Oleh : Wyda Asmaningaju
“Mbak Tini, kuenya sudah datang belum?”
“Belum bu, padahal tadi sudah saya hubungi lagi.”
“Mungkin masih macet di jalan.”
“Iya bu. Ini nasi kuningnya sudah bisa dimasukkan tempatnya ya bu?”
“Ya saya rasa sudah dingin, bisa dicetak dan dimasukkan tempatnya.”
“Jangan lupa di atasnya nasi beri irisan lombok merah ya.”
“uuppss..Hampir lupa bu. Itu lomboknya malah saya letakkan di atas kulkas.”
Beberapa lama kemudian.
“Permisi, apa benar kediaman Ibu Siti Sholehah?”
“Ya mas dengan saya sendiri.”
“Maaf bu, ini kuenya agak telat karena pegawai kami ada yang mendadak tidak masuk sehingga kami sendiri yang mengantar.”
“Oh ya mas tidak mengapa, acaranya masih kurang satu jam lagi.”
Siti mengambil beberapa lembar ratusan ribu dari dalam dompet kemudian diserahkannya kepada pemilik bakery tersebut.
“Terima kasih bu, ini barangnya dan saya pamit.”
“Ya mas, terima kasih kembali.”
Beberapa saat kemudian rumah itu sudah dipenuhi gadis kecil berjlbab dan perjaka mungil berkopyah putih. Sekitar 20 anak yatim diundang untuk menghadiri tasyakuran Sarah yang hari ini genap berusia 1 tahun. Tampak Sarah mungil memakai gaun ungu bermotif bunga kuning dan berjilbab pink digendong Hartini sedang terheran-heran melihat banyak orang di rumahnya.
Sebagai shohibul bait, Siti menyerahkan acara sepenuhnya kepada pimpinan yayasan yatim tersebut. Dalam hitungan menit acara pun di awali dengan pembacaan ayat suci Al-qur’an, sholawat nabi dan diakhiri dengan do’a. Kemudian acara dilanjutkan dengan makan bersama dan berfoto ria. Sarah tampak senang melihat banyak sahabat kecil di sekelilingnya. Satu per satu anak-anak bersalaman dan berfoto bersama Sarah. Pada saat giliran anak terakhir Sarah mulai agak rewel mungkin terlalu capek dan setelah ditenangkan oleh Hartini maka sesi foto pun bisa dilakukan. Sekitar kurang lebih 1,5 jam acara berlangsung dan mereka berpamitan sambil menenteng tas cantik.
“Alhamdulillah ibu, acaranya berlangsung lancar.”
“Iya mbak. bahkan si cantik juga pinter gak rewel sama sekali.”
“Iya bu benar-benar menyenangkan.”
“Ayo mbak kita beres-beres.”
“Siap Ibu.”
Selesai acara mereka berdua tampak sibuk mengemasi barang-barang yang sudah tidak terpakai lagi dan membersihkan sisa-sisa sampah sekaligus mencuci tumpukan piring dan panci kotor. Sementara itu Sumaji yang dari awal duduk diluar sambil ngobrol dengan tetangga depan rumah.
Waktu berjalan begitu cepat, mereka selesai membereskan semua pekerjaan sekitar pukul 21.00. Tampak wajah Hartini sudah mulai kelelahan dan sudah saatnya dia istirahat.
“Bu, saya pamit istirahat ke kamar dulu.”
“Ya mbak, saya juga ngantuk.”
Sambil memanggil sang suami, Siti menutup jendela dan memasukkan gulungan tikar.
“Mas, sudah malam. Apa tidak istirahat?”
“Ya tunggu sebentar dek.
Sambil merapikan kelambu dan menata meja ditunggunya suaminya sampai masuk rumah. Setelah Sumaji masuk kemudian pintu dikuncinya.
“Dek, tadi aku lihat ada seorang anak laki-laki lucu.”
“Bagaimana mas?”
“Sepertinya mereka anak kembar, laki dan perempuan. Yang laki-laki setelah keluar rumah malah minta jajan kembarannya. Begitu tidak diberikan malah ngomel-ngomel sambil marah.”
“He..he ..bisa dibayangkan betapa lucunya ya masih kecil bisa ngomel-ngomel.”
“Ada yang tidak datang dek tadi anaknya Bu Ratna tetangga ujung gang. Lalu saya ambilkan tadi jajannya dan saya titipkan Farida yang rumahnya disebelah.”
Sambil menahan rasa kantuk, Siti masih berusaha melayani pembicaraan dengan suaminya. Sambil menutup mulutnya saat menguap, matanya sudah mulai tidak kuat melek. Entah terakhir ngobrol apa temanya sehingga membuatnya tidak bisa berkata-kata lagi. Malam semakin larut tidak terasa Siti sudah berada dalam peraduannya. Sumaji yang masih belum digelayuti rasa kantuk menghabiskan waktu malamnya dengan nonton sepak bola di Televisi. Suara TV yang tidak terlalu keras sedikit mewarnai keheningan malam.
