Oleh : Wyda Asmaningaju
Identitas Buku
a. Judul : Elegi Haekal
b. Penulis : Dhia’an Farah
c. Penerbit : Loveable
d. Tahun Terbit : 2021
e. Tempat Terbit : Jakarta
f. Tebal Buku : 377 halaman
g. Ukuran Buku : 19 x 13 cm
Buku bergambar pemandangan yang bernuansa sore dan lumayan tebal ini sangat diminati remaja terutama oleh kaum hawa. Dari judulnya sudah bisa ditebak bahwa cerita buku ini mengandung ratapan dan ungkapan dukacita, khususnya pada peristiwa kematian. Penulisnya adalah seorang mahasiswi di salah satu Universitas Islam Negeri di Bandung. Dia dalam menyalurkan hobinya menulis, memublikasikan cerita buatannya di media sosial Twitter dalam bentuk AU (Alternative Universe). Buku ini merupakan beku kedua. Buku sebelumnya berjudul Dikta dan Hukum. Kedua buku tersebut merupakan best seller.
Buku berjudul "Elegi Haekal" Karya Dhia’an Farah ini cukup unik, karena mengangkat tema percintaan berbalut fiksi dengan masalah yang kompleks. Masalah tersebut sangat berhubungan dengan kehidupan jaman sekarang. Buku ini mengingatkan saya kembali saat masih duduk di bangku sekolah yang penuh akan romansa remaja.
Kisah ini menceritakan seorang remaja yang bernama Haekal. Seseorang yang sangat mendambakan hangatnya kasih sayang orang tua dan juga keharmonisan di dalam rumah. Bagi Haekal mamanya adalah satu-satunya harta terbesar yang dia miliki, sehingga dia sangat menyayangi mamanya. Namun seiring berjalannya waktu mama Haekal kian menjauh, dikarenakan bagi mamanya kehadiran Haekal terus membongkar luka besar mamanya pada masa lalu. Kisah pada buku ini menggambarkan do’a dan harapan seorang anak laki-laki atas keutuhan sebuah keluarga.
Haekal rela melakukan berbagai cara agar mamanya mampu menyayanginya dengan segnap hati akan tetapi nihil mamanya terus bersikap cuek kepada Haekal. Walaupun sang mama tidak pernah merespon usaha yang telah dilakukan oleh Haekal, akan tetapi Haekal pantang menyerah dan terus berusaha agar mamanya sayang kepadanya. Sebenarnya mama Haekal bukan orang yang jahat akan tetapi dia melakukan hal ini dikarenakan untuk menutupi aib pada masa lalunya.
Sebagai single parent, Hanna (mama Haikal) termasuk orang yang sukses dalam menjalani bisnis property.Sampai pada suatu forum yang mengangkat artikel mengenai Hanna, dia terpaku oleh satu komentar panjang. Bahkan beberapa detik:
“Keren, Terhebat! Semoga saya menjadi seperti mbak Hanna nantinya, yang bisa sukses di umur muda, walau cuma seorang diri. Ah, beruntung sekali yang menjadi anaknya nanti, pasti akan menjadi anak yang paling bahagia dan berbangga di muka bumi, karena mempunyai mama hebat seperti mbak Hanna. Saya Haekal, 17 tahun, fans no.1 mbak Hanna.” (hal.49). Namun semua usaha Haekal tidak membuatnya semakin menunjukkan perhatian dan kasih sayangnya, malah semakin membencinya..
Sampai suatu saat Haekal mengungkapkan perasaanya pada seekor anak kucing yang sendiri dalam dinginnya hujan tanpa induk yang mendampinginya.
“Ibu kamu mana? Nggak ada ya? Kamu sendirian? Kalau iya..berarti nasib kita sama.”(hal.127)
Haekal hanya ingin seperti anak-anak lain, ingin dianggap ada dan dihargai sebagai anak yang berusaha berbakti dan seharusnya mendapatkan banyak kasih sayang dan perhatian dari orang tua. Menurut Haikal, dia menyesal dilahirkan didunia karena dikelilingi orang-orang yang penuh ambisi akan tahta dan harta sehingga melupakan hati nurani untuk sesama seperti mama, kakek, neneknya.
