Sunday, October 16, 2022

CINTA SEJATI

                                                                        

Oleh : Wyda Asmaningaju

 




        Cinta adalah perasaan yang dianugerahkan sang khalik kepada hambanya. semua orang punya cinta dan cara mengungkapkannya beda-beda. Cinta tidak hanya dengan lawan jenis tapi juga dengan anak, orang tua, teman dan lain-lain. Nah cinta apakah yang dimaksud dalam kisah ini? Yuk kita simak..

         Deburan ombak pantai selatan menggulung memecah kesunyian sesaat sore itu. Hembusan angin semilir menderai di tubuh kecil itu. Sesaat Iwan dan Narto terperangah menyaksikan keajaiban alam ciptaan Tuhan yang Maha Agung. Dalam diam mereka terbesit rencana untuk melanjutkan pembicaraan mereka.

         “Wan, besuk aku rencana balik Surabaya karena proyekku disini sudah hampir selesai dan                 hanya tinggal finishing saja, apa kamu mau ikut sekali-kali ke Surabaya mumpung kamu masih ada     sedikit liburan, proyekmu kan masih belum mulai.” tanya Narto panjang lebar

        “Ah kamu ada-ada saja aku masih belum bisa meninggalkan ayahku sendirian di desa terpencil ini”. 

         ‘Kan ada adikmu yang kecil bisa menjaga ayahmu selagi kamu tidak ada”

        “Saya pikir-pikir dulu dech “. kata Iwan sembari mengangkat tubuh kecil itu diatas pasir                             yang berselimut air laut.

        “Ok. Saya beri waktu sampai besuk pagi jam 07.00 ya kalau kamu ingin ke Surabaya kabari segera,         supaya aku langsung pesan tiket keretanya ya!”  

        “Ya sudah.. kita pulang dulu, sampai jumpa besuk.” Pamit Iwan sembari mencuci sandal japitnya di         genangan air laut.

        “Ya hati-hati pulangnya karena sudah hampir maghrib ini”.

        Suara jangkrik menemani Iwan dengan senang hati sembari mengayuh sepeda jengkinya yang sudah usang. Tanpa takut sedikitpun dalam kegelapan malam ditembus dengan perasaan yang tidak menentu terngiang-ngiang ucapan sobatnya yang mengajaknya ke kota Pahlawan besuk. Tapi hati kecilnya masih berat meninggalkan ayahnya yang sudah renta sendirian karena ibunya baru saja meninggal bersama adik kecilnya meskipun hanya sementara. Jalanan desa masih lengang oleh suara kendaraan hanya suara jangkrik yang terdengar memecah kesunyian. Tak terasa dalam kesunyian dan kegelapan malam Iwan dikagetkan dengan suara pas didepan ban sepedanya. cuiiiitt. Secepat angin rem tangan ditarik dan dia langsung turun dari sepeda. Sepertinya ada seekor tikus yang hampir tertabrak. Untunglah segera lari sebelum terlindas ban sepeda Iwan. Tidak terasa sudah hampir mendekati rumah dan Iwan langsung menuju pintu samping guna menyandarkan sepedanya disana. Tampak rumah yang sangat sepi itu Iwan segera mencari ayahnya dan tanpa basa basi menceritakan niat Narto yang memintanya mengunjungi kota Pahlawan untuk sementara waktu.

          “Ya… pergi saja kalau memang kamu pingin ikut narto”. Ujar Ayah Iwan sambil memegang tangan iwan.

         “Tapi ayah sama adik apa bisa memberi makan ayam, bebek dan bertani tanpa aku mungkin        dalam 5 harian?” .

        “Sudah pergi saja”.

