Tuesday, November 29, 2022

TERGANTUNG KUALITAS

 Oleh : Wyda Asmaningaju



Anda kenal dengan makanan di atas? Ya benar kalau di Surabaya dan sekitarnya bernama ote-ote, ada juga orang Jawa  tengah memberi nama bakwan, di Bandung orang menyebutnya bala-bala, Bu Widut dari Madiun memberi label weci. Bunda Telly dari Makasar menyebutnya bikang doang. Itulah kebinekaan bahasa daerah kita.

 

Ote-ote merupakan makanan yang paling disukai di semua lapisan masyarakat. Karena harganya relatif murah (kalau beli di warung) dan bisa mengenyangkan. Di kantor saya hampir setiap hari seorang teman membawa gorengan dan salah satunya pasti ada ote-ote. Mayoritas teman kantor yang belum sempat sarapan dari rumah mereka membeli gorengan untuk mengganjal perut.

 

Biasanya saat disajikan ote-ote memiliki teman setia yaitu petis atau cabe lalap. Nah terutama bagi teman yang suka pedas ote-ote sebiji bisa menghabiskan 3 sampai 5 cabe. Wah bagaimana ya rasanya?

 

Di nikmati saat hujan , pagi hari, malam hari,sambil nunggu jemputan, sambil ngopi atau ngeteh semuanya mendukung. Kalau saya menikmatinya sambil membaca buku Master Emcho S.O.S sopo ora sibuk (menulis dalam kesibukan). Saking asyiknya menyimak isi buku dengan bahasa sederhana tapi penuh makna sampai tidak terasa habis berapa yang saya makan.

 

Rasanya yang gurih dan tampilannya yang sederhana membuatnya semakin diminati banyak orang. Terkandung protein hewani dan nabati serta karbohidrat didalamnya.

 

Bahan dasarnya adalah tepung terigu, tepung beras, kecambah atau tauge serta irisan kotak kecil wortel dan bawang pre dengan bumbu bawang putih, bawang merah dan merica serta garam secukupnya. Ada juga yang menambahkan dengan udang besar ditengan-tengah bagian atas. Ada yang mengisinya dengan tiram, rumput laut bahkan cincangan daging ayam sehingga harganya bisa lebih mahal.

 

Apakah ote-ote selalu didominan oleh rakyat kecil? Jangan salah..di dalam Mall-Mall terkenal  juga banyak jajanan itu. Nah kalau di sini tampilan dan isinya beda dengan yang dijual Mak Ti di pinggir jalan, yang hanya beralaskan tanah dan beratapkan terpal. Kalau di Mall kualitas dan kebersihannya terjamin beda dengan dagangan Mak Ti yang hanya ditutup koran bekas.

 

Pada Umumnya harga ote-ote paling murah  mulai 1000 perak sampai paling mahal per biji 25 ribu yang saya ketahui di Surabaya adalah ote-ote porong. Berbeda dengan ote-ote sayur lainnya, ote-ote porong memiliki ciri khas sendiri yaitu adonannya ditambahkan kedelai halus sehingga membuatnya semakin padat.

 

Mak Ti yang kesehariannya berjualan ote-ote bisa mengumpulkan uang 50 ribu per hari (kotor) karena yang dijual per biji seharga 1000 perak. Sedangkan Bu Verina yang berjualan ote-ote di Mall bisa 10 kali lipat penghasilan kotornya karena yang dijual ote-ote per biji 25 ribu. Apa yang membedakan? kualitas barang.

 

Semakin bergengsi tempat jualan kita semakin banyak menarik orang ‘high class’ untuk membeli dagangan kita. Sekali beli mereka minim 5 biji untuk keluarganya. Jarang sekali mereka hanya beli cuma satu meskipun harganya 25 ribu sebiji.

Kalau memang tidak punya toko atau tidak mampu sewa tempat di Mall, kita bisa jualan lewat online yang tentunya mengutamakan kualitas. Dari bahan dasar yang mudah dicari dan murah kebanyakan orang bisa membuatnya.



