Thursday, December 8, 2022

MENGEJAR CITA

 Oleh : Wyda Asmningaju


Nihayatut Thoyyibah (dok. Pribadi)


Namanya Nihayatut Thoyyibah (Nia). Kami memanggilnya adik karena memang paling keci di keluarga kami. Dari kecil selalu ceria, lincah dan aktif, tidak mau nganggur sedikitpun. Saat usianya 2 tahun dia minta sekolah padahal kami sebagai orang tua tidak bisa mengantar karena kesibukan masing-masing.

        “Ma kenapa aku gak sekolah? Padahal kakak 2 tahun sudah sekolah”.

        “Ya dulu mama masih belum padat kegiatannya dik jadi bisa antar jemput kakak”

        “Tapi aku pingin sekolah ma”

Supaya tidak terkesan membeda-bedakan anak, kami berusaha untuk mengikutkan kegiatan apa saja yang tentunya kami bisa mengantar jemput. Akhirnya kami menemukan sanggar tari di gedung Cak Durasim Genteng kali. Mulai tari tradisional sampai modern diikutinya. Tampak dia sangat enjoy dengan kegiatannya tiga kali setiap minggu. Pada saat memasuki Sekoah Dasar dia sudah mulai capek dan memintanya berhenti. Pada saat pulang sekolah dia selalu harus nunggu saya karena dia pulangnya lebih cepat. Disela-sela waktu nunggu saya maka dia memberi les temannya.

        “Ma, aku ngelesi Hendra karena kasihan dikatakan teman-teman bahwa Hendra bodoh”

Siswa kelas 1 SD sudah bisa memberi les temannya. Pemandangan yang unik bagi saya. Layaknya seorang guru, dia memberi soal dari bacaan yang sudah ditulisnya. Gurunya sampai terheran-heran, rasa pedulinya terhadap teman sangat tinggi.

Karena memang di Sekolahnya kebanyakan masyarakat menengah ke atas yang sekolah di situ.

 

Ketika di kelas 5 dia mulai mengeluh dengan pelajaran matematika.

        “Kenapa ya Ma, aku selalu lupa rumus matematika?”

        “Ya belajar terus biar gak lupa”

        “Sudah ma, sekarang ingat tapi pada saat ulangan ilang semua”

Kami sebagai Orang tua selalu memotivasi anak-anak, Sholat dan belajar tidak pernah sampai disuruh. Dia merasa kurang dalam matematika tapi selalu berusaha untuk belajar dan tanya teman atau gurunya. Samp pada saat ujian kelas 6 nilai yang dimilkinya cukup memuaskan akhirnya bisa daftar di SMP Negeri 39 Surabaya.

 

Ternyata kelemahannya tadi masih menghantui sampai di SMP. Berbagai cara dia tempuh supaya tidak lupa dengan rumus matematika kecuali kursus. Dia memang tidak mau mengikuti kursus apapun karena yang dilihat kakaknya tanpa kursus sudah bisa menyelesaiakan tugasnya dengan baik.

 

        ‘Kamu mau les ta nak, supaya membantu sedikit menyelesaiakan masalahmu”

        “Tidak usah Ma, buang-buang uang saja. Kakak tidak les ya pinter”

        “Tapi adik kan punya masalah dalam matematika, jadi butuh les nak”

        “Aku tanya teman dan guru sudah cukup ma”

 

Setiap pagi sebelum masuk sekolah dia selalu sholat Dhuha di musholah sekolah dan sudah menunggu gurunya dengan berbagai pertanyaan dan soal-soal matematika. Usaha itu dilakukan kurang lebih 3 tahun sampai lulus. Saat ujian pun dia masih melakukannya. Padahal sudah saya bilang

        “ kalau ujian gak usah beljar dik, kan sudah belajar tiap hari”

        “Aku mudah lupa ma jadi harus belajar terus, tidak seperti kakak?

Sampai pada suatu waktu gurunya mengatakan.

        “waduh anakku sudah pinter matematika ya”

Alhamdulillah berkat ketekunannya dia masuk SMA Negeri 1 Surabaya. Sedikit berdebat dengannya saat akan memilih jurusaan supaya memilih  IPS karena takut tidak mampu mengikuti program IPA.

        “Dik, tidak harus orang IPA nak yang sukses. Kalau memang kamu harus masuk IPS gak apa apa nak”

        “Tidak ma, aku milih IPA kayak kakak”

Sekali lagi cerminan kakaknya menjadikan teladan. Alhamdulillah setelah usai tes penjurusan ternyata sesuai keinginannya masuk MIPA 2. Ada seorang temannya yang mengikuti kursus dan soal-soalnya selalu dikerjakan bareng dengan Nia. Dia selalu menjadikan hari-harinya sibuk dengan diskusi dan kerja kelompok. Tidak jarang dia pulang sore hingga malam menghabiskan waktunya untuk selalu belajar dan belajar.

 

Waktu berjalan dengan sangat cepat, tidak terasa dia sudah lulus dari SMA dan siap menjadi mahasiswa. Maka dengan pilihan sendiri dia mengikuti UTBK. Pilihan pertama Universitas Gajah Mada dan pilihan kedua Universitas Malang dengan Jurusan Biologi. Dengan jujurnya dia bercerita bahwa asli cita-citanya adalah dokter.

        “Ma..sebenarnya aku pingin jadi dokter”

        “Kenapa gak milih dokter?”

        “Wuih..dokter mahal ma, bisa jual rumah kalau aku kuliah kedokteran”.

        Huush.. gak boleh ngomong seperti itu dik, siapa tau kamu bisa masuk tanpa harus mengeluarkan banyak uang”

        “Sudah,kuputuskan  milih biologi saja. Kan aku suka biologi’

        “Ya sudah mama cuma ngikut saja. Yang kuliah kan adik”

Qadarullah, kedua-duanya tidak diterima. Dengan segenap jiwa raga, kami meyakinkannya untuk mendaftar di jalur lain. Masih ada jalur terakhir yaitu jalur mandiri. Dengan didampingi kakaknya, Nia mencari universitas yang masih buka.

        “Ma, kalau aku kuliah jalur mndiri apa mama gak keberatan?”

        “Keberatan apa maksudmu?”

        “Nanti uang mama habis”

         “Ah kamu ada-ada saja. Orang tua mana yang keberatan menyekolahkan anaknya. Yang penting kamu lanjut kuliah. Kalau memang negeri tidak diterima ya swasta”

 

Dengan berbagai usaha mendaftar jalur mandiri di UPN dan PENS. Tidak lupa sebagai cadangan seandainya tidak diterima keduanya masuk swasta yang telah disetujuinya yaitu UNUSA jurusan keperawatan.

 

Alhamdulillah setelah pengumuman dan diterima di UPN Veteran Jatim prodi Agroteknlogi.

        “Dik, sekarang jadi dokternya tanaman ya he..he..”

        “Iya ma, ini dunia baruku yang memerlukan ketekunan dan keaktifan”

Hari ini dia melakukan penanaman pohon di mangrove bersama pertukaran pelajar dari luar daerah. Selamat menjalani proses dan tetap semangat mengejar cita nak..

 

 

 

 

 

 

Surabaya, 9 Desember 2022

 


No comments:

Post a Comment

 My advertisement in the last week