Oleh Wyda Asmaningaju
Dok. Pribadi
Menghabiskan hidup dan menua bersama sang suami bisa dikatakan impian Siti. Sekaligus menjadi seorang istri solehah adalah dambaannya sejak lama tapi baru hari ini menjadi kenyataan. Di malam pertama saat Sumaji melepas hem putihnya tampak ada tato gambar cewek yang bertuliskan Rien di lengan kanan atas. Siti memperhatikan dengan aneh dan diberanikannya bertanya.
“Mas.. apa itu?”
“Oh gak kok ini dulu aku pernah senang dengan anak yang bernama Rien tapi dia tidak membalasnya.”
Tampak Siti masih melongo dengan jawaban Sumaji yang tidak jelas sama sekali. Sejuta pertanyaan berkecamuk dibenaknya.
“Kalau cinta ditolak apa harus di tatto?”
“Apa gak sakit kalau di tato?”
“Kalau sudah di tato lalu apa sholatnya diterima?”
“Apa dia mantan preman?”
Wah semua pertanyaan tanpa jawaban membuatnya sedikit takut dengan sang suami. Tapi dia berusaha untuk menepis semua pikiran negatif tentang suaminya.
Sepasaran (5 hari) setelah hari pernikahan biasanya sesuai adat jawa temanten berdua di antar ke rumah orang tua suami. Berhubung Sumaji tidak mempunyai orang tua maka temanten balik ke Surabaya menuju rumah mbah putri. Mereka tidak mau diantar ayah dan ibu karena memang perjalanan terlalu jauh sehingga mereka harus naik kereta bersama. Sepanjang perjalanan Siti berusaha mencairkan suasana dengan banyak cerita tentang pengalaman kehidupan di desa yang sangat mengasyikkan. Sesekali dia bertanya tentang pekerjaan Sumaji supaya saling melengkapi.
Sesampainya di Surabaya mereka disambut hangat oleh mbah Putri dan keenam saudara sepupu Sumaji yang memang tinggal di rumah mbah Putri karena orang tua mereka sudah cerai. Seorang mbah mampu menghidupi tujuh cucu tanpa dibantu siapapun. Dari berjualan nasi rames dan nasi rawon di pasar, mbah putri dan ke tujuh cucunya mulai anak-anak sudah bekerja keras menghidupi dirinya sampai mempunyai banyak rumah di kampung itu sekaligus dikontrak-kontrakkan. Perjuangan hidup yang luar biasa.
Hari demi hari dilalui mereka berdua hingga genap satu bulan mereka tinggal di situ. Pada suatu malam Siti mencoba berbicara pada suaminya.
“Mas..kita sudah sebulan tinggal di sini. Apa tidak sebaiknya kita keluar cari kos atau kontrakan ya..kalau mas bersedia.”
“Memangnya ada masalah ya dek kalau tinggal di sini.”
“Ah tidak, cuma aku yang tidak enak. Kalau mau makan sudah tersedia tanpa masak. Tiap aku mau masak mbakyu-mbakyu selalu melarangku. Kapan aku bisa masak sendiri?”
“Oh itu masalahnya. Ya sudah kalau dek Siti pingin pindah ya besuk aku ngomong mbah putri dan mbakyu-mbakyu.”
Setelah mencari keliling beberapa hari yang lalu akhirnya diputuskan untuk menempati kontrakan di Surabaya pusat mendekati tempat kerja Siti. Hari itu memang mereka berdua ijin tidak bekerja karena sudah bertekad akan pindah.
“Mbah, sebelumnya kami berterima kasih sudah diberi tempat yang nyaman di rumah ini beserta kebaikan panjenengan dan mbak yu - mbak yu. Hari ini kami akan mohon ijin untuk cari kontrakan di luar karena kami ingin hidup mandiri.”
“Lah kenapa to le wong di sini rumahnya juga besar dan mbakyu mu gak keberatan sama sekali kalau kalian tinggal di sini.”
“Begini mbah supaya kami lebih dewasa dalam berpikir dan bertindak mohon ijinkan kami keluar untuk mencari pengalaman.” tambah Siti
“Oalah nduk saya akan merasa kehilangan dengan kepergian kalian berdua. Ya sudahlah kalau memang itu sudah menjadi keputusan kalian. Pesan mbah sering-seringlah main ke sini ya.”
“Nggih mbah.” jawab mereka kompak
Meskipun tinggal di rumah kontrakan yang tidak begitu luas tapi merupakan surga dunia buat Siti tentunya. Mau apa-apa bebas tanpa harus menahan rasa sungkan dengan orang lain. Setiap sore hari adalah waktu yang sangat berharga untuk temanten baru tersebut pasalnya mereka bisa saling bercengkrama dan berbagi cerita setelah bekerja seharian.
Suatu sore Sumaji yang sudah mulai akrab dengan sang istri mengisahkan dirinya panjang lebar.
“Aku mulai lahir sudah tidak melihat ibuku karena setelah melahirkan ibuku langsung meninggal dan disusul oleh bapakku beberapa bulan kemudian. Jadi aku mulai kecil sudah ikut mbah putri. Waktu aku khitan dirayakan dengan wayang kulit karena mbah putri uangnya banyak.’
“Dek, sebenarnya setelah lulus SMP aku sudah kerja ikutan anak-anak. Kadang masang dekor, kadang masang terop dan banyak lagi, tapi uangnya tak hambur hamburkan he..he..”
“Maksudnya apa uangnya dibuang?”
“Bukan dibuang dek tapi tak buat main dan judi.”
“Astaghfirullah..” Siti terperangah sambil menutup mulutnya
“Ya…tapi itu kan dulu masih bujangan, belum punya kewajiban menafkahi kamu.”
“Tapi mas janji ya..semua hal yang dilarang Allah itu tidak akan dilakukan lagi selamanya..”
“Siap cantik..”
Siti berusaha semaksimal mungkin mendekap erat kesabaran yang dimilikinya. Menurutnya suami adalah rezeki terbaiknya yang dikirim Allah sebagai sarana menuju surgaNYA. Siti bersikap selalu rendah diri dan mencoba memahami karakter sang suami yang barusan dikenalnya adalah cara terbaik berpacaran setelah menikah. Selalu berpikiran positif tentang sang suami tercinta meskipun ada pernak pernik sebelumnya. Dia berusaha menghargai dan taat kepada suami sebagai pimpinan rumah tangga atas dirinya yang suatu saat menjadi ayah dari anak-anaknya. Siti berusaha memenuhi kebutuhan suami untuk mewujudkan keluarga sakinah, mawadah dan warahmah.
BERSAMBUNG
3 jANUARI 2023
Pamitan pindahnya mungkin perlu ditunjukkan. Mungkin ada debat sedikit. Ditunggu kelanjutannya
ReplyDeleteSiap menunggu kelanjutan nya
ReplyDelete