Surabaya, 29 November 2022

Thursday, November 24, 2022

BADAI PASTI BERLALU

 By : Wyda Asmaningaju


Dari kiri Bu Qomaroh, Bu Wyda Ayu, Bu Yana

Foto : Dokumen Pribadi

 


Prnsip menjalani hidup yang selaras tanpa kenal rasa lelah, tanpa ada kata menyerah, tekad menjadi contoh yang baik untuk semuanya menjadikan tiga dara diatas sebagai sahabat. Diskusi, makan bareng, gurauan mewarnai hari-hari mereka. Suka duka selalu mereka dekap erat tanpa ada keluhan. Mendidik, mengajar dan membimbing siswa-siswi tumbuh dan berkembang sesuai dengan potensi dan bakatnya adalah tugas mereka.

 

Meskipun bekerja di Instansi swasta yang mayoritas siswanya menengah ke bawah tidak mematahkan semangat mereka untuk menjadi motivator utama bagi siswa dan guru lain.

 

Selama kurang lebih 7 tahun mereka dipercaya menjadi wali kelas IX yang sekaligus menangani pernak pernik urusan ujian, ijasah, legalisir, pas foto, sekaligus perpisahan yang biasanya di laksanakan di luar kota atau rekreasi. Mulai awal kelas IX semester 1 siswa diwajibkan untuk nabung setiap hari supaya tidak memberatkan orang tua supaya kegiatan tersebut bisa dilaksanakan dengan sukses.

 

Urusan uang yang memang membutuhkan ketlatenan harus mengumpulkan sedikit demi sedikit dan tidak menutup kemungkinan ada yang tidak mampu sehingga bisa diambilkan dari donatur sehingga semua siswa bisa senang untuk mengikutinya.

 

Pada suatu Rapat koordinasi tentang Rekreasi kelas IX Bapak Kepala Sekolah menyerahkan sepenuhnya pada tiga dara tersebut. Tempat, biaya, berapa guru yang diajak, dana untuk guru yang tidak ikut, bingkisan untuk yayasan dan lain-lain.

 

        “Bu Qom bagaimana kalau kita ke Sarangan” Usul Bu Yana

        “Ya Bu karena selama ini kita hanya ke Malang dan Yogya” tambah Bu Ayu

        “Boleh juga ya terus bagaimana kita ngurus akomodasi dan konsumsinya?”

        “Kita harus survey dulu sebelum memutuskan semuanya”

        “Okay..okay siapa takut?” serentak mereka kompak

 

Maka diputuskannya hari minggu untuk survey ke Sarangan. Dengan ijin Bapak Kepala Sekolah yang menyebutnya tiga wanita perkasa, merekapun berangkat pagi jam 06.00 dengan kereta api jurusan madiun. Perjalanan kurang lebih empat jam sampai madiun dan mereka keluar stasiun.


Tanpa tahu jelas tempatnya merekapun tanya sana sini, termasuk akomodasi apa yang membawa mereka sampai ke Sarangan. Mungkin ini yang dinamakan Bonek alias bondo nekad. Kalau dalam Bahasa Indonesia artinya hanya berbekal tekad yang kuat supaya anak-anak senang karena di Surabaya tidak ada telaga dan air terjun.

 

        “Setelah ini kita naik apa Bu Qom?”

        “Saya juga tidak tau he..he..”

        “Ayo kita tanya orang itu”

 

Sambil menunjuk orang yang jualan es di pinggir Jalan maka Bu Ayu mendahului bertanya.

        “Maaf bu kalau dari sini, apa sarangan masih Jauh?”

        “Wah ya masih jauh mbak, sampean naik bis ke maospati kemudian turun lalu naik angkot ke sarangan”

        “Baik, terima kasih bu”

Mereka bertiga sambil ngakak menyalahkan diri sendiri.

        “La ya kita bertiga tidak ada yang tau koq nekad mau kesini”

        “Semangat..semangat..tujuan kita supaya anak-anak senang”

Maka merekapun melanjutkan perjalanan yang lumayan masih jauh.

