Oleh Wyda Asmaningaju
Dok. Pribadi
Pernikahan Siti dan Sumaji sudah menginjak bulan keenam. Seperti biasanya setelah mencuci bersih alat masak dan makan pagi, Siti tampak sudah bersiap untuk berangkat. Sambil mengenakan tas kecil dan seragam kerjanya seraya melempar senyum untuk suami tercinta.
“Mas, sudah siap ya aku mau berangkat.”
“Sudah sayang, apa gak ada yang ketinggalan?”
“Sepertinya tidak mas.”
Bergegas Sumaji mengeluarkan motor bututnya sambil mengantar Siti bekerja, sementara dia juga melanjutkan perjalanannya menunaikan kewajibannya sebagai pegawai. Tapi setelah beberapa meter motor berlalu tiba-tiba Siti menutup mulutnya dengan tangan kiri dan memintanya untuk berhenti.
“Stop.. mas sepertinya aku mau muntah.”
Secepat kilat Sumaji menghentikan laju motor sejenak untuk memenuhi permintaan sang permaisuri tercinta.
“Ada apa dek.”
Siti bergegas turun dan muntah di pinggir jalan.
“Gak tau mas, tiba-tiba perutku sakit dan terasa ingin muntah.”
“Apa masuk angin dek? Atau kita langsung ke dokter ya?”
“Terserah mas, kepalaku juga pusing.”
Setelah beberapa lama diskusi maka diputuskan mencari dokter terdekat yang akhirnya ditemukan hanya berjalan sekitar 500 meter.
“Alhamdulillah dek ini ada dokter praktek yang sudah buka.”
“Iya mas.”
Karena masih pagi tanpa harus antri merekapun langsung bisa mendapatkan pelayanan pertama. Tampak serius Sumaji mengutarakan keluhan istrinya kepada dokter. Maka dokter Dharma menyuruh Siti berbaring dan memeriksa pasiennya dengan teliti.
“Anda berdua temanten baru ya?”
“Kok dokter tahu?” Sumaji malah berbalik tanya.
“Selamat mas, anda akan menjadi ayah.”
“Maksud dokter apa?”
“Isteri anda hamil mas.”
“Alhamdulillah…” Jawab mereka bersahutan.
“Dijaga ya kandungannya supaya janin dan ibunya tetap sehat .”
“Iya dok.” Jawab Siti
“Apa mbaknya bekerja?”
“Iya dok.”
“Tidak masalah, selama kondisi tubuh tetap kuat. Akan saya beri tambahan vitamin untuk memperkuat kandungan.”
Akhirnya diputuskan untuk kembali pulang setelah memeriksakan ke dokter. Mereka pulang dengan hati berbunga-bunga yang sebentar lagi akan memiliki momongan tanpa harus menunggu lama di usia pernikahannya. Untuk berbagi kebahagiaan maka kabar ini disampaikan kepada orang tua Siti di desa dengan menelponnya. Pesan-pesan seorang ibu ketika anaknya sedang mengandung calon cucunya merupakan petuah yang bijak, wajib dijadikan pedoman hidup untuk menapaki dunia yang baru bersama keluarga tercinta. Meskipun jauh keberadaan sang buah hati tidak menjadikan jarak yang berarti untuk mereka berdua bisa saling berbagi cerita.
Kehamilan pertama yang dinikmati seorang ibu muda yang bekerja memang mengharuskan kondisi tubuh yang sangat prima. Siti yang tidak suka obat sehingga membiasakan diri mengkonsumsi vitamin dan mineral secara alami misalnya dengan makan sayur-sayuran dan buah-buahan setiap hari. Untuk mendapatkan gizi seimbang tidak lupa selalu istikomah minum susu sapi asli yang dibeli tidak jauh dari tempat tinggalnya. Kebiasaan hidup di daerah pedesaan yang serba alami masih melekat di dalam kehidupannya hingga kini. Sebagai pegawai toko yang tidak seberapa gajinya dan ditambah gaji suami sebagai pegawai rendahan di sebuah BUMN karena memang hanya lulusan SMP maka dengan berpola hidup hemat dan tidak boros mereka bisa mencukupi kebutuhan berdua.
Bulan berganti bulan, kehamilan Siti semakin membesar dan membutuhkan perhatian ekstra dari suami. Suatu malam sang suami yang masih belum pulang ditunggunya dengan hati risau. Tidak biasanya Sumaji terlambat pulang tanpa mengabari sama sekali. Dicobanya menelpon tapi tidak diresponnya. Sekitar pukul 20.08 kedengaran seseorang mengetuk pintu.
“Assalamu’alaikum dek Siti.”
“Wa’alaikum salam.” Jawab Siti sambil membukakan pintu.
“Malam mas pulangnya.”
“Iya nanti tak ceritakan.”
Sambil menyiapkan air hangat untuk mandi suaminya, Siti menyiapkan handuk dan pakaian ganti. Setelah suaminya masuk kamar mandi, Siti menghangatkan makan malam yang tadi sudah disiapkan. Setelah semuanya siap maka merekapun makan malam bersama.
“Maaf dek, aku terlambat pulang karena harus mengantarkan temanku pulang yang mempunyai dua anak yatim.”
“Memangnya kenapa harus diantar pulang mas? Maksudnya apakah biasanya juga diantar?’
“Tidak. Itu tadi aku membelikan mainan buat kedua anaknya dan sekalian tak antar jadi agak malam pulangnya.”
Siti semakin tidak bisa memahami alasan suami yang tidak masuk akal.
“Mas. Kehamilanku semakin besar dan aku butuh panjenengan untuk lebih banyak disampingku sebagai penguat dan pendukung janin ini yang akan menjadikan kita sebagai panutan dan kebanggaannya.
“Iya maaf dek. Sekali ini saja aku terlambat.”
“Janji tidak berbuat yang aneh-aneh lagi ya.”
“Siap.. janji.”
Bagaikan siap dalam upacara, tangan Sumaji satunya memeluk Siti dengan tujuan memecahkan ketegangan diwajahnya sambil menikmati dewi malam. Ditemani sang bintang yang hanya sedikit menampakkan sinarnya pembicaraan mereka dilanjutkan sampai larut. Tetiba Siti merasakan perutnya sakit dan mulas.
“Mas .. perutku sakit.” keluhnya sambil memgangi perutnya.
“Apa mau lahiran dek.”
“Aku tidak tau.”
Sesaat kemudian ada sesuatu meletus seperti balon dan roknya basah.
“Mas, apa ini? Rokku basah.”
Suasana dini hari yang sunyi menjadikan penduduknya larut di tengah dinginnya malam. Tampak Sumaji bingung mencari bantuan dan diputuskan mengetuk pintu tetangga sebelah rumah Dengan bantuan tetangga yang mempunyai mobil maka Siti dengan segera dilarikan ke rumah sakit. Sepanjang perjalanan air ketuban terus saja membasahi sarung yang dipakainya meskipun sudah duganti berkali-kali. Sesampainya di rumah sakit dengan sigap perawat memeriksa kondisi Siti dan memasang alat infus di lengan kirinya. Sumaji yang merasa bersalah tampak komat kamit berdo’a untuk keselamatan istri dan bayinya. Setelah beberapa jam Siti berjuang secara mental maupun fisik untuk bisa melahirkan normal dengan panduan seorang perawat yang masih muda, maka tangis bayi perempun memecah memenuhi ruangan dengan lantangnya dan lahir dengan selamat.
BERSAMBUNG
Surabaya, 6 Januari 2023
No comments:
Post a Comment