Oleh : Wyda Asmaningaju
Dok. Pribadi
Menikmati suasana baru dengan orang-orang baru di sekelilingnya merupakan pemandangan yang sedikit asing bagi Sarah. Sedikit demi sedikit Siti mengenalkan teman sepantarannya yang tinggal dekat rumahnya. Siti sangat bersyukur mempunyai anak yang jarang sekali rewel. Sarah adalah anak yang ceria, mudah beradaptasi dan suka diajak siapapun.
Dia selalu berusaha banyak berkomunikasi dengan anaknya meskipun Sarah belum bisa banyak bicara. Hari-harinya dimanfaatkan sepenuhnya untuk bercanda, bermain, belajar dengannya. Apalagi kalau ayahnya tidak ada di rumah, banyak anak kecil datang ke rumah Sarah untuk bermain.
“Pagi tante, Sarah nya ada?” tanya Nita dan Gita suatu pagi
“Ada mbak Nita. Ini adik Sarah nya.” kata Siti sambil mendampingi mereka bermain.
Semua mainan Sarah dikeluarkan Siti dari kotaknya, termasuk berbagai macam bentuk puzzle untuk pertumbuhan otaknya.
Ntia dan Gita membantu merapikan mainan yang berserakan dan menatanya kembali sesuai bentuknya.
Tampak mereka bertiga sangat menikmati suasana pagi itu. Nita dan Sandra yang sudah agak besar bisa melayani keinginan Sarah.
‘Tante, apa adik Sarah tidak punya boneka yang bisa menangis?” tanya Nita kemudian.
“Tidak punya sayang.”jawab Siti dengan lembut.
“Aku punya tante. Kemarin barusan dibelikan paman.”
‘Oh ya pasti cantik ya bonekanya?”
“Sebentar ya tante aku mau ambil bonekanya.” tegas Nita sambil berlari pulang.
Sesaat kemudian Nita sudah kembali mengambil boneka kesayangannya. Melihat boneka cantik itu Sarah langsung merebutnya. Dengan sigap Nita mempertahankan bonekanya. Maka terjadilah tragedi saling berebut. Seketika Sarah yang tadinya periang menjadi sedih dan menangis sejadi-jadinya.
‘Nah kan gara-gara kamu sih Nita. Adik sarah jadi nangis tuh.” tuding Sandra pada Nita.
“Tapi aku kan gak mau bonekaku diambil.”
‘Kalau gak mau dipinjam ya main di rumahmu sendiri.” bentak Sandra
“Sudah mbak Nita kembalikan pulang saja bonekanya biar adik Sarah tidak minta ya.”
“Makanya tante adik Sarah dibelikan boneka seperti ini supaya tidak nangis.” tambah Nita yang masih belum pulang.
“Iya deh kapan-kapan. Sekarang adik Sarah mau bobok dulu ya” ucap Siti seraya membereskan mainan Sarah
“Iya tante saya pulang.” Sandra berpamitan diikuti Nita sambil menggendong bonekanya.
Siti berusaha menenangkan Sarah yang masih belum berhenti menangis.
“Anak cantik… sholehah nya ibu…cup ya sayang. Kita masih punya mainan banyak. Ini juga boneka cantik.”
Tangannya sambil menunjukkan boneka milik Sarah.
Menjeang sore harinya.
“Assalamu’alaikum dek Siti.”
“Wa’alaikum salam mas.” jawab Siti sambil mencium tangan suaminya.
“Agak sore mas pulangnya?” tanya Siti heran
“Iya tadi aku minta tolong teman sebentar untuk ngantar aku ke poliklinik karena perutku sakit.”
“Memangnya kenapa perutnya? “
“Kata dokter sih sepertinya maag dek.”
“Mungkin jenengan telat makan ya?”
“Ah gak kok. Tadi aku makan siang dengan nasi campur madura. Tapi sekarang sudah agak enakan setelah diberi obat.”
“Ya sudah mas, saya siapkan handuk dan baju gantinya untuk mandi ya.”
“Bagaimana Sarah? Apa seharian tidak rewel?” tambah Sumaji
“Ah tidak kok mas. cuma tadi minta bonekanya Nita yang dibawa ke sini.”
“Kenapa lagi dengan anaknya Gunawan itu?’
“Ah sudah gak usah diributkan.”
Siti mondar-mandir menyiapkan keperluan suaminya. Selesai suaminya mandi dia sudah siap dengan secangkir kopi untuk dihidangkan.
“Pesan dokter tadi, aku tidak boleh minum kopi lagi dek.”
“Oh maaf mas. Kalau begitu saya singkirkan kopi ini.”
“Mas kalau begitu sekarang makan saja ya?”
“Saya masakkan tahu telur kesukaan jenengan ya.”
“aku bosen dek.”