Kurang lebih sekitar pukul 14.00 mereka sampai di Sarangan. Dengan beristirahat sebentar di warung dekat telaga mereka sambil ngobrol.

        “Bu Yana, kita nanti pesan hotel yang tidak jauh dari telaga ya?”

        “Ya Bu Ayu, sekalian konsumsi juga termasuk didalamnya biar kita gak repot lagi”

 Bermodal Jalan kaki mereka bertiga memastikan hotel yang tidak mahal dan sekalian konsumsi juga include didalamnya. Dari sekian hotel yang ditemui akhirnya mereka memesan “Graha Cirro Stratus” untuk waktu tertentu dan jumlah tertentu.

 

Penginapan milik Angkatan Udara ini memang disewakan untuk umum selain memiliki lapangan luas juga strategis letaknya tepat didepan telaga Sarangan. Kamarnya yang luas dan bersih serta harga konsumsi yang tidak begitu mahal menjadikan semuanya bisa dijangkau.

 

Setelah membayar DP Bu Qom tak lupa meminta service atau pelayanan ekstra.

        “Jangan lupa Pak untuk makan tambah krupuk ya dan untuk sewa penginapan kita di discount”

Sambil manggut mengiyakan petugas yang separuh baya hanya tersenyum simpul.

        “Jangan khawatir mbak, disini tidak akan kecewa. Kami akan melayani dengan baik”

Setelah cukup urusan kami segera mencari kendaraan untuk ke kota. Alangkah kagetnya ketika seorang sopir yang kita tanya menjelaskan.

        “Sekarang sudah jam 5 sore bu ini kendaraan terakhir yang menuju ke kota”

Saya lihat ke dalam mobil penuh sayur-sayuran yang dibawa dua orang. Alhamdulillah masih di tolong angkot terakhir meskipun mobil sayur. Sambil menahan nafas karena bau tumpukan  kubis didalam angkot, mereka ngakak dalam hati. Menikmati perjalanan yang teman lain tidak dapatkan. 

 

*************


Lamunanku dikagetkan oleh nada dering Handphone yang setelah saya lihat Bu Yana video call.

        “Assalamu’alaikum Bu Ayu”

        “Wa’alaikum salam, Bu Yana”

        “Bagaimana keadaannya sekarang?”

        “Alhamdulillah… dua hari yang lalu aku menjalani operasi kanker payudara, kemarin di ruang observasi karena tiroid ku berulah dan sekarang sudah di ruang inap”.                                                                                                                                                                                                                                                                                                   

Bagai petir menyambar disiang hari, seakan jantung ini berhenti. Sahabat yang kini tidak bersama lagi  tiba-tiba mengabarkan hal yang tidak pernah terpikir olehku. Dengan berusaha menyembunyikan perasaan aku coba menguatkan hati untuk tidak lebai didepannya.                                                                                                                                                                      

Dengan segenap hati tanpa menyesal atau menangis bibirnya lancar mengucap semua hal yang terjadi. Bu Yana beberapa lalu menderita tiroid yang menyerang matanya dan belum sembuh masih ditambah ada kanker yang harus dioperasi.

 

Ya Allah… berilah kesembuhan pada sahabatku ini sehingga dia bisa melanjutkan perjuangan demi anak-anak bangsa, meskipun aku tidak bisa hadir bersamanya lagi.

 

Seketika Bu Ayu menambahkan video call untuk Bu Qom supaya bisa gabung bersama. Alhamdulillah segera diterima dan kita bertiga bisa saling mensupport Bu Yana supaya lebih tegar dengan musibah ini. Menata hati yang memang dituntut untuk kuat menjalani nasib atau bagian hidup kita masing-masing. masih ada tiga gadis cantik yang mengharap kesembuhan bu Yana sebagai mama tercinta dikeluarganya. Jalani dengan banyak bersyukur yakin badai pasti berlalu.

