oleh : Wyda Asmaningaju
Dalam memperingati hari disabilitas Internasional tahun 2022, Dinas Pendidikan Kota Surabaya menggelar berbagai macam lomba yang diantaranya adalah :
1. Menyanyi
2. Menari
3. Hafalan surat pendek
4. Mewarnai
5. Fashion show
6. Membaca puisi
7. MC
Semua Sekolah Penyelenggara Pendidikan Inklusif wajib mengikutinya. TK, SD dan SMP Negeri dan Swasta dalam naungan Dinas Pendidikan Kota Surabaya mempersiapkan para kandidatnya untuk bertanding melawan sekolah lain. Kami selaku pengajar di jenjang SMP yang serta merta disibukkan untuk menyeleksi anak didik kami yang “istimewa” juga mengikuti lomba tersebut.
Mengapa saya sebut istimewa? Karena dengan keberadaan mereka, terutama saya bisa belajar banyak tentang apa itu inklusi atau anak berkebutuhan khusus. Anak yang membutuhkan layanan pendidikan khusus supaya kedepannya bisa hidup mandiri. Ketunaan mereka bermacam-macam misalnya slow learner, tuna grahita, tuna daksa, tuna rungu/wicara dan autis.
Keunikan mereka juga bervariasi : ada yang suka belajar di pos satpam, ada yang tidak mau nulis tapi senangnya hanya menggambar, ada yang sukanya bercerita dan ada juga yang sukanya “walking-walking”. Itu yang membuat mereka istimewa bagi saya sebagai koordinator inklusi.
Sesuai arahan Guru Pembimbing Khusus (GPK) ke-tujuh siswa sudah dipilih melalui berbagai seleksi. Melalui beberapa kordinasi 7 siswa didampingi oleh 7 pendamping yang pada akhirnya harus melibatkan 5 guru reguler karena GPK kami cuma 2 orang.
Untuk lomba tingkat SMP dilaksanakan hari Rabu, 30 November 2022 di SMP Negeri 46 Surabaya. Semua sekolah mengirimkan jagonya untuk mengasah bakat mereka pagi itu. Tepat pukul 07.30 Ibu Tri Endang (Kabid Tendik) membuka acara tersebut dengan ucapan basmalah.
Setelah itu semua siswa didampingi guru mererka memasuki kelas sesuai lomba yang diikuti. Di depan pintu sudah ada siswa-siswa yang menyambut dengan map daftar hadir untuk memintanya regritrasi terlebih dahulu sebelum masuki ruangan.
Tidak jauh beda dengan saya sebagai juri mewarnai. Satu persatu siswa memasuki ruangan setelah mereka regristrasi. Tampak para guru dan orang tua dari balik kaca jendela yang belum ikhlas melepas mereka untuk berjuang di ranah bakatnya.
Setelah lembaran gambar tanpa warna saya tunjukkan dan saya suruh memberi identitas diri di baliknya, maka gambar tersebut saya bagikan kepada 32 peserta. Waktu pengerjaannya saya beri waktu 60 menit atau 1 jam.
Saya menjelaskan untuk menulis identitas di bagian belakang gambar.
Gambar : Dokumen pribadi
Menit demi menit berlalu, saya dan seorang teman juri berkeliling untuk melihat proses pewarnaan mereka. Menurut pengamatan saya, bakat dan minat bisa diciptakan dari luar misalnya dari dukungan orang tua dengan mengikutkan berbagai kursus bagi mereka yang berduit. Peran orang tua sangatlah diutamakan untuk tumbuh kembang mereka.
Dengan melihat proses lomba, seakan semua siswa mahir dalam mewarnai. Bak pelukis handal, mereka sangat berkonsentrasi pada gambar dan warna. Seakan lomba ini diikuti oleh siswa reguler yang rata-rata sudah mahir dalam mewarnai. Sejenak ruangan sepi tanpa ada yang berbicara sepatah katapun.
Dalam hitungan menit (sekitar 30 menit) sudah ada yang sudah selesai dan mengacungkan tangannya. Dalam hati berbisik “benar saja sudah selesai anaknya putih penampilannya bersih dari sekolah swasta terkenal dan pasti orang tuanya mengkursuskannya”. Gambarnya rapi dan bersih serta memancarkan kehidupan. Wooww semakin banyak yang mulai mengumpulkan dan hasilnya sangat luar biasa.
Setelah Peserta selesai mengumpulkan semua gambar kami jajar rapi dan mulai eksekusi. Pada awal sedikit membuat para juri bingung untuk menentukan Juara, maka kami berembuk untuk menentukan sang Juara 1, 2, 3 serta Harapan 1, 2, 3.
Sampai waktu ditentukan oleh panitia, selesai sholat dhuhur semua Juri berkumpul dan menyetor nama-nama sng Juara dan diumumkan Ibu Nur Hasanah Ketua MGPK kami. Disaat yang menegangkan saya tidak mau membuang waktu untuk kembali mendampingi siswa didik kami. Satu per satu lomba diumumkan, syukur Alhamdulillah ananda Harfiz mendapat Juara Harapan 2 lomba menghafal surat pendek.
Setelah semua pengumuman Lomba berakhir, maka kami mengajak semua anak didik kami untuk pulang. Ada satu siswa ananda Sarah Kinanti peserta menari yang tidak mau pulang.
“Ayo mbak Sarah kita pulang, lombanya sudah selesai”.
“Namaku belum disebut bu”
“Besuk nak, disebut saat upacara akan diberi hadiah”
“Aku tidak mau ikut nari lagi, aku tidak mau ikut lomba lagi, aku benci remo”.
Sontak wajahnya merunduk tanpa bicara apapun. Sarah sedih dan marah dan masih alot untuk berdiri, sementara teman yang lain juga mengatakan hal yang sama. Badannya yang besar tidak membuatnya patah semangat untuk selalu lincah menarikan Remo. Sekali lagi saya meyakinkan dia bahwa besuk akan dapat hadiah dari Sekolah. Dengan berat hati akhirnya Sarah dan teman-teman beserta guru pendamping beranjak pulang.
Seakan hati ini diiris-iris melihat pemandangan tadi. Alangkah dzolimnya diri ini kalau tidak bisa menyelesaiakan masalah ini. Tanpa pikir panjang motor yang saya kendarai dengan laju kencang, saya arahkan ke Jl. Embong Malang untuk membeli 7 Piala untuk anak-anak istimewa kami.
Mungkin dengan ini sedikit bisa mengobati rasa sedih Sarah. Semoga masih ada secercah semangat Sarah untuk lomba-lomba berikutnya.
Surabaya, 3 Desember 2022
Sebuah tindakan yang sangat bijak. Semoga secercah harapan itu menjadi besar dan kuat.
ReplyDeleteAamiin..Yaa Robb..Matur nuwun
DeleteMereka berhak mendapatkan kesempatan berprestasi. Semangat....
ReplyDeleteBenar sekali Bu Mien
Delete