Pada mulanya dikisahkan Hanna dan Jovan (mama dan ayah Haekal) merupakan seorang kekasih yang sangat romantis, akan tetapi karena kelalaian mereka berdua membuatnya terbelenggu dalam nafsu hubungan badan di luar nikah.. Hanna sengaja menutup aibnya rapat rapat dikarenakan hal yang dialaminya merupakan aib keluarga. Sekaligus hubungan meeka tidak direstui orang tua Hanna karena perbedaan status sosial dan kasta. Hanna berusaha mati-matian menyelamatkan janin yang ada di rahimnya meskipun orang tuanya berusaha keras menyuruh untuk menggugurkannya.
Pertemuan mereka kembali setelah belasan tahun yang tidak disengaja berawal dari pemanggilan Haekal oleh guru BK karena dia terdeteksi melakukan pemukulan kepada gurunya Pak Darto setelah merendahkan mamanya dengan kata-kata yang tidak pantas. Ayah Haekal merupakan guru BK disekolahnya.
Haekal yang terus menyusuri masa lalu mamanya untuk mengetahui apakah ayahnya masih hidup atau tidak membuat mamanya marah dan tidak mau menghiraukan Haekal. Walaupun mamanya terlihat tidak suka dengan Haekal dan selalu mengatas namakan sibuk supaya tidak terlalu dekat dengannya tetapi sesungguhnya mamanya tetap mencintai Haekal. Bagaimanapun juga Haekal adalah anak yang dipertahankan supaya bisa lahir ke dunia.
Isi dalam buku ini membuat orang yang membacanya terbawa dalam alur, sehingga membuatnya larut dalam kesedihan dan juga menangis. Bukan hanya karena perlakuan dari kedua orang tua Haekal kepadanya, akan tetapi kisah dalam buku ini juga berakhir sad-ending, dikarenakan ayah Haekal pada akhirnya meninggal dunia untuk selamanya.
Bagi seseorang yang sedang jatuh cinta mungkin buku ini bisa jadi acuan untuk menulis surat cinta pada kekasihnya, karena dalam buku ini banyak terdapat banyak untaian surat cinta yang membuat pembacanya terbawa perasaan. Cerita ini bagus dibaca oleh kalangan remaja dengan hikmah tersirat yang berada di dalamnya. Bagaimanapun keadaan orang tua kita, di dalam lubuk hatinya yang paling dalam sungguh tertanam cinta tulus kepada putra- putrinya. Dan kita sebagai anak harus mampu menghargai serta menghormati kedua orang tua kita.
Surabaya, 20 Januari 2023
Keren resensinya.. Saya jadi ingat dengan novel saya "Perempuan Terbungkas" yang saya adopsi dari kisah nyata. Dengan seting Solo tahun 1970
ReplyDeleteTerima kasih bunda
DeleteSebuah kisah cinta kadang perlu sebuah pengorbanan. Keren Bu
ReplyDeleteTerima kasih sudah singgah
DeleteTerlarut benar. Keren resensinya. Bisa terbayang kesedihan Haekal. Pelajaran berharga dari buku ini, semoga para remaja pembaca mendapatkan hikmah yang terdalam.
ReplyDeleteTerima kasih responnya
DeleteSentuhan kasih sayang yang dirindukan haikal sangat marak di sekeliling kita. Bikin miris trenyuh
ReplyDeleteTerima kasih sudah singgah
DeleteKeren bu. Lanjut
ReplyDeleteTerima kasih Pak Imin
DeleteKeren, Bu. Tidak mudah membuat tulisan yang mampu membawa hanyut pembaca. Dari resensi ini terbayang ikut melonya
ReplyDeleteTerima kasih Bu Hera
DeleteKeren Bu! Serasa membaca bukunya secara langsung. Resesensi hebat!
ReplyDeleteTerima kasih teh mimin
DeleteLengkap banget resensinya.. makasih resensinya bagus.. pingin sekali baca lengkapnya
ReplyDeleteTerima kasih Pak Ardi
ReplyDelete