 

 

 

 

Surabaya, 23 November 2022

Sunday, November 20, 2022

DENGARKAN AKU

 By. Wyda Asmaningaju





Perjalanan hidup seseorang tidak bisa ditebak oleh siapapun termasuk dirinya sendiri.  Rezeki, jodoh dan maut sepenuhnya bukanlah hak kita untuk mengetahuinya. Sang Sutradara Hebat yang sudah menulis di lauhul Mahfuz semua skenario kehidupan. Senang, sedih, tangis, bahagia adalah bumbu kehidupan supaya menjadi penyedap rasa sehingga manusia bisa mengambil hikmah dalam setiap langkah. Apa saja hikmah dari kisah berikut ini? Yuk simak !

 

Sambil berbaring di atas sofa lobby, Danita mengungkapkan isi hatinya kepada Santi yang menemaninya duduk dengan santai selagi istirahat makan siang di kantor.

        “Santi..apa perasaanmu ketika suamimu memperlakukan kamu sebagai bawahan?”

        “Maksudnya bagaimana?”

        “Ya seperti bawahannya misalnya ambilkan ini dan itu, cuci bajuku, bersihkan

Sepatuku, cuci piringku dan sebagainya tanpa ada kata tolong”

        “Kalau menurutku hal itu sudah biasa. Kita para istri memang wajib melakukan pekerjaan untuk suami”

        “Ah kamu gak ngerti maksudku sih… dengarkan aku ya.. nyuruhnya itu seperti pegawainya atau bawahannya. Nadanya tinggi sambil nunjuk-nunjuk”

        “Ya memang suamimu kan direktur,wajar saja kalau menyuruh anak dan istrinya seperti halnya bawahannya mungkin sikapnya itu terbawa sampai ke rumah”.

        “Dari awal menikah sampai punya dua anak suamiku tidak pernah bantu aku sedikitpun dalam hal urusan rumah. Eh cuci piring, setrika, cuci baju bahkan nyapu saja lo gak pernah. Dia taunya hanya kasih uang tanpa memperhatikan tumbuh kembang anaknya atau memperhatikan perasaan istrinya. Apakah kalau aku sakit atau menanyakan pekerjaanku bagaimana dia tidak peduli. Mungkin menurut dia hanya uang yang bisa membeli apa saja”

        “Ah menurutku tidak ada yang aneh pada suamimu. Orangnya khusuk sholatnya dan tajir he..he.. tanpa uang kamu tidak bisa beli apa-apa Sis..”

Perbincangan mereka seperti itu seringkali diungkapkan Danita selagi ada waktu senggang di kantor tapi Santi tidak menanggapinya dengan serius.

Mempunyai suami yang sholeh dan kuat imannya adalah sangat didambakan oleh seorang muslimah sejati.

 

Sesuai pengakuan Danita pernikahannya atas dasar dijodohkan oleh ibunya dengan pertimbangan suaminya bekerja di Perusahaan Minyak bumi dan sudah mempunyai mobil dan rumah sebelum menikah. Suami Danita adalah orang Betawi yang mempunyai banyak saudara. Mulai belum menikah adik-adiknya sering minta dibelikan barang-barang mahal mungkin karena kakaknya sudah menjadi pimpinan perusahaan. Pertimbangan orang tua pastilah ingin melihat buah hatinya mapan dalam berumah tangga, tidak lebih dari itu.

 

Danita berasal dari keluarga sederhana dan terpandang di kampungnya karena Ayahnya seorang Lurah yang disegani penduduknya. Dia anak ke 3 dari  4 bersaudara. Mereka hidup saling rukun dan saling berbagi satu sama lain. Tidak pernah ada suara keras dirumahnya. Orang tuanya mendidik dengan penuh kesabaran dan bertanggung jawab sehingga keempat-empatnya bisa sampai sarjana semua.

 

Suatu pagi yang Indah Danita bercerita lagi mengenai suaminya.

        “Kamu tau kan sekarang aku sakit, tapi suamiku tidak mau tau sama sekali. Pokoknya tidak pernah pedulikan aku dan anak-anak”.

