga lebih difokuskan untk membantu bayi atau anak yang mengalami kondidi ini untuk bisa melakukan aktivitas secara mandiri seperti menggenggam suatu benda, duduk dan berjalan.
Sontak bagai dihantam badai Diah berteriak.
“Apa mungkin penyebabnya terlambat mengeluarkan janin dok, karena pada saat itu dokter Erwin datang terlambat karena macet”.
“Saya tidak bisa memastikan penyebabnya karena saya tidak tahu riwayat anda dari awal”
Dengan tangisan yang memecah kesunyian Diah sangat terpukul dengan keadaan sikecil. Putri yang di nanti-nanti selama ini harus menderita karena mungkin kelalaian dokter Erwin.
“Sabar nyonya.. semua pasti ada hikmahnya”.
“Ini kelalaian manusia jadi bisa saya tuntut Dokter Erwin nanti”
Fahri yang selalu mensupport istrinya kali ini tidak membiarkannya untuk bertindak sembrono.
“Sabar Bunda ini semua rencana Allah untuk kita dan buah hati kita. Kita harus bisa mengambil hikmah dari suatu peristiwa”.
“Tapi kenapa anakku yang harus menanggung penderitaan selama hidupnya?”
“Bukan….dia bukan menanggung penderitaan tapi dia yang akan memimpin teman-temannya, dia akan bertebar kasih pada sesamanya.”
Dengan langkah gontai Fahri dan Diah meninggalkan rumah sakit itu dan menuju rumah . Tidak henti-hentinya Fahri mengajak Diah untuk tawakal setelah sekian banyak usaha mendapatkan Sandra mungil.
“bunda, bukankah manusia diciptakan untuk bermanfaat bagi lainnya nah bagaimana kalau bunda ijin keluar dari pekerjaan dan mendirikan Yayasan untuk anak-anak Celebral Pulsy seperti putri kita. Bunda bisa belajar banyak dan sharing ilmu bagaimana cara mengatasinya atau bisa mendatangkan psychiatrist untuk membantu mereka yang mungkin kekurangan dana sehingga bisa menerapi secara gratis.
“Ayah berhati besar ..terima kasih atas pelajaran untuk saya yang mungkin kurang wawasan sehingga melupakan skenario Allah yang luar biasa.”
“Ya Bunda .. kita ambil hikmahnya dengan bunda mempunyai yayasan Celebral pulsy, Sandra tidak akan jauh dairi bundanya. Dengan harta kita bisa berbagi dengan sesama”
“Sekali lagi terima kasih ayah dan maafkan istrimu yang sering tempramen ini’.
Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat untuk orang lain. Diamnapun possisi kita hendaklah bermanfaat bagi sesama.
Catatan :
Celebral palsy (CP) atau lumpuh otak adalah penyakit yang menyebabkn gangguan otot, gerak dan koordinasi tubuh.
Surabaya, 3 November 2022

Mengharu biru.....
ReplyDeleteHebat, cerpennya panjang pisan....
https://www.kompasiana.com/sumintarsihmin6805/6363b35e45274b65552a1092/kok-diambil
Terima kasih Bu Mien
Delete