Dengan hati senang campur sedih Iwan menelpon Narto bahwa ayahnya sudah mengijinkannya besuk ikut ke Surabaya. Dibaringkannya tubuh kecil itu dengan segala kepenatan dan ketidak pastian diatas kasur dengan sprei yang hampir tidak berwarna. Pandangannya terus menerawang seakan-akan menjelajahi bumi yang belum pernah diinjaknya. Malam semakin larut dan tanpa sengaja matanya sudah terpejam dalam keheningan malam.

 

            Kuukkuurruuyuuk…..berkali-kali ayam jantan membangunkan seisi rumah meskipun belum terdengar adzan shubuh. Iwan tidak beranjak sedikitpun mungkin semalam tidak bisa tidur karena hatinya gelisah. Adik Iwan membangunkannya untuk bersiap-siap mandi dan sholat. Secepat kilat disambarnya handuk dan hilang dari pandangan. Setelah beberapa saat setelah sholat berjamaah Iwan terlihat berkemas-kemas untuk menyiapkan perbekalan seadanya yang akan dibawanya. Jam dinding menunjukkan angka 06.00 dia berpamitan dengan berat hati kepada ayah dan adiknya. Dengan setengah hati tapi pasti Iwan mengayuh sepeda ke rumah Narto yang sudah menyambutnya didepan pintu.

        “Ayo silahkan masuk, aku sangat senang kamu bisa ikut aku sekarang, taruh sepedamu di belakang         biar tidur disitu, he..he..”. gurau Narto.

Tidak lama mereka berdua berpamitan kepada ayah dan ibu Narto sambil jalan kaki menunggu angkot lewat. Tidak terasa sekitar 7 menitan ada angkot yg hampir penuh tersisa hanya 2 tempat duduk saja dan ini mungkin rezeki mereka. Tanpa banyak tanya merekapun langsung naik diiringi angin sepoi menembus dari balik jendela.

 

        “Kiri…..kiri…..kiri …” teriak Narto menghentikan angkot supaya berhenti karena sudah mendekati stasiun Tugu Jogjakarta. Setelah turun mereka langsung menuju penjualan tiket yang masih belum banyak pembelinya. Dengan langkah pasti Narto dan Iwan segera memesan tiket untuk mereka berdua dan Narto mengeluarkan uang ratusan ribu rupiah untuk membayarnya.

        “Eh..pakai uangku saja” kata Iwan sambil merogoh dompetnya

        “Gak usah, kan kamu saya undang” kata Narto sambil menyeringai

Selesai pembelian tiket mereka menuju ruang tunggu untuk menunggu kereta pasundan yang jadwal keberangkatan kurang 10 menit.

Tidak terasa setelah beberapa lama saling ngobrol keretapun datang dan semua penumpang berlarian menuju tempat duduk mereka masing-masing. Tidak begitu lama kereta segera meluncur. Dalam ketidak pastian hati Iwan yang mulai gelisah sudah jauh meninggalkan desa tempat kelahirannya yang belum pernah ia tinggalkan. Mulai SD, masuk pesantren setingkat SMP dan SMA sampai sekarang bekerja di kontakror sebagai pegawai rendahan yang cukup buat makan didesa.

        “Hayo… kamu ngelamun ya! .

        “Ah nggak kok, cuma masih ingat ayah dan adik maklum belum pernah pisah…”

        “Ngomong-ngomong kamu di Surabaya sudah punya rumah sendiri Nar?” tanya Iwan penasaran

        “Ha..ha..ha.. kamu ngaco .. kalau di Surabaya harus punya uang ratusan juta bahkan milyaran buat         beli rumah. Aku masih ngontrak wan, tabunganku masih sedikit.”

        “Oh maaf..maaf…aku tidak tau”.

        “Nyantai wan, gak masalah. Surabaya itu tempatnya sangat beda dengan desa kita. Aku sudah                 kurang lebih 2 tahun disana selama bekerja itu masih belum sepenuhnya bisa mengikuti tradisi             orang disana. Misalnya dalam bertetangga ya mereka itu selalu sibuk bekerja mulai sampai sore             jadi tidak ada waktu untuk menyapa tetangganya meskipun ada orang baru disitu”.

