Oleh : Wyda Asmaningaju
Dok. Pribadi
Waktu berjalan begitu cepat, dua balita itu pun kini sudah menjadi pelajar di sebuah Sekolah Dasar yang sama. Sarah sudah kelas 6 dan berusia 12 tahun sedangkan adiknya kelas 3 dan berusia 9 tahun. Kehidupan dua bersaudara ini tumbuh dan berkembang dengan penuh kasih sayang dari ibunda sementara ayahanda jarang sekali menyapa kehadiran buah hatinya di saat dirinya dibutuhkan. Siti yang dengan setia mengantar sekaligus menjemput mereka, hanya dengan berjalan kaki mereka sudah sampai di sekolah. Sarah yang selalu rajin belajar mengakibatkan dirinya selalu meraih juara kelas. Sementara Arya yang memang pada dasarnya seorang anak cerdas meskipun tidak pernah belajar tetapi nilainya selalu sangat baik. Tidak kalah dengan pendidikan umum, Siti juga memberikan mereka pendidikan agama mulai dini dengan menitipkannya di sebuah Taman Pendidikan Al-qur’an (TPA) dekat rumah mereka. Pada suatu hari ada lomba menghafal surat pendek beserta artinya. Semua peserta menyiapkan dirinya tidak terkecuali Sarah dan Arya.
“Ibu..aku sudah menghafal surat ad-dhuha dari kemarin tapi masih belum hafal.” Keluh Sarah sambil menutup buku iqro’ nya.
“Jangan putus asa sayang, ayo ibu bantu menghafalnya.” Siti meminta buku dari Sarah dan membimbing dengan sabar.sementara Arya yang sibuk dengan kegiatannya di luar rumah bersama teman-temannya. Jarum jam menunjukkan angka 9 tampak Arya memasuki rumah dengan setengah berlari.
“Arya..dari mana saja nak?” Siti menutup buku iqro’ Sarah dengan sedikit berteriak.
“Main bu sama Iwan dan Banu.”
“Apa tidak belajar menghafal surat Asy-Syams untuk persiapan besuk?” Siti bertanya untuk kesekian kalinya.
“Gak usah belajar bu besuk pasti bisa.” Keyakinan Arya yang sudah terbiasa tidak belajar.
***
Saatnya Lomba menghafal surat pendek diselenggarakan tepat ba’da sholat ashar. Panitia membuka acara dengan bacaan basmalah dan kegiatan diawali dengan pembacaan ayat suci al-Qur’an. Suara qori’ menggema menembus arsy melangitkan do’a anak-anak sholeh sholehah yang siap dalam mengasah kecerdasan otak dalam menghafal ayat al-qur’an. Selesai pembacaan ayat suci dan terjemahannya, acara dilanjutkan dengan beberapa sambutan dari ketua penyelenggara dan pengurus TPA. Kemuadian dilanjutkan dengan lomba yang ditunggu-tunggu. Semua peserta berjumlah 34 dengan wajah yang beraneka ragam, ada yang ragu, biasa-biasas saja dan percaya diri untuk tampil di depan panggung yang lumayan luas itu. Tidak terkecuali dengan Sarah dan Arya yang saling support. Sarah merasa agak gugup sebelum namanya dipanggil.
“Kak..jangan gugup, nanti hafalan kakak hilang semua!” Arya mencoba menegur kakaknya yang dari tadi murung tanpa ekspresi.
“Iya dek, tapi aku gak bisa santai kayak kamu.” Tangan dingin milik Sarah memegang lengan Arya yang lebih besar.
“Nyantai kak,”
Tibalah saatnya namanya dpanggil. Sarah mengucap bismillah dan meluncur menaiki panggung. Di awali dengan mengucap salam dan seketika Sarah melafalkan surat Ad-dhuha dengan lancar. Hampir di akhir ayat, dia lupa dan berhenti sejenak kemudian dilanjutkannya dengan suara pelan seakan tidak yakin.
Satu per satu peserta tampil setelah selesai semuanya, sambil menunggu dewan juri memutuskan juaranya maka diselingi dengan tampilan beberapa penghafal al-qur’an dan qasidah dari anggota. Suasana panggung yang meriah sangat menghibur banyak peserta yang sudah tidak sabar menanti pengumuman pemenang. Dalam hitungan menit selesai hiburan, maka ketua panitia mengumumkan para pemenangnya.
