Saturday, January 14, 2023

Awal Segalanya

 Oleh : Wyda Asmaningaju

Dok.Pribadi

 

Kelahiran putri mungil dari pernikahan Siti dan Sumaji merupakan anugerah terindah dari sang Khalik. Meskipun lahir dengan berat badan yang minim, putri mereka tampak sehat dan gesit. Kebahagiaan sebagai seorang ayah tidak begitu saja dilewatkan, Sumaji menuju bed tempat istrinya berjuang melawan maut dan membisikkan sesuatu sambil menggendong bayi.

“Terima kasih telah menjadi ibu dari putri cantik kita.”

Segera dia mengenalkan nama Allah ke telinga bayi mungil yang diberi nama Sarah Ayuningtyas. Nama yang indah sesuai dengan parasnya dan semoga juga kepribadiannya kelak.

Setelah beberapa hari dalam pemulihan setelah melahirkan, maka Siti diijinkan dokter untuk pulang beserta bayinya.

 

Hari-hari yang indah mewarnai rumah sekaligus menambah kesibukan bagi Siti untuk mengurus suami dan anak sendiri tanpa bantuan orang tua. Sebelum ayam berkokok dia sudah bangun dengan bergegas mandi lalu masak sebisanya untuk bekal suami dan menyiapkan air hangat untuk mandinya si cantik Tiba-tiba dia teringat sesuatu.

“Mas, minta tolong ambilkan handuk Sarah di sebelah kursi ya.”

“Ambil sendiri dek, aku masih menyiapkan bekalku.”

Sebagai ibu perdana tidak jarang dia menahan sejuta rasa yang berkecamuk di dada supaya terlihat baik-baik saja di depan sang suami. Mungkin selama ini belum tampak sikap cueknya Sumaji dengan pekerjaan rumah karena masih berdua saja. Semua pekerjaan rumah mulai awal menikah dilakukan Siti sendiri tanpa sedikitpun dibantunya.

 

Dengan penuh kesabaran dan tanggung jawab, Siti melakukan pekerjaan rumah dengan ikhas dan senang. Memberi asi ekslusif selama masa cutinya belum habis. Mengkonsumsi sayur dan buah serta ikan supaya menghasilkan asi yang berkualitas untuk tumbuh kembang si mungil. Secara periodik memeriksakan kesehatan dan menimbangnya di puskesmas.

 

Bulan berganti bulan tidak terasa masa cutinya hampir habis. Dalam keheningan malam Siti berusaha mencari solusi untuk setiap permasalahan.

“Mas, sebentar lagi cutiku habis. Bagaiman kalau saya mencari pembantu untuk mengurus Sarah dan rumah?”

“Wah.. berapa ya gaji pembantu? Takutnya gajiku gak cukup dek.”

“Insya Allah gajiku cukup mas.”

“Tapi kan gaji dek Siti sudah dibuat bayar kontrakan.”

“Yang dibayarkan untuk kontrakan itu kan HR tahunan.”

“Kalau dek Siti merasa tidak keberatan ya saya ikut saja asalkan cari orang yang tepat.”

“Ya mas, nanti saya tanya tetangga mungkin punya kenalan.”

 

Melalui beberapa tetangga ada beberapa kandidat asisten rumah tangga yang memenuhi syarat akhirnya jatuh pada gadis asal Tuban yang bernama Hartini. Gadis berusia 23 tahun ini baru setahun merantau dan bekerja di sebuah pabrik di Surabaya.  

 

“Mas, ini mbak Tini yang akan membantu kita dalam mengurus semua urusan rumah.”

“Mbak Tini berasal dari mana?”

“Tuban pak. Setahun lalu saya bekerja di pabrik tapi sekarang sudah tidak karena tidak lulus tes kontrak.”

“Jadi sudah lama di sini?”

“Baru setahun yang lalu pak, saya merantau.”

“Oh.. ya silakan.”

Sambil mengantar Tini ke  kamarnya maka Siti menunjukkan berbagai tugas yang harus dikerjakan Tini selama dia tidak berada di rumah. Ketika dikenalkan Sarah, Tini seakan sudah kenal lama dengannya. Diambilnya dari gendongan Siti dengan lembut dan diajaknya ngobrol layaknya seorang sahabat.

Sarah juga tampak nyaman dan senang digendong Tini. Meskipun masih belum menikah tapi Tini sudah terampil menggendong Sarah.

 

Tibalah saatnya Siti harus kembali bekerja pagi ini. Sudah menjadi kebiasaan Siti bangun pagi buta dan melakukan semua rutinitas yang menjdi tanggung jawabnya sebagai ibu rumah tangga. Termasuk memandikan Sarah dan mendadaninya sehingga terlihat cantik dan segar.

“Anak cantik, ibu hari ini mulai kerja ya sayang. Mbak Sarah tidak boleh rewel ya..supaya mbak Tini bisa mengerjakan pekerjaan yang lain. Anak pintar ibu pasti tidak cengeng.”