        “Ya mungkin orangnya repot, banyak kerjaan sehingga tidak tau kalau kamu sakit. Ngomong dong kalau sakit!”.

        “Percuma kayaknya ngomong sama kamu. Gak pernah membela aku malah membela suamiku”.

        “Maaf Danita bukan itu maksudku. Setiap pasangan hidup itu sudah menjadi rezeki masing-masing jadi tidak boleh protes dengan takdir. Kita harus menyesuaikan dengan suami kita supaya bisa seirama berjalan mengarungi samudra kehidupan”.

        “Tapi kenapa aku terus yang harus menyesuaikan? Kenapa dia tidak mau belajar menyesuaiakan?”.

        “Wah..aku gak bisa jawab ini..tanyakan saja pada rumput yang bergoyang”.

Sambil ngakak Santi mengalihkan pembicaraan dengan tema lain.

        “Ayo kita shopping! Mau pergi kemana tuan putri, hamba siap untuk menemani”

 

Santi yang sederhana dalam berpikir sering menemani Danita ke Mall untuk melupakan sejenak urusannya atau kepenatannya dengan suaminya. Harta yang mungkin tidak habis dimakan tujuh turunan sering dihamburkannya untuk membeli sesuatu yang tidak bermanfaat. 

Tapi Santi tidak mau memanfaatkan kekayaan Danita karena dinilai Danita memang butuh teman untuk curhat supaya dia tidak melampiaskan ke orang lain. Bahkan orang tuanya dan saudara-saudaranya menganggapnya Danita dan suami baik-baik saja. Tidak terasa pernikahan mereka sudah menginjak usia 17 yang seharusnya di usia tersebut hubungan suami istri semakin penuh kasih sayang dan pengertian.

Bulan berganti sampai pada suatu saat Danita dan Santi menghadiri pesta pernikahan teman sekantornya yang berada di luar kota. Mereka membuat janji bertemu di suatu daerah pinggiran kota dan masing-masing membawa mobil.

Santi sudah menunggu kurang lebih 10 menit tapi Danita masih belum kelihatan. Tanpa pikir panjang diambilnya handphone yang ada di dashboard mobilnya.

        “Hallo.. kamu sudah sampai mana?”.

        “Ya sebentar lagi sampai”.

Tepat didepan mobil Santi tampak sedan merah Danita berhenti. Seketika Santi keluar dari mobil dan memastikan apakah benar Danita yang datang.

Danita juga tampak keluar dari mobil dan berjabat tangan dengan Santi. Dengan memperhatikan mobil Danita masih ada orang lain yang belum turun tepatnya di sebelah kanan (Sopir). Tanpa basa basi Santi langsung menanyakan orang itu.

        “Kamu dengan siapa?”

        “Sasminto”

Astaghfirulloh… nama itu sering terngiang dari bibir Danita menyebutkan teman SMA yang simpati dengan nasibnya. Bahkan dia sering datang ke rumahnya meskipun ada suaminya. Apakah mereka selingkuh? Padahal Sasminto juga mempunyai anak dan istri tapi kenapa pergi berdua dengan Danita diijinkan istrinya? Ya Allah... semoga perkiraanku salah.   

Setelah bersalaman merekapun masuk ke mobilnya masing-masing. Perjalanan yang membuat Santi tidak nyaman meskipun dia tidak satu mobil dengan Danita. Hatinya selalu memohon untuk kebaikan Danita dan keluarganya.

Sesampainya di pesta semua mata tertuju pada Danita dengan kedatangan yang mengejutkan semua teman. Bertanya-tanya dengan siapa dia hadir? Tapi Danita dengan santai menjawab beribu pertanyaan bahwa Sasminto adalah teman SMA. Santi hampir berkata kasar pada Danita tapi ditahannya dengan perlahan dia berbisik.

        “Apa maksudmu mengenalkan Sasminto pada teman-teman? Apa memang Pak Ahmad sudah tidak bisa menjadi suami yang baik sehingga kamu pindah ke lain hati?”