“Hadirin yang dimulykan Allah, tibalah saat yang dinanti, saya atas nama panitia akan mengumumkan pemenangnya. Bagi yang sudah mendapat juara saya mohon untuk tidak berhenti sampai di sini belajarnya, dan bagi yang belum beruntung lebih giat lagi dalam belajar” Mahmud membacakan juara paling akhir yaitu harapan 3 sampai juara 2.
“Apakah Bapak Ibu dna adik-adik penasaran dengan juara pertama? nah saya panggilkan Arya Budi Santoso dengan bacaan surat Asy-Syams nya yang sangat luar biasa.” Lanjut Mahmud sambil meminta Arya untuk naik panggung. Tepuk tangan hadirin yang sangat meriah mengapresiasi para pemenang yang tampil di atas panggung. Siti yang juga hadir menyaksikan acara demi acara dengan hati berdebar terutama pada saat melihat tampilan kedua anaknya yang memiliki perbedaan kecerdasan dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Arya dengan bangganya menenteng piala penghargaan menuju ibunya yang duduk berada di kursi belakang.
“Bu..aku dapat piala.”
“Alhamdulillah.. anak sholehku” Siti meraih kening Arya dengan bibirnya sambil meendo’akan.
“Aku sudah bilang kakak supaya tidak gugup, nah akirnya kakak jadi lupa bacaannya.”
Sarah yang kehilangan senyum dari tadi hanya bersandar pada pundak ibunya. Tangan Siti yang lembut membelai jilbab Sarah sambil berucap.
“Gak apa-apa sayang, dalam setiap pertandingan pasti ada yang kalah dan menang. Itu hanya sebuah permainan jadi jangan terlalu sedih kalau kalah dan jangan terlalu bangga kalau menang.
“Tapi aku sudah berusaha bu menghafal. Saat tampil tiba-tiba hafalanku hilang.” Tanpa terasa air matanya beraair.Siti dengan lembut mencoba menenangkan Sarah dengan menawarkan sesuatu.
“Ayo sayang setelah sholat maghrib kita jalan-jalan di taman kota ya!”
“Gak mau bu, aku mau pulang dan belajar untuk besuk.” Tolak Sarah sambil merapikan jilbabnya.
Tanpa pikir panjanglagi, Siti menggandeng dua buah hatinya untuk pulang.
Suatu malam di kediaman Siti.
‘Ibu …adik ganggu aku lagi belajar nih.” teriak Sarah sambil menutupi bukunya dengan telapak tangannya.
“Arya..kenapa sayang?”
“Aku cuma lihat bukunya kak Sarah yang penuh dengan warna kuning dan hijau.”
‘Bohong…kamu mencoret bukuku. Sana nulis di bukumu sendiri.” Usir Sarah sambil mengambil bukunya Arya.
“Sudah sayang.. Arya kalau bukunya mau warna-warni kayak kak Sarah ini pakai stabilo.” kata Siti sambil menyerahkan Stabilo.
Dengan cepat Arya membuka tutup stabilo dan mencoret-coret bukunya.
‘Eh…Arya sayang, yang diberi warna bukan semua tulisan tapi yang penting-penting saja.”
“Ah bosen bu..kalau buat warna ini terus, sekarang aku mau main.” kata Arya sambil berlalu.
“Adik enak ya bu.. gak pernah belajar tapi nilainya selalu bagus.” protes Sarah dengan cemberut.
“Sarah sayang..Allah menciptakan semua makhluknya lengkap dengan kelebihan dan kekurngannya. Nah setiap manusia wajib menggali kelebihan yang ada pada dirinya. Mungkin sekarang adik masih sering bosan belajarnya, mungkin kalau sudah besar tambah rajin belajarnya kayak kakaknya.”
Mempunyai dua buah hati yang saling melengkapi merupakan idaman untuk keluarga kecil ini.
BERSAMBUNG
Wah, sudha siap berapa buku, nih?
ReplyDeleteMantap....