Sambil menyusui Sarah, Siti berpesan untuk si cantik supaya tidak rewel. Setelah Sarah kenyang dan sampai tertidur langsung dibaringkannya di atas sprei warna pink bercorak bunga itu.

“Sudah ya mbak Tini, aku berangkat di antar suami.kalau Sarah bangun tolong dibuatkan susunya itu diatas meja.”

“Baik Ibu. Selamat bekerja. Semoga mbak Sarah pintar dan tidak rewel dengan saya.”

Sesampainya mengantar istri maka Sumaji tidak langsung bekerja tetapi mampir dulu ke rumah untuk menyampaikan sesuatu kepada Tini.

“Mbak Tini, sore ini aku pingin sayur asem dan ikan mujaer, sambel terasi. Tolong dimasakkan nanti”

“Baik pak, nanti saya masakkan.”

Hartini yang rajin dan terampil dalam bekerja dalam sekejab sudah menghasilkan banyak karya. Rumah yang bersih, cucian dan setrikaan tuntas, masakan sudah matang dan tak lupa adik Sarah yang terawat dengan baik.

 

Dalam hitungan kurang lebih delapan bulan Hartini mengabdi di keluarga Siti. Semua pekerjaannya dilakukan dengan ihklas meskipun tidak ada majikannya. Pelayanan yang memuaskan diberikan untuk keluarga kecil ini.

 

Suatu pagi yang tidak bersahabat, hujan mengguyur deras di daerah tempat Siti tinggal. Seperti biasanya Siti hendak berangkat bekerja sekaligus diantar suaminya sudah menunggu di depan rumah seraya membuka jok untuk mengambil jas hujan.

“Mas, mana jas hujanku/”

“Ini dek kemarin saya taruh di jok.” Setengah berteriak Sumaji sambil memberikan jas hujan Siti.

“Tak tinggal yang mbak Tini, hati-hati di rumah.”

“Iya, Ibu juga hati-hati.’

Dalam hitungan menit, maka motor butut itu pun tidak tampak dari pandangan. Hartini yang selalu senang mengerjakan pekerjaan rumah dengan melantunkan lagu-lagu favoritnya. Sesekali Sarah rewel di keluarkan jurus ampuhnya yaitu melantunkan sholawat sambil mengayun di pangkuannya. Maka Sarah pun akhirnya  tetidur lagi seakan terhipnotis.

 

Tidak disangka tiba-tiba ada suara motor dan berhenti di depan rumah. Maka diberanikan untuk mengintip sejenak dari balik kelambu. Ternyata Sumaji yang balik ke rumah. Dengan cepat dibukanya pintu dan bertanya.

“Ada yang ketinggalan pak?”

“Tidak, saya memang libur hari ini.”

“Oh gitu.”

Sambil berlalu Hartini hendak masuk dan menyelesaikan pekerjaannya.

“Eh.. jangan pergi. Ke sini mbak.” Sambil melambaikan tangan.

“Ya pak .. ada yang harus saya kerjakan?’ tanyanya polos.

“Ah tidak. Mumpung kita hanya berdua apa boleh saya tanya sesuatu?”

“Maksud bapak apa? Saya tidak paham?”

“Apa kamu sudah punya pacar?”

“Ah bapak ini kok aneh-aneh pertanyaannya.”

“Aku tanya serius. Jawab dengan jujur.”

“Memangnya kenapa pak kalau saya belum punya pacar?”

“Ah gak pa pa kok tapi kamu cantik masak belum punya pacar?”

“Maaf pak. Pertanyaan bapak aneh bagi saya.”

“Bukankah kamu yang aneh? masak usia 23 tahun masih belum punya pacar.”

“Maaf pak. Saya tinggal  ke belakang ya? masih banyak yang harus saya kerjakan.”

Kali ini Hartini dibiarkan saja melakukan pekerjaan seperti biasanya. Sesekali Sumaji melirik dengan mencuri pandang seraya menikmati wajah polos dengan tubuh sintal itu mondar mandir membersihkan rumah. Entah pikiran apa yang sedang berada dalam benaknya.


BERSAMBUNG


Surabaya, 16 Januari 2023

3 comments:

  1. Waduh, mulai membuat penasaran. Biasanya sih sudah ketebak arahnya. Namanya Siti dan Tini beda tipis ya.

    ReplyDelete
  2. Wow ceritanya mendebarkan. Kira-kira keluarga siapa ya yang diceritakan? Ikut menjadi kepo (penasaran). Siapa menunggu edisi berikutnya.

    ReplyDelete

Salah Paham

Versi Fiksi Mini  Oleh : Wyda Asmaningaju “Saya polisi, kamu telah terbukti bersalah atas nama hukum. Untuk tindakan selanjutnya mohon ikut ...