Danita hanya tersenyum dengan menyimpan seribu jawaban.

Tahun berganti tahun Danita masih menjadikan Sasminto sebagai pahlawan dalam rumah tangganya. Tanpa berputus asa selain mengingatkan dan menyadarkannya, Santi juga setiap saat memohon kepada Dzat yang Maha Hidup supaya Danita kembali ke jalan yang benar. 

Pada hari kamis depan Santi akan menunaikan ibadah Haji bersama suami. Persiapan demi persiapan sudah dilakukan mulai hari ini. Tak lupa Santi berpamitan dengan Danita. Meskipun kepergian Santi hanya untuk sementara tapi Danita sangat kehilangan sahabatnya itu.

Sesampainya di tanah suci Santi bisa sejenak melupakan masalah Danita. Tapi pada saat Ziarah ke Jabal Rahmah dia memohon do’a untuk Danita dan Suami tercinta supaya diberi kelanggengan sampai maut memisahkan mereka. Setelah kembali ke hotel yang baru saja sampai di lobby HP nya tersambung internet dan ada panggilan dari seseorang. Setelah diangkat ternyata dari Danita.

        “Assalamu'alaikum..”

        “Wa'alaikum salam”

        “Maaf Santi, aku mengganggu ibadahmu”

        “Tidak koq..ini aku barusan dari Jabal Rahmah”

        “Begini, dengarkan aku sebentar ya..aku minta maaf sekali karena selama ini aku selalu marah, kesal dan benci selama dirimu mengingatkan aku untuk tidak selingkuh…hu..hu..hu”

Tangisnya pecah sambil terbata-bata sambil menjelaskan.

“Aku baru sadar sekarang kalau selama ini tidakanku salah dan Alhamdulillah suamiku bisa merubah sikapnya dan mau mengerti aku. Sekarang suamiku lebih sayang aku dan anak-anak daripada pekerjaannya sendiri.”

Alhamdulillah … Ya Allah Engkau kabulkan setiap do’a yang kupanjatkan dengan tulus dan ihklas untuk sahabatku yang kehilangan arah.  Pada saat hamba ibadah di Mekkah KAU sadarkan Danita yang kurang lebih dua tahun selingkuh dengan orang lain. Memang ketulusan do’a menembus Arsy. Persahabatan tulus tanpa memandang kekayaan atau jabatan. 

 

 

 

 

Surabaya, 20 November 2022

Thursday, November 17, 2022

OUTING CLASS

 By. Wyda Asmaningaju


Pembelajaran diluar kelas (Foto:Dok.Pribadi


        Sekitar 73 armada bemo yang sudah siap mengantar keberangkatan siswa-siswi SMP Negeri 31 Surabaya untuk mengikuti kegiatan pembelajaran di luar kelas dengan menonton film “Jo sahabat sejati” di Marvell City”. Baik siswa reguler maupun inklusi berparisipasi mengikuti kegiatan tersebut didampingi oleh masing-masing guru pendamping. Tepat pukul 09.00 keberangkatan yang mengasyikkan seperti pawai beriring-iringan sampai kurang lebih 90 menit perjalanan. Film yang terjadwal jam 11.00 - selesai diikuti anak-anak dengan tertib.

 

Awalnya dimulai dari 3 sahabat sepulang sekolah, Danar salah satu dari mereka mengajak ke tempat tertentu.

        “Nar kenapa kamu mengajak kesini’ Tanya Cinta

        “Ya nar, apa kamu punya maksud tertentu’ tanya Genta

       “Kalian ingat beberapa waktu lalu kita hampir jatuh dari jurang dan ditolong oleh Jo, kuda yang baik dan penolong’

        “Ya aku masih ingat sampai sekarang, makanya aku sayang Jo” kata Cinta

        “Bukan kamu saja cin tapi kita semua sayang Jo”

Ayo sudah sore sekarang kita pulang.

