Oleh : Wyda Asmaningaju
Bu Yatni sedang mengerjakan rapor online. (Dokpri)
Hari pertama saya menginjakkan kaki di bumi yang baru, disambut hangat oleh Bu Yatni yang mempunyai nama lengkap Achadijatni, S.Pd. Beliau tampak sangat senang dengan kehadiran saya karena mengurangi beban mengajar beliau yang kurang lebih selama 2 tahun selalu mengajar 40 Jam setiap minggunya. Sebuah korelasi yang memilukan kekurangan guru Bahasa Inggris di SMP Negeri berdampak membengkaknya jumlah jam mengajar.
“Alhamdulillah, akhirnya jam saya berkurang. Terima kasih Bu Ayu atas kedatangannya.”
Beliau yang pada saat itu berusia 55 tahun dan selalu semangat dalam berkarya merupakan sosok Ibu yang adil bagi saya, bagaikan ibu kos setiap pagi selalu mengisi tiap-tiap meja dengan makanan yang dibawanya. Kami mempunyai meja sendiri-sendiri di ruang guru dan seingkali meskipun penghuninya belum datang tapi meja sudah terisi makanan dari Bu Yatni.
Hari - hari yang indah kita lalui bersama sebagai team solid Bahasa Inggris. Saling sharing, konsultasi, diskusi, makan bareng, guyon bareng dan tak lupa shopping bareng.
Kadang beliau menanyakan tentang hal yang belum diketahuinya misalnya yang berhubungan dengan IT . Menurut saya Bu Yatni orangnya cerdas sekalipun awalnya harus diajari tapi tidak lama kemudian beliau lancar mengerjakan sendiri tanpa bantuan orang lain.
Prinsip hidupnya yang tidak mau merepotkan orang lain tercermin dalam segala hal. Misalnya mengerjakan rapor online, membuat soal di microsoft form yang harus di masukkan microsoft team, zoom dengan peserta didik dan lain sebagainya dilakukannya sendiri. Semangat kerjanya luar biasa tidak kalah dengan PNS usia 30an. Datang tepat waktu (bahkan setengah jam sebelumbel masuk) dan selalu mengisi hari-harinya dengan pembelajaran yang kreatif. Selalu mengutamakan pembentukan karakter pada siswa.
Pribadi yang tangguh, disiplin dan sangat bertanggung jawab apalagi dalam hal keuangan. Mengedepankan tanggung jawab dunia akherat, sehingga tidak ada uang sekolah sepeserpun yang dipegangnya terselip atau hilang tanpa catatan. Beliau selalu menjadi inspirator dan motivator buat saya khususnya untuk selalu berbuat baik tanpa harus dilihat orang lain.
“Semua perbuatan yang kita lakukan kembalinya pada diri kita Bu Ayu, Gusti Allah gak sare (tidak tidur) tidak usah ditunjuk-tunjukkan kalau mau berbuat baik”.
Sambil menunjukkan beberapa contoh teman yang kerjanya hanya kalau ada Kepala Sekolah saja.
“Mereka digaji Pemerintah plus tunjangan keluarga tapi kerjanya asal-asalan, padahal gajinya dimakan anak istri dan selebihnya itu akan menjadi penyakit.”
Petuahnya sarat dengan pertanggung jawaban dunia akherat yang nantinya pada saat di Yaumil akhir semua manusia akan dimintai pertanggung jawaban selama hidup di muka bumi. Tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah selalu Beliau teladankan pada setiap sudut kehidupannya. Menjadi Ibu, teman dan sahabat yang sangat bijaksana kerap kali ditunjukkan kepada semua rekan kerja tanpa pilih kasih.
Saya diajak keliling sekolah kalau ada waktu luang untuk merencanakan program adiwiyata yang sekiranya bisa beliau terapkan. Diceritakannya tempat-tempat bersejarah di sekolah ketika beliau mengajar tiga puluhan tahun silam. Diceritakannnya pula perjuangan beliau mulai merintis koperasi yang mulai tidak punya uang sama sekali sampai punya modal puluhan juta rupiah.
Tidak jarang beliau menunjuk saya dalam berbagai aksi kegiatan yang membutuhkan kerja keras, pemikiran ketat dan kreativitas. Selama saya bisa dan ada yang membantu, saya enjoy dalam melakukannya. Kerja ihklas sudah sering beliau tunjukkan tanpa banyak mengeluh dalam setiap langkahnya. Pernah suatu saat muncul namanya dalam acara workshop MGMP dengan catatan membawa laptop. Beliau dengan santai mengatakan :
“Wis pokoke aku duduk di sebelah Bu Ayu supaya bisa nyontek”
Tapi kenyataannya beliau mengerjakan sendiri tugasnya sampai selesai meskipun pada awalnya harus diajari. Prinsip hidup yang seirama dengan saya menjadikan kami semakin dekat. Suaranya yang merdu sering kali mewarnai ruang guru disaat beliau sedang mengerjakan rapor online.
*****
Hebohnya kita saat menyalami Bu Yatni (Dokpri)
Hari ini tepat tanggal 16 Desember 2022 beliau berusia 60 tahun dan saatnya purna tugas. Hebatnya beliau tidak mau nangis dan malah berbagi makanan dan souvenir serta mendatangkan potoghrapher untuk mengabadikan semua kegiatan terakhir di sekolah. Setiap ruangan diabadikan beserta foto teman-teman tercinta untuk kenang-kenangan terakhir menginjak bumi sekolah. Ucapan demi ucapan beliau terima tanpa air mata sedikitpun malah kami yang merasa sangat kehilangan seakan menyesakkan dada tidak siap dengan kepergian beliau. Kami semua salut akan perjuangan beliau memajukan sekolah ini.
Kebetulan ada latihan tari Remo di lapangan yang sekaligus menghadirkan Bu Yatni untuk berada di tengah anak-anak dan memberikan pesan-pesan terakhir. Tak kalah pentingnya di hari terkhir ini beliau meninggalkan kesan dan kenangan manis dengan menyelesaikan rapor online sebagai tugas akhir setelah ulangan. Dengan demikian beliau purna dengan hati ikhlas tanpa beban sedikitpun. Selamat menjalani hari-hari baru Bu Yatni pelajaran hidup akan selalu kuingat. Semoga amal kebaikan panjenengan mengalir terus tanpa henti. Selalu sehat dan sukses dunia akherat. Aamiin Yaa Robbal ‘alamiin..
Surabaya, 17 Desember 2022
Beliau benar-benar motivator yang andal. Bersyukurlah
ReplyDeleteAlhamdulillah..terima kasih sudah singgah
DeleteIstimewa sekali Bu Yatni...semoga menjadi pengingat dalam langkah-langkah mengggapai kebajikan dalam kesempurnaan...Barakallah Bu Yatni dan Bu Ayu...
ReplyDeleteAamiin. Matur nuwun Bu Kiki
DeleteSelam at bersinergi dengan sahabat baru
ReplyDeleteMatur nuwun bunda
DeleteAlhamdulilah ibu mendapat motivator
ReplyDeleteTerima kasih Pak Imin
DeleteBetul-betul motivator Bu! Subhanalloh! Jadi teladan kita. Trimakasih, tulisan yang menginspirasi.
ReplyDeleteSama-sama bu
ReplyDelete