        “Oh..gitu”.

Tidak terasa kurang lebih 5 jam kereta pasundan itu melaju dengan cepat tanpa ada kres dengan kereta lain. Sehingga sampai di stasiun gubeng tepat waktu

        “Alhamdulillah kita sudah sampai”. ucap Narto

        “Alhamdulillah, ayo kita siap-siap turun”.

Semua penumpang yang tersisa sibuk menyiapkan barang-barangnya  untuk diturunkan. Begitu kereta sudah berhenti merekapun berhamburan keluar gerbong menuju satu arah yaitu pintu keluar sambil menunjukkan tiket kepada polisi KAI. Tidak terkecuali Iwan dan Narto. Setelah keluar mereka tampak naik becak menuju kontrakan Narto yang berada di Jl. Kertajaya.  tidak begitu lama merekapun sampai di rumah. Sambil bengong campur bingung Iwan bertanya

            “Kenapa rumahmu ramai orang nar?”

            “Memang kuburan sepi, ayo masuk”

Narto segera mengenalkan Iwan pada teman-temannya satu kontrakan yang juga merupakan teman kerjanya.

            “Wan, kita disini kontrak berlima satu kerjaan jadi urunan bayarnya he..he..supaya lebih hemat. Kamu tahu di Surabaya kontrakan mahal “.

            “Oh …” Iwan mlongo sambil manggut-manggut

Setelah berkenalan dengan kelima teman Narto, Iwan larut dalam pembicaraan sampai lupa waktu. Setelah sholat maghrib Narto mengajak Iwan jalan-jalan sambil ngopi di warung sambil menikmati udara malam. Mereka saling bercengkrama kangen masa-masa seperti dulu waktu masih satu pondok pesantren didesa. Narto dan Iwan merupakan teman SMP dan SMA sekaligus satu pondok pesantren sehingga mereka sudah lama berteman dan saling mengerti pribadi masing-masing. Keesokan harinya setelah mereka sarapan Narto berniat mengenalkan Iwan kepada temannya yang ada di Jl. Nias karena hari itu masih minggu.

            “Wan, ayo kita main ke rumah kenalanku! Dekat koq dari sini”

Iwan hanya menuruti apa kata narto dengan menganggukkan kepalanya seolah pasrah. Tidak lama mereka berboncengan motor sudah didepan rumah Ani temannya Narto.

            “Assalamualaikum, ada Ani didalam?” Narto sambil mengetuk pintu

            “Waalaikum salam, silahkan masuk” Jawab Ibu Ani sambil membuka pintu

Tidak lama kemudian Ani sudah keluar menemui mereka.

Dengan santunnya Narto mengenalkan Iwan kepada Ani.

Dengan malu-malu tanpa berjabat tangan merekapun saling kenal dan asyik dengan obrolan yang penuh makna.

        Iwan dengan asyiknya menuturkan bahwa dia alumni pesantren dan menceritakan banyak pengalaman menarik disana. Ani hanya sebagai pendengar setia yang tidak tahu sama sekali dunia pesantren karena dia mulai kecil sampai saat ini bekerja sebagai guru TK di sebuah sekolah hanya mengenyam pendidikan umum. Saking asyiknya mereka ngobrol tidak terasa sudah berkumandang adzan dhuhur. Setelah adzan selesai, Narto mengajak Iwan berpamitan dan pulang ke kontrakannya. Setelah sampai dirumah merekapun langsung mengambil air wudlu dan sholat berjamaah. Suasana rumah yang ramai dengan penduduknya membuat Iwan kerasan bisa ngobrol dan saling berbagi ilmu dan pengalaman. Dia yang sebelumnya belum pernah ke Surabaya  sekarang bisa ngobrol langsung dengan orang asli Surabaya. Dalam benaknya ada sisi positif dan negatif selama 2 hari berada disini.