Jo adalah kuda peliharaan milik Arif guru mereka. Tidak hanya mereka yang sayang terhadap Jo tapi semua warga desa di Sumedang juga menyayanginya.

Pada suatu hari dirumah Arif kedatangan tamu yang bertindak kasar pada ibunya dengan tujuan menagih hutang peninggalan almarhum ayahnya. Arif yang masih mengajar di sekolah bergegas pulang setelah diberitahu oleh adiknya Lisa tentang kedatangan tamu tersebut.

        “Saya akan mengambil kudamu kalau kamu tidak membayar hutang suamimu”

     “Tolong jangan sampai tahu anak saya tentang hal ini. Biarlah cincin kawin ini yang akan kubayarkan untuk melunasi hutang suami saya”

        “Ah mana cukup…”

Setelah beberapa lama Arif dan lisa sampai dirumah pada saat rentenir itu mau mengambil kudanya”

        "Jangan ambil kudaku, ini ambil motorku saja” Kata Arif sambil melemparkan kontak motornya

        “Boleh juga motor ini’

Langsung dibawanya pergi motor Arif dan cincin kawin Ibu Arif tanpa mengucap terima kasih.

Hari berikutnya Lisa, adik Arif akan melanjutkan kuliah di Yogyakarta.

        “Kak Arif aku belum bisa berpisah dengan Jo, siapa yang akan menemani Jo kalau aku jauh”

        “Kan ada aku yang menemani Jo”

        “Kakak kan ngajar kalau pagi.terus Jo sama siapa?”

        “Ada Ibu kan”

        “Ibu gak pernah peduli pada Jo”

       “Ssstttt.. jangan bicara begitu..sudah… kamu fokus kuliah saja sudah lama kamu cuti sekitar 6 bulan sejak ayah meninggal”

Keesokan harinya Arif dan pacar Lisa sudah bersiap mengantar Lisa, sementara dia masih berbicara dengan Jo.

        “Jo… aku akan pergi sebentar dan aku pasti kembali..kamu baik-baik ya”.

        “Ayo Lisa.. kakakmu sudah siap didepan”

 

Dengan berat hati melihat Jo yang tidak menatapnya, Lisa berpamitan pada Ibunya dan segera naik mobil Pick up bersama kakak dan pacarnya.

Sepanjang perjalanan Lisa hanya diam seribu basa dan bulir-bulir air membasahi pipinya. Kakaknya hanya bisa membelai untuk menenangkannya.

Tanpa disadarinya Jo lepas dari kandang dan mengejar mobil itu.

Tampak dari Spion Lisa melihat jo yang kencang berlari dan langsung dipanggilnya.

        “Jo…Jo…Jo…”

Seketika mobil dihentikan dan Lisa berlari turun memeluk Jo sambil menangis.

       “Jo…pulang..aku akan kembali..sekarang pulang Jo”

Persahabatan yang tidak bisa diungkapkan oleh kata-kata. Kasih sayang yang diberikan Arif dan lisa selama ini membekas pada insting kuda ini.

Setelah beberapa kali disuruh Lisa pulang maka Jo berbalik arah pulang ke rumah.

Keesokan harinya Arif bersiap mengajar di SMPN 10 Sumedang. Setelah memberi makan Jo diapun berangkat.

        “Sudah ya Jo ini makan dan minummu”

Setelah ditinggal agak jauh Jo gelisah didalam kandang dan berusaha untuk keluar. Sampai suatu saat kayu penutup ditendang dan dia bisa lepas mengejar Arif yang akan bekerja.

        ‘Jo pulang, kamu tidak boleh ke sekolah”

Tanpa menghiraukan kata-kata Arif Jo tetap berjalan menemani Arif ke sekolah.

 

Di tengah Jalan Pak Galih yang bersama istrinya dikebun memanggil Jo dan Arif.

        “Apa Jo mau dibawa ke Sekolah Pak Arif?