“Terus makan apa? Apa dibelikan di warung?” tambahnya
“Belikan soto saja.”
Hal seperti itu tidak sekali dua kali terjadi. Meskipun setiap hari Siti masak untuk suaminya tapi hanya dimakan sekali dan selanjutnya minta makanan dari luar alias jajan. Siti yang mulai bingung dengan masalah keuangan sementara sang suami sangat rewel dengan makannya terpaksa menurutinya dan sering dibelikan di luar. Malam semakin larut membuat suasana menjadi hening sesaat.
“Mas..apa boleh aku ngomong sesuatu.” pinta Siti sambil memijat kaki suaminya.
“Ngomong saja.”
“Maaf kalau sebelumnya aku tidak jujur. Uang belanjaan bulan ini tinggal sedikit mungkin bisa untuk belanja 2 hari lagi.”
“Ya cukup-cukupkan dek wong yang kerja hanya saya.”
Sentak Sumaji
“Ya kalau mas makannya di rumah saja, Insya Allah cukup tapi kalau masih harus beli lauk di luar itu yang menjadikan boros.”
“Ah kamu bisa-bisanya. Terus apa aku disuruh ngrampok?”
Melihat suasana yang memanas, Siti mengurungkan niatnya untuk melanjutkan masalah ini.
“Ya sudah mas gak usah dilanjutkan, sudah malam. Maafkan aku yang belum bisa menjadi istri terbaik buat panjenengan.”
Dilebarkan sayap kesabarannya supaya tidak melukai hati orang yang dicintainya. Disimpannya rapat-rapat semua rasa yang berkecamuk dalam dadanya. Bintang dan bulan sebagai saksi sedikit perselisihan malam itu. Akhirnya mereka terlelap ditelan dewi malam.
Keesokan hari.
Seperti hari-hari sebelumnya, setelah bangun tidur Siti menyiapkan air hangat untuk mandi Sarah kemudian dilanjutkan dia sendiri yang mandi. Kemudian menyiapkan handuk dan baju ganti sang suami sebelum mandi. Baru saja tangannya meletakkan baju tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu.
“Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikum salam.” jawab Siti serya membuka pintu depan.
“Oh mbak Reni silakan masuk.” tanbahnya
“Maaf dek, aku pagi-pagi ke sini.”
Dari belakang Sumaji yang belum mandi bertanya ada siapa di luar.
“Ada siapa dek pagi-pagi begini?”
“Mbak Reni mas.” sedikit berteriak
Setengah berlari Sumaji mendatangi kakaknya takut ada sesuatu.
“Ada apa mbak kok pagi-pagi sekali?”
“Maaf mengganggu kalian. Ini lo kemarin sore kita baru dengar katanya Sarah nangis gara-gara minta boneka nya Nita ya?”
“Oalah itu sih biasa mbak.”
“Nah .. mbah yut gak terima kalau sampai cicitnya nangis gara-gara itu.”
“Ah biasa itu mbak.” timpal Sumaji
“Kamu ngomong biasa tapi perasaan orang tua beda dengan kamu.” bentak Reni
“Ini saya disuruh mbah menghadiahkan boneka yang persis punya Nita kepada Sarah supaya dia senang.” jelas Reni sambil mengeluarkan boneka dari kotak besar.
“Maaf mbak Reni, saya jadi gak enak sama mbah. Masalah kecil seperti ini sampai-sampai melukai perasaan mbah buyutnya.” ucap Siti menyesal.
“Bukan kamu dek yang harus minta maaf tapi ayahnya sebagai kepala keluarga yang harusnya malu.”
“Kenapa aku harus malu, masak anakku harus punya mainan segalanya?” jelas Sumaji
“Ah sudahlah yang penting berikan boneka ini pada Sarah ya supaya senang.” pesan Reni.
“Sekali lagi terima kasih mbak, salam buat mbah buyut.”
“Ya dek aku pamit ya. Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikum salam.”
Setelah menutup pintu, Siti masuk kamar dan memberikan boneka itu kepada Sarah. Dengan cepat Sarah merebut dan siap menggendong boneka yang persis kepunyaan Nita.
BERSAMBUNG
Alhamdulilah luar biasa cerita bersambung. Lanjut sampai jadi buku.
ReplyDeleteSaat berdialog, kok seakan berada di dalam ruang kosong dan tanpa ekspresi. Bu Ayu bisa menambahkan keterangan apa yg dilakukan tokoh ketika bicara atau nagaimana ekspresi wajahnya, dsb.
ReplyDeleteMatur nuwun masukannya
DeleteBoneka yang semula tidak begitu bernilai namun jika menjadi rebutan, nilai boneka lebih berarti. Selamat berandai andai bu Wid semoga cerita seru selanjutnya segera dipublish
ReplyDeleteBikin penasaran nih....
ReplyDelete