        Keesokan harinya karena Narto harus berangkat kerja bersama keempat teman-temannya pagi-pagi, Iwan terpaksa harus sendiri di rumah. Di ambilnya majalah yang ada di meja sekali-kali dibolak balik tapi hatinya tidak nyaman. Pikirannya jauh menerawang siapa yang akan menemaninya dalam kesepian ini? Akhirnya diberanikan diri mengambil Handphone dari atas meja dan mencari nomer orang yang baru dikenalnya. Ani …ya dia yang telah mencuri perhatian Iwan. Dengan santun Iwan chat WA ani menanyakan kabar dan apakah di mengganggu atau tidak. Diberanikannya untuk berbagi cerita meskipun Ani masih ngajar. Tapi Ani tidak berani menjawab langsung karena takut ketahuan kalau hatinya masih berdebar--debar dengan pertemuan pertama kemarin. Chat Iwan baru dibalas ketika Ani selesai mengajar dan waktunya Istirahat. Mereka saling berbagi ilmu dan pengalaman masing-masing sehingga tidak terasa setiap hari mereka saling chat. Sampai waktunya Iwan harus pulang dan kembali ke desa untuk bekerja. Tidak berhenti sampai disini, pertemuan mereka secara online masih berlanjut dan menjadikan mereka saling akrab. Tidak terasa kurang lebih satu bulan mereka berkenalan, Iwan sudah berani menawarkan diri sebagai Imam dalam keluarganya nanti.

            “Ani apakah kamu mau jadi istriku?” tanya Iwan dalam telponnya

Ani tidak bisa bicara saat itu, jantungnya hampir berhenti mendengar kalimat yang spontan tanpa malu-malu dan tidak pernah ia dengar dari laki-laki manapun. Ani yang saat ini masih punya pacar seorang Insinyur dan sudah mempunyai rumah, rupanya terpesona dengan dunia Iwan yang menurutnya bisa menjadi Imam yang bisa menuntun dia dan anak-anaknya ke SurgaNYA kelak.

            “Kalau kamu bersedia  nanti ayah dan pakde akan kesini melamarmu” tambah Iwan masih                         penasaran yang belum mendengar respon Ani

            “Kamu pikir saja dulu dan bicara sama Ayah dan ibumu tentang ini, kalau ada kabar tolong                         hubungi aku ya!”.  

Dengan hati takut campur senang bagaimana cara memberitahu tentang ini karena pasti ayah dan ibunya menolak kehadiran Iwan. Bingung apa yang harus dilakukan. Hari demi hari dilalui Ani tanpa berani bilang pada siapapun dan akhirnya Dia putuskan untuk sholat Hajat beberapa hari dan meyakini bahwa Iwan adalah jodohnya. Suatu malam diberanikannya memberitahukannya pada Ayah Ibunya tentang tawaran Iwan saat itu. Ibunya tidak bisa menahan diri untuk berkomentar.

            “Apa kamu yakin Iwan orang baik? Ketemu cuma sekali sudah berani mengajak nikah. Nikah itu perlu tahu bobot bibit bebet nya.” Tegas Ibu

            “Apa kamu takut jadi perawan tua kalau tidak menikah dengan Iwan?

Usiamu sekarang masih 24 tahun dan dengan sang Insinyur yang sering kesini bagaimana? Pikir panjang nak, menikah tidak hanya untuk sehari dua hari saja, tapi untuk selamanya!” tambah ayah panjang lebar

Sebagai anak yang manut dan taat pada orang tua, Ani berusaha diam selagi mereka masih menjelaskan alasannya. Ani percaya tidak ada orang tua yang iklhas melepaskan anaknya yang nantinya rumah tangganya hancur. Orang tua pasti senang melihat anaknya mapan dalam kepemimpinan Imam yang adil dan bertanggung jawab.

