Saturday, February 4, 2023

Ketika Mendapat Rezeki

 Oleh : Wyda Asmaningaju

Dok. Pribadi



Di suatu pagi yang sedikit berawan abu-abu selepas keberangkatan suaminya  bekerja, Siti hendak masuk untuk melanjutkan olah raga paginya yaitu mencuci, masak, setrika dan bermain dengan Sarah. Tetiba ada suara ketukan pintu berbarengan.

“Sarah…Sarah…”

“Ya … siapa ya? Sahut Siti sambil membuka pintu.

“Eh ada budhe Reni dan budhe Danita. Silakan masuk budhe.”

Tampak kedua budhe Sarah berpakaian seperti tidak biasanya dengan tas jinjing besar.

“Ayo dek kita refreshing..” ajak Reni.

“Maksudnya apa budhe?” tanya Siti dengan heran.

“Maksud kami mengajak dek Siti dan Sarah ke pantai sekarang. Kasihan Sarah sudah sebesar ini belum pernah diajak ayahnya jalan-jalan.” Danita menjelaskan sambil mengeluarkan Hp dari kantongnya.

‘Tapi mbak, mas Sumaji masih bekerja dan saya tidak berani keluar tanpa ijinnya.” Wajah Siti memelas takut dengan suaminya.

“Sudah..ijin lewat telpon saja.” jelas Danita sambil memberikan Handphone miliknya.

Dengan keberanian yang terpaksa akhirnya Siti mencoba menghubungi suaminya dan meminta ijin untuk pergi ke pantai bersama kakaknya berdua. Hp yang sudah di speaker atas permintaan Danita pun berdering.

“Hallo dek, mana mbak Reni tolong berikan telponnya. aku pingin ngomong.” Sumaji ragu sejenak kemudian dibayangkan wajah Reni dan Danita yang sudah lama dikenalnya.

Siti memberikan telpon genggam kepada Reni.

“Hallo dek Ji. Ini dek Siti dan Sarah mau tak ajak ke pantai ya? Paling gak sampai sore. Nanti dek Ji pulang kita sudah balik.” ungkap Reni memaksa.

“Ah mbak Reni… Sarah kan masih kecil mana tau kalau harus diajak ke pantai?” Sumaji berusaha menghentikan niatan mereka mencampuri urusan rumah tangganya.

“Justru karena tidak pernah diajak ayahnya jalan-jalan makanya kami ajak.” Danita yang dari tadi diam kini melemparka kata-kata pedas.

“Ya sudah mbak kalau gitu. Tapi hati-hati ya dengan Sarah.” Sumaji menutup telpon dengan hati kesal. Enggan lagi berdebat dengan Reni dan Danita.

“Beres..pasti kita ekstra hati-hati.”

Begitu telpon ditutup maka Siti bergegas untuk bersiap-siap meluluskan permintaan budhenya Sarah yang berhati mulia. Mulai berhenti kerja, dia tidak pernah lagi merasakan udara di luar meskipun hanya menikmati suasana taman kota. Yang ada dalam benaknya hanyalah mengatur lalu lintas keuangan supaya rapi dan teratur.

Tidak begitu lama Siti sudah kembali membawa Sarah dengan kaos orange bercelana jeans dan bersepatu putih. Rambutnya yang ikal dikuncir bak air mancur menambah gemes bagi yang melihatnya.

“Waduh..ponakan budhe cantik bener ya..sampai-sampai budhe pangling gak ngenali..” goda Reni.

“Iya nih..gemes ya mbak lihat Sarah.” tambah Danita.

Siti hanya tersenyum simpul bingung dengan apa yang akan dilakukan. Sisa uang belanja masih ada untuk 2 hari, lalu bagaiamana nanti kalau Sarah minta jajan? Secepat kilat ditepisnya semua pikiran yang tidak beralasan supaya tidak tampak di depan mereka.

“Ayo Sarah..gendong budhe.” pinta Reni sambil memberikan tangannya untuk Sarah.

‘Nanti gantian ya mbak.” sela Danita

‘Beres..”

