Oleh : Wyda Amaningaju
Suasana pagi di SMP Negeri 31 Surabaya tampak beberapa siswa berlarian menuju kelas masing-masing setelah bersalaman dengan beberapa guru piket di depan gerbang. Beberapa menit kemudian bel berbunyi dan semua siswa sudah berada di dalam kelas dilanjutkan dengan pembiasaan tepuk dan salam PPK serta do’a. disebuah kelas 8A tampak Bu Ayu memperkenalkan siswa baru.
“Selamat pagi anak-anak”
“Selamat Pagi Bu Ayu”
“Anak-anakku pagi ini kita mendapat saudara baru di kelas ini, namanya Aulia Zahra pindahan dari SMP Al-Hikmah. Aulia pindah sekolah karena ikut neneknya yang tinggal di dekat SMP kita. Nah silahkan Aulia perkenalkan dirimu dengan teman-temanmu.
Tampak Aulia sambil menunduk bersuara pelan mengenalkan dirinya tanpa melihat orang yang diajak bicara.
“Nah sekarang Aulia silahkan duduk di sebelah Gita karena satu-satunya kursi sebelahnya masih kosong.
Dengan langkah pelan sambil menggendong ranselnya dia duduk di sebelah Gita yang sangat ramah menyambutnya.
Bel istirahat berbunyi semua siswa kecuali Aulia dan Gita berhamburan keluar menuju kantin yang tidak jauh dari kelas 8A.
Tapi Aulia masih terlihat sedih tanpa ekspresi, meskipun Gita bersikap ramah padanya. Akhirnya Gita mencoba bertanya.
“Maaf ya kenapa kamu pindah? Kan enak sekolahmu besar dan bagus.”
Begitu mendengar pertanyaan Gita saat itu juga tangis Aulia meledak sambil mengatakan.
“Aku benci mama .. aku benci semua ….”
“Maafkan aku kalau pertanyaanku menyinggungmu”
Tanpa disadari Aulia menangis di bahu Gita dan langsung tangan Gita memeluknya untuk menenangkan. Setelah tangisnya mereda Aulia menceritakan apa alasan kepindahannya.
“Tahun kemarin aku dan kembaranku laki-laki bernama Andanu masuk SMP Al-Hikmah. Setelah rapor semesteran ternyata rapotku jauh dari harapan mama karena memang IQ ku lebih rendah dari Andanu. Aku tidak bisa mengikuti pelajaran disana terutama Agama yang membuatku tambah pusing. Tapi mama dan papa selalu memarahi aku dan menyuruh aku lebih giat belajar. sampai pada suatu saat nenek datang berkunjung kerumah dan meminta aku untuk tinggal dirumahnya sekaligus memindahkan aku dari Sekolah ternama dan berkelas itu.
“Oh begitu ceritanya, okay sekarang kamu punya masa depan baru di sini meskipun sekolah negeri tidak kalah koq dengan Swasta yang berkelas. Saya akan menemani kamu belajar, bermain dan apa saja deh. Tapi harus janji kamu harus senyum dulu ya!”
Sambil memandang Gita, Aulia tersenyum dan mengangguk tanda setuju.
“Nah gitu kita sekarang jadi team hebat ya, ayo basuh mukamu dengan air, itu sepeti badut”
Akhirnya mereka menjadi sahabat yang saling berbagi dan saling mengisi tanpa ada air mata lagi. Aulia menjadi pribadi yang ceria dan santun.
Surabaya, 6 Desember 2022
Semoga ada kisah kisah lain yang menarik dari celoteh siswa SMP, siap menyimak
ReplyDeleteMatur nuwun bunda
DeleteMantab. Saran ada beberapa kata yang perlu dibetulkan
ReplyDeleteTerima kasih masukannya
DeleteCerita yang menarik. Smg istikomah
ReplyDeleteAamiin..Matur nuwun Bapak
DeleteSelalu ada cerita di sekolah. Semangat....
ReplyDeleteTerima kasih Bu mien
Delete