Dengan panjang lebar Ayah dan Ibu Ani memaparkan apa alasan mereka melarang Iwan melamar Ani. Dengan berat hati Ani saat ini mengalah karena suasana tidak memungkinkan untuk membela diri. Hari berganti Ani masih belum bisa menjawab chat Iwan tentang keputusan ayah dan ibunya. Dialihkan pembicaraan lain yang bukan tentang pernikahan.

        Supaya terlihat baik-baik saja dan tanpa beban Ani bercerita tentang muridnya yang lucu dan lugu. Sampai pada suatu malam Ani bicara pada orang tuanya untuk mengungkapkan isi hatinya dan melalui ikhtiar sholat hajat bahwa Iwan adalah Imam yang tepat untuk rumah tangganya kelak. Melalui perdebatan yang agak lama dan dengan berat hati merekapun menyetujui untuk melepaskan Ani dilamar Iwan.

        Dengan mengucap syukur Alhamdulillah akhirnya kabar ini disampaikan Iwan lewat telepon. Disambutnya dengan suka cita kabar ini dalam keluarga Iwan tapi ayahnya masih ragu apa benar keluarga Ani menyetujui hubungan mereka.  Dan tidak lama selang 2 hari Ayah, Pakde dan Iwan dengan naik kereta sancaka. Sore hari mereka sampai di Surabaya karena ada sedikit keterlambatan kereta. Setelah kereta sampai di stasiun Gubeng merekapun langsung Jalan kaki menuju rumah Ani dengan barang bawaan sederhana.  Dengan perjalanan yang tidak kurang 10 menit mereka sudah sampai didepan rumah. Kedatangan mereka disambut dengan setengah hati oleh orang tua Ani yang sudah jelas tahu kehadiran mereka. Mereka dipersilahkan makan dan minum sambil melepas penat. Ditengah-tengah perbincangan mereka Ayah Iwan mengungkapkan maksud dan tujuan mereka.

            “Begini… mungkin panjenengan sudah tahu kedatangan kami kesini untuk melamar Adik Ani untuk menjadi istri Iwan. Mungkin tidaklah pantas kami orang desa yang miskin melamar putri panjenengan yang merupakan gadis kota yang berpendidikan dan kaya. Tapi apalah daya kami sebagai orang tua hanya menuruti saja kemauan anak kami yang mungkin dengan pertemuan hanya sekali sudah menjadikan hatinya terpaut pada putri panjenegan. Apapun keputusan adik Ani dan panjenengan berdua kami siap mendengarnya.” Kata Ayah Iwan panjang lebar menjelaskan

            “untuk perkara ini kami sebagai orang tua tidak bisa berbuat apa-apa tanpa persetujuan Ani, karena susah senang pada rumah tangga mereka yang menentukan.’ Jelas Ayah Ani sambil memanggil Ani dan menanyakan apakah dia mau menjadi Istri Iwan.

            “saya mau menjadi Istri mas Iwan dengan syarat kita mulai dari nol, maksudnya setelah menikah saya tidak mau ikut ke desa dan tetap tinggal disini sementara mas Iwan harus cari kerjaan disini”.

            “Bagaimana Iwan, apa kamu sanggup?” tanya Ayah Ani

Dengan hati yang tidak bisa memilih ayah atau istri? yang nantinya akan meninggalkan ayah dan adiknya didesa, Iwan duduk terpaku.

Ayah Iwan sambil mengelus pundaknya berkata

            “Tetapkan hatimu nak, jangan bimbang.. sudah waktunya kamu berumah tangga, mungkin                     melalui liku-liku kecil ini bisa kamu hadapi. Ayah bisa hidup berdua dengan adik.”

Dengan perasaan yang berkecamuk akhirnya Iwan menentukan pilihan

            “Ya pak, saya siap menerima syarat dik Ani, Insya Allah saya akan bertanggung jawab menjadi                 Imam yang baik dalam keluarga kita nanti.”