        “Iya nih pak, Jo tidak mau ditinggal”

        “Eh jangan atuh…biar Jo bermain dengan saya disini”

        “Ah nanti mengganggu pak”

        “Tidak..tidak..biar disini membantu saya”

Sambil memegang kendali Jo, Pak Galih menautkan talinya dipohon. Disitu juga bersamaan istrinya yang bernama nurul (Ibunya Cinta) yang merasa sesak nafas.

 

Beberapa lama Jo melihat ular didepan Bu Nurul dan meringkik keras sambil mengangkat kaki depannya tinggi-tinggi. Mungkin karena takut dan kaget dengan tingkah laku seperti itu Bu nurul sempat pingsan dan tidak tertolong lagi. Begitu menyaksikan istrinya bernafas lagi sontak Pak Galih berteriak minta tolong.

        “Tolong…tolong..Jo membunuh istriku”

 

Penduduk sekitar berdatangan. Anak-anak sekolah beserta Pak Arif berlarian ke kebun yang jaraknya tidak jauh dari sekolah mendatangi suara itu.

Cinta merasa sangat kehilangan ibunya. Kata-kata ayahnya membuat Jo sebagai terdakwa. Tanpa berpikir panjang juga penduduk sekitar mulai membenci Jo menganggap sebagai pembawa bencana.

Maka atas perintah Kepala Dusun Jo harus keluar dari desa supaya tidak terjadi lagi beberapa bencana didesa.

Cinta yang semula percaya kalau Jo penyebab kematian ibunya disadarkan oleh kedua sahabatnya.

        “Apa kamu yakin Cin, Jo yang membunuh ibumu? Apa masih meragukan kesetiaan Jo?”

        “Iya Cin, pasti Jo punya alasan sehingga dia mengangkat kaki depannya sehingga ibumu takut.

 

Dengan niat yang kuat mereka bertiga menemui Pak Arif yang akan membawa Jo keluar desa. Disaat Pak Arif lewat sambil menuntun Jo mereka berteriak.

         “Pak Arif… kami tau tempat Jo yang aman”

Sambil berjalan mendaki dan menuruni bukit berempat dengan menuntun Jo. Sampai pada suatu tempat padang yang luas mereka berhenti.

“Nah disini tempatmu Jo, kita akan membuat kandang yang nyaman untuk Jo tersayang”

 

 

 Mereka berempat membawa Jo Ke suatu tempat (Foto: dok. Pribadi)

 

Bekerja sama dengan hati riang membuat kandang yang jauh dari penduduk. Setiap hari dikunjungi untuk memberi makan dan minum serta memandikannya.

Hari berganti hari, sampai pada suatu saat disekolah mereka mengadakan pentas seni yang melibatkan semua siswa untuk berpartisipasi didalamnya.  Acara demi acara berlangsung sampai hampir  selesai.

Tanpa disadari ada korsleting listrik yang mengakibatkan percikan api dan semakin membesar di atas gedung sekolah. Mereka berhamburan keluar dan saling bantu membantu. Jo yang jauh tempatnya dari desa itu merasakan bencana ini. 

Dia meringkik keras dan melepaskan tali yang mengikatnya. Tidak begitu lama Jo sudah sampai di depan sekolah Arif dan membantu mengeluarkan orang-orang yang terjebak si Jago merah. Terakhir yang dia tolong adalah 3 sahabat kecilnya yaitu Cinta, Danar dan Genta. Alhamdulillah mereka selamat. Tapi Jo kejatuhan kayu berapi sehingga tubuhnya lemas dan meninggal.

 

Sebagian besar anak-anak menangis terbawa perasaan. Persahabatan tidak selalu dengan sesama manusia tapi Binatang juga mempunyai insting yang bisa merasakan kasih sayang kita dan bisa membalasnya.


Guru Pendamping (Foto: Dok. Pribadi)

 

 

Surabaya, 18 November 2022


Salah Paham

Versi Fiksi Mini  Oleh : Wyda Asmaningaju “Saya polisi, kamu telah terbukti bersalah atas nama hukum. Untuk tindakan selanjutnya mohon ikut ...