Tiba-tiba Sumaji ingin ke belakang buang air kecil. Sebelum sampai di kamar mandi dilihatnya pintu kamar Hartini sedikit terbuka mungkin lupa dikunci. Setelah selesai buang hajatnya dia pelan-pelan membuka pintu kamar Hartini dan mengambil sapu lidi sambil mengibas-ngibaskan ke atas badan Hrtini. Merasa ada seseorang berada di kamarnya, maka Hartini terbangun dan sontak berteriak.
“Ibu..tolong…ibu..tolong..”
Mendengar teriakan Hartini, Sarah terbangun sambil menangis sekaligus membangunkan Siti. Digendongnya Sarah seraya mendatangi suara tersebut.
“Ada apa mbak Tini?”
“Ini bapak masuk ke kamar saya.”
“Apa benar mas?”
“Ya saya cuma memastikan kalau di sini tidak ada nyamuk.”
“Bohong bu, mungkin bapak punya seribu alasan tapi saya yakin pasti punya niat jelek pada saya.”
“Kamu itu yang punya pikiran jelek.”
Siti yang bijaksana berusaha menenangkan Hartini untuk sedikit tenang dan berjanji menyelesaikan masalah ini.
“Sudah mbak, begini saja berhubung sekarang sudah larut besuk saja kita selesaikan masalah ini, jangan lupa kunci pintunya”
“Baik bu.”
Sisa kesunyian malam tidak bisa membuat ketenangan untuk seisi rumah itu. Masing-masing pribadi mempunyai seribu pikiran yang ada di kepalanya. Meskipun mata berusaha dipejamkan tapi otak masih mencari jati dirinya.
***
Keesokan hari.
Setelah sarapan bersama sang suami, Siti memanggil Hartini untuk menyelesaikan masalah tadi malam.
“Mbak Tini maafkan saya kalau selama ini keluarga saya membuat sampean tidak nyaman.”
“Bukan Ibu tapi bapak yang saya takutkan bu.”
“Kenapa kamu bawa-bawa nama saya?”
“Ya bapak dulu pernah tanya saya apa sudah punya pacar belum?”
“Apa benar mas?”
“Ya benar. Menurutku kan wajar saja cuma tanya seperti itu?”
Bagaikan menelan pil pahit Siti berusaha untuk menguatkan mental dan fisik. Hanya meminta petunjuk dzat yang paling tinggi masalah ini bisa diselesaikan.
“Mungkin selama ini saya egois ya mas, hanya memikirkan pekerjaan dan anak. Tidak pernah mengurus suami. Saya belum bisa menjadi istri yang baik buat keluarga” Sesal Siti seraya meneteskan air mata.
“Maafkan saya ya mas. Hal ini tidak akan saya ulangi lagi.”
“Begini mbak Tini, sebelumnya saya juga minta maaf atas segala perlakuan saya dan suami kepada sampean. Untuk menjaga keutuhan rumah tangga saya dan menjaga kehormatan mbak Tini, mulai hari ini sampean saya pulangkan ke orang tua dengan kata lain ini adalah hari terakhir sampean kerja di sini. Dengan demikian saya juga akan keluar dari pekerjaan saya supaya saya bisa mengurus anak dan suami dengan baik.”
“Tapi bu …”
“Itu keputusan saya mbak untuk kebaikan semuanya.”
“Baiklah bu saya ihklas. Sebenarnya saya masih sayang dengan ibu dan Sarah tapi…”
Sumaji yang menyaksikan semua kejadian hanya diam seribu basa tanpa menunjukkan sikapnya sebagai kepala rumah tangga. Entah apa yang ada di dalam benaknya dengan keputusan Siti tersebut. Beberapa menit Hartini mengemasi semua barangnya dan pamit kepada jurangannya. Selesai Hartini meniggalkan rumah itu berbarengan Siti minta diantarkan ke toko tempat kerjanya dengan tujuan mengajukan resign.
BERSAMBUNG
Surabaya, 23 Januari 2023
Banyak istri yg tidK bs koreksi diri dengan hal yg d alami suami. Salut dg Siti...resigh dr tnot kerja dan akn fokus mngurus abak dan suami..
ReplyDeleteWadduuuh.. bersambung.. penasaran juga
ReplyDeleteWah, ada sambungannya. Ditunggu....
ReplyDeleteLanjut
ReplyDeleteJos bisa jadi buku
This comment has been removed by the author.
ReplyDeletePenasaran nich... Ditunggu kelanjutannya
ReplyDelete