Pada akhirnya merekapun berencana melangsungkan pernikahan mereka untuk 2 bulan mendatang. Mereka bertiga pulang dalam kondisi yang masih belum plong karena orang tua Ani menyerahkan belum dengan segenap hati. Meskipun demikian rencana pernikahan mereka sudah terjadwal. Tradisi dan budaya mereka yang berbeda membuat sedikit terjadi keanehan. Dengan segenap hati yang hanya bisa pasrah Ayah Iwan pulang untuk mempersiapkan diri, menata hati yang nantinya akan kehilangan anak sulungnya untuk sementara waktu dan sudah tidak bisa menemaninya membajak sawah, menggembala kambing, dan memberi makan ayam dan bebek yang jumlahnya lumayan banyak. Sebagai orang tua dia harus bijaksana dalam menentukan sikap meskipun hanya lulusan SMP saja. Sikap orang tua menentukan kesuksesan anak-anaknya. Tangannya mengusap air mata di pipi keriput itu supaya tidak terlihat oleh anak-anaknya. Sedih campur senang melihat anaknya sudah hampir menikah dan tidak disangka calon istrinya adalah orang jauh bukan tetangga dekat. Dengan berjalannya waktu tidak terasa mendekati hari pernikahan, mereka membawa semua saudara dekat sekitar 9 orang ke Surabaya menuju kontrakan Narto dan besuknya mereka bersama-sama ke rumah Ani untuk melangsungkan ijab qobul dan dilanjutkan dengan walimatul Ursy.

Acara berlangsung hidmat dan meriah saat itu. Semua tamu datang dan memberi ucapan kepada pengantin berdua. Disela-sela acara ada beberapa saudara Ani saling ngobrol.

            “Ternyata Suami Ani itu orang desa dan bukan sarjaana ya..eh.. saya kira teman guru”

Sambil tertawa mereka saling menggunjing.

Mungkin ada pepatah tiada gading yang tak retak. Meskipun kita sudah berusaha untuk baik kepada siapapun toh masih banyak kekurangan disana sini. Pandangan tiap orang berbeda mungkin pandangan mereka kaya dan sarjana adalah lebih utama. Ya sudah biarkan saja. Pesta pernikahan mereka berakhir jam 09.00 malam. Keesokan harinya mengawali menjadi istri Ani memasak dan menyiapkan makan untuk suami serta ayah ibunya. Setelah selesai Ani berharap Ayah ibunya mau makan pagi bersama di meja makan ternyata mereka memilih tidak makan bersama  menantunya.

            “Sudah kalian makan saja dahulu, Ibu dan Ayah nanti saja”. kata Ibu

Merasa tidak enak makan duluan akhirnya mereka berdua memilih menunggu sampai ayah dan Ibunya makan. Hari demi hari masalah pasti datang meskipun sebatas perasaan yang tidak menentu. Dari hal sepele sampai kadang memaksa Ani harus memilih orang tua atau suami. Mungkin inilah akibat dari restu mereka yang setengah hati. Belum lagi Iwan di Surabaya harus mulai mencari pekerjaan dengan bekal lulusan SMA dan usianya sudah 25 tahun. Tanpa pengalaman apapun  meskipun didesa sudah bekerja di perusahaan kontraktor yang menangani Jalan Raya, tapi di Kota tidak berlaku karena dia hanya sebagai pegawai rendahan. Sudah sebulan Iwan keluar masuk kantor berharap menerimanya sebagai pegawai ternyata nol besar. Ayah Ani akhirnya menuturkan bahwa banyak tetangga yang mengatakan suami Ani pengangguran. Tanpa pikir panjang akhirnya Ani memberanikan diri pamit kepada orang tuanya tinggal di kos berdua.