Begitu mereka berempat keluar dari gang kecil menuju jalan raya, sebuah mobil toyota rush yang dikemudikan Pak Mahdi sopir pribadi mbah putri menjemputnya. Tampak Reni duduk di samping sopir kemudian Siti, Sarah dan Danita duduk di bangku kedua. Laju mobil itu tidak terlalu kencang bahkan sampai membuat Sarah terlelap dalam suasana hening dengan dinginnya AC.

 

Perjalanan hanya memakan waktu kurang lebih satu jam menuju pantai. Angin berhembus sepoi seakan membuat pengunjungnya terpesona oleh keindahan alam ciptaan sang Maha Agung. Pemandangan laut kebiruan yang memberikan ketenangan batin dan pikiran. Angan Siti melayang jauh merindu pada suasana desa yang sudah ditinggal cukup lama. Kemilau birunya air laut yang jernih terkena sinar mentari seakan tampak semua isinya. Birunya cakrawala mewarnai hamparan luasnya sawah bak lukisan terindah dari sang Maha Agung. Tawa, canda, gotong-royong dan saling berbagi merupakan ciri khas penduduk desa. Ah..itu hanya lamunanku. Tepisnya.

 

Mobil putih itu pun berhenti di tempat parkir tepat di samping pantai. Semua penumpangnya keluar termasuk Pak Mahdi sambil menutup pintu mobil dan menguncinya. Sarah yang sudah terbangun heran melihat sekelilingnya ada banyak orang.

Bergantian Reni dan Danita menggendong Sarah sambil bermain pasir dengannya. Tampak Sarah sangat senang dengan suasana yang belum pernah dia kunjungi sebelumnya. Siti hanya membututi perginya mereka serasa tersimpan perasaan sungkan. Sesekali dimintanya Sarah takutnya malah membebani tapi sekalipun tidak diijinkan Siti untuk mengambilnya. Tidak terasa waktu begitu cepat sudah siang menjelang sore mereka pun akhirnya pulang dengan perasaan amat bahagia. Dalam perjalanan pulang Sarah juga tertidur pulas mungkin kecapekan.

 

 

Suatu sore. 

 

“Bagaimana Sarah tadi di pantai?”

“Alhamdulillah.. kelihatannya sangat senang mas. Itu budhenya pada rebutan gendong.”

“Tapi gak boleh sering-sering ikut orang dek, nanti jadi keterusan enak.” protes Sumaji yang tidak bisa langsung menghentikan tindakan licik mereka menurutnya.

“Tapi aku sudah bilang gak berani kalau jenengan kerja, tapi mbak Reni maksa.” Siti memelas tidak mau disalahkan.

“Ya memang mereka senengnya maksa. Gak ngerti kalau gajiku sedikit cuma cukup buat makan. Kalau Sarah suatu saat minta seuatu diluar kemampuanku bagaimana?” Ucap Sumaji sambil melempar kaos singlet nya.

“Ah .. Insya Allah tidak mas.” Siti berusaha mendinginkan suasana dengan membuatkan teh manis dan kue buatan sendiri.

“Kamu gak ngerti mbak Reni seperti apa. Jangan percaya kebaikan semu dek. Semua itu sama saja merendahkan aku di depan Sarah.” jelasnya panjang lebar disertai bibirnya yang mengerucut.

“Astaghfirulloh.” Siti mengelus dadanya.

 

Beberapa saat kemudian.

“Mas..sekarang badanku terasa tidak enak dan kepalaku pusing.”

“Kenapa kamu dek?”

“Gak tau… sepertinya sedikit lemas karena sepulang dari pantai tidak kemasukan makanan sama sekali karena setiap makan terasa pahit dan akhirnya pasti muntah.”

“Paling masuk angin, sana minum obat.”

Sambil berbaring Siti menutupi badannya dengan selimut karena menggigil.

“Mas..badanku panas tapi terasa dingin.’Ucap Siti gemetar susah mengatupkan bibirnya.