            “Maaf Ayah dan Ibu, sudah satu bulan mas Iwan sudah berusaha mencari pekerjaan dan belum ada hasil, supaya ayah dan Ibu tidak malu dengan tetangga, kita akan pindah dan kos jauh dari sini. Mas Iwan akan memulai dengan jualan apapun yang penting halal.”

            “Kamu mau jualan apa?” kata Ayah Ani dengan nada tinggi

            “Maaf Ayah dan Ibu, kami sudah berjanji akan saling mendukung. Dengan b erjualan apapun kami bisa menghidupi rumah tangga kami”.tegas Iwan

            “terserah kalian, kalau susah jangan panggil orang tua ya!”.

Dengan berat hati ayah dan Ibu Ani melepas kepergian mereka. Tangisan seorang ibu tidak bisa terbendung ketika harus berpisah dengan anak perempuan sulungnya.

            “disini ada 5 kamar nak, buat apa kalian kos?” tanya Ibu dambil menangis

Masih ada 2 adik laki-lakinya yang menemaninya. Tapi tidak seperti Ani yang sangat rajin selama ini.

            “Begini bu kalau kita kos, misalnya gak punya brambang kan harus mikir bagaimana supaya                     punya dan harus beli. Tapi kalau ikut orang tua terus kita gak punya pikiran itu bu. Tahunya                     enak terus”. jelas Ani sambil mengatupkan tangannya mohon supaya ibunya mengikhlaskan.

            “Kalau begitu kalian pergi saja dan sering mampir kesini ya” pinta ibu

            “Iya bu”

Dengan berat hati Ani dan Iwan meninggalkan rumah orang tua Ani dan berjanji memulai kehidupan rumah tangga mereka di sebuah kos-kosan kecil. Dari situ Iwan bisa berfikir jernih usaha apa yang bisa dilakukan tanpa merepotkan Ani untuk membantunya. Berbekal pengetahuan dan ketrampilan dari tetangga kos akhirnya Iwan menjual Bakso keliling. Tidak terasa sebulan kemudian Ani memberikan tanda-tanda kehamilan. Alangkah senang dan berucap syukur Alhamdulillah, Iwan mendengar itu sehingga memberikan semangat kerja yang luar biasa sampai pada suatu hari ia diterima di perusahaan obat. Hari demi hari, bulan demi bulan, sedih dan senang mereka hadapi, canda dan tawa mereka lalui tanpa meminta sepeserpun uang dari orang tua Ani. Mungkin ini yang dinamakan jodoh ,cinta sejati dari sang Maha Kholik. Tidak bisa dipisahkan oleh apapun kecuali maut. Mereka hidup berbahagia dengan dikarunai empat orang anaknya yang sekarang dua orang sudah sarjana serta dua masih SMA. Dengan rumah yang megah hasil jerih payah Iwan selama ini tanpa kenal lelah dan tanpa menyerah. Cinta sejati berawal dengan tidak sengaja dan berakhir dengan kebahagiaan meskipun dihambat oleh pihak manapun. Inilah perjalanan cinta dengan liku-likunya.

 

 

 

 

 

Surabaya, 16 Oktober 2022

 

 

 

 

 

5 comments:

  1. Buah cinta dan kerja keras untuk hasil yang luar biasa.
    Semangat Bu Wyda, terus berkarya....

    ReplyDelete
    Replies
    1. matur nuwun Ibu, mohon selalu bimbingan dan kritikan

      Delete
  2. Sebaiknya sebelum klik "publish" ditata dulu agar spasinya lebih rapi. Kerapian membuah pembaca nyaman menikmati cerpen atau tulisan genre lain.

    ReplyDelete
  3. Terus semagat berkarya Bu Panca. Luar biasa buku-bukunya terus terbit

    ReplyDelete

Salah Paham

Versi Fiksi Mini  Oleh : Wyda Asmaningaju “Saya polisi, kamu telah terbukti bersalah atas nama hukum. Untuk tindakan selanjutnya mohon ikut ...