Melihat pemandangan itu Sumaji tidak tega pada istrinya, meskipun baru saja membicarakan Reni akhirnya sekarang dia butuh pertolongannya. “Ya sudah kalau begitu kita ke dokter saja. Kita titipkan Sarah pada mbak Reni.”

 

Setelah mendengar ucapan suaminya, maka Siti bergegas untuk memeriksakan keadaannya. Dikuat-kuatkan menggendong Sarah untuk dititipkan ke rumah mbak Reni yang kurang lebih 100 meteran dari rumahnya. Selanjutnya mereka berdua berboncengan menuju ke dokter praktek yang jaraknya sekitar 2 km. Tidak begitu lama mereka sudah berada di teras ruangan praktek.  Sumaji mendaftar ke loket kemudian tidak lama sudah dipanggil.

 

“Ibu Siti Sholehah.. sillakan masuk” Kata penjaga loket.

“Ya mbak, terima kasih.” Jawab Sumaji singkat.

Siti ditemani Sumaji masuk ke ruangan dokter dan duduk bersebelahan tepat didepan meja dokter.

“Silakan duduk.” kata dokter sambil mempersilakan mereka.

“Ya dokter.. ini istri saya badannya tidak enak katanya seperti menggigil tadi.”

“Silakan Ibu berbaring sambil saya periksa.”

Setelah beberapa saat melalui pemeriksaan intensif maka dokter Bambang mengatakan sesuatu.

“Apa ibu hari ini tidak menstruasi?”

“Benar dokter. Biasanya saya mens setiap tanggal 15 tapi sekarang sudah tanggal 17 masih belum dapat.”

‘Sepertinya ibu hamil kurang lebih sudah  2 minggu.”

“Haah…saya hamil?”

“Lo kok hah..bukan Alhamdulillah..”

“Uupps. Maaf dok tapi anak pertama saya masih kecil bulan depan usianya 28 bulan, dan saya barusan menyapihnya.” Jelas Siti sambil menutup mulut dengan tangan kanannya.

“Bagaimana ini pak? Ini ibu merasa keberatan.” gurau dokter Bambang sambil melirik Sumaji yang duduk di kursi pasien..

“Maksud saya bukan keberatan dok. Kalau memang hamil ya diterima karena sudah di beri rezeki sama Allah. Tapi saya kaget kok secepat ini.” Kilah Siti menarik kalimat awalnya.

“Diterima dengan terpaksa ya.” canda dokter lagi sambil terkekeh.

“Ah tidak juga dok.” Kata Siti dengan tersipu.

‘Kalau saya sangat senang dok punya anak lagi. Apa lagi laki-laki.” Sumaji ikut menimpali.

“Mas.. terus yang momong Sarah siapa?” Siti menegaskan lagi.

“Kan ada ibunya siap 24 jam.” Jawab Ayah Sarah dengan cepat.

“Mungkin sekarang ibu kecapekan sehingga badannya demam.”

“Iya dok. tadi siang habis dari pantai.” jelas Sumaji menyindir.

“Ya sudah bu ini saya beri resep untuk vitamin dan anti mual supaya bisa tercukupi kebutuhan makan dan minumnya. Kalau memang tidak mau nasi diganti karbohidrat yang lain gak pa pa jangan lupa dua minggu lagi kontrol ya!”

“Baik dok. Terima kasih.”

 

Mereka pulang dengan membawa perasaan masing-masing yang tidak sinkron. Siti menerawang jauh cuma memikirkan bagaimana dengan Sarah yang masih harus selalu didampingi seandainya dia dalam kondisi tidak stabil dalam kehamilannya. Secepat kilat di hempaskan semua rasa ketakutan yang tidak beralasan itu. Astaghfirulloh al adziim. Bismillah..semua atas kehendakmu ya Allah.

 

 

 

 

BERSAMBUNG

1 comment:

Salah Paham

Versi Fiksi Mini  Oleh : Wyda Asmaningaju “Saya polisi, kamu telah terbukti bersalah atas nama hukum. Untuk tindakan selanjutnya mohon ikut ...