Thursday, November 24, 2022

BADAI PASTI BERLALU

 By : Wyda Asmaningaju


Dari kiri Bu Qomaroh, Bu Wyda Ayu, Bu Yana

Foto : Dokumen Pribadi

 


Prnsip menjalani hidup yang selaras tanpa kenal rasa lelah, tanpa ada kata menyerah, tekad menjadi contoh yang baik untuk semuanya menjadikan tiga dara diatas sebagai sahabat. Diskusi, makan bareng, gurauan mewarnai hari-hari mereka. Suka duka selalu mereka dekap erat tanpa ada keluhan. Mendidik, mengajar dan membimbing siswa-siswi tumbuh dan berkembang sesuai dengan potensi dan bakatnya adalah tugas mereka.

 

Meskipun bekerja di Instansi swasta yang mayoritas siswanya menengah ke bawah tidak mematahkan semangat mereka untuk menjadi motivator utama bagi siswa dan guru lain.

 

Selama kurang lebih 7 tahun mereka dipercaya menjadi wali kelas IX yang sekaligus menangani pernak pernik urusan ujian, ijasah, legalisir, pas foto, sekaligus perpisahan yang biasanya di laksanakan di luar kota atau rekreasi. Mulai awal kelas IX semester 1 siswa diwajibkan untuk nabung setiap hari supaya tidak memberatkan orang tua supaya kegiatan tersebut bisa dilaksanakan dengan sukses.

 

Urusan uang yang memang membutuhkan ketlatenan harus mengumpulkan sedikit demi sedikit dan tidak menutup kemungkinan ada yang tidak mampu sehingga bisa diambilkan dari donatur sehingga semua siswa bisa senang untuk mengikutinya.

 

Pada suatu Rapat koordinasi tentang Rekreasi kelas IX Bapak Kepala Sekolah menyerahkan sepenuhnya pada tiga dara tersebut. Tempat, biaya, berapa guru yang diajak, dana untuk guru yang tidak ikut, bingkisan untuk yayasan dan lain-lain.

 

        “Bu Qom bagaimana kalau kita ke Sarangan” Usul Bu Yana

        “Ya Bu karena selama ini kita hanya ke Malang dan Yogya” tambah Bu Ayu

        “Boleh juga ya terus bagaimana kita ngurus akomodasi dan konsumsinya?”

        “Kita harus survey dulu sebelum memutuskan semuanya”

        “Okay..okay siapa takut?” serentak mereka kompak

 

Maka diputuskannya hari minggu untuk survey ke Sarangan. Dengan ijin Bapak Kepala Sekolah yang menyebutnya tiga wanita perkasa, merekapun berangkat pagi jam 06.00 dengan kereta api jurusan madiun. Perjalanan kurang lebih empat jam sampai madiun dan mereka keluar stasiun.


Tanpa tahu jelas tempatnya merekapun tanya sana sini, termasuk akomodasi apa yang membawa mereka sampai ke Sarangan. Mungkin ini yang dinamakan Bonek alias bondo nekad. Kalau dalam Bahasa Indonesia artinya hanya berbekal tekad yang kuat supaya anak-anak senang karena di Surabaya tidak ada telaga dan air terjun.

 

        “Setelah ini kita naik apa Bu Qom?”

        “Saya juga tidak tau he..he..”

        “Ayo kita tanya orang itu”

 

Sambil menunjuk orang yang jualan es di pinggir Jalan maka Bu Ayu mendahului bertanya.

        “Maaf bu kalau dari sini, apa sarangan masih Jauh?”

        “Wah ya masih jauh mbak, sampean naik bis ke maospati kemudian turun lalu naik angkot ke sarangan”

        “Baik, terima kasih bu”

Mereka bertiga sambil ngakak menyalahkan diri sendiri.

        “La ya kita bertiga tidak ada yang tau koq nekad mau kesini”

        “Semangat..semangat..tujuan kita supaya anak-anak senang”

Maka merekapun melanjutkan perjalanan yang lumayan masih jauh.

Kurang lebih sekitar pukul 14.00 mereka sampai di Sarangan. Dengan beristirahat sebentar di warung dekat telaga mereka sambil ngobrol.

        “Bu Yana, kita nanti pesan hotel yang tidak jauh dari telaga ya?”

        “Ya Bu Ayu, sekalian konsumsi juga termasuk didalamnya biar kita gak repot lagi”

 Bermodal Jalan kaki mereka bertiga memastikan hotel yang tidak mahal dan sekalian konsumsi juga include didalamnya. Dari sekian hotel yang ditemui akhirnya mereka memesan “Graha Cirro Stratus” untuk waktu tertentu dan jumlah tertentu.

 

Penginapan milik Angkatan Udara ini memang disewakan untuk umum selain memiliki lapangan luas juga strategis letaknya tepat didepan telaga Sarangan. Kamarnya yang luas dan bersih serta harga konsumsi yang tidak begitu mahal menjadikan semuanya bisa dijangkau.

 

Setelah membayar DP Bu Qom tak lupa meminta service atau pelayanan ekstra.

        “Jangan lupa Pak untuk makan tambah krupuk ya dan untuk sewa penginapan kita di discount”

Sambil manggut mengiyakan petugas yang separuh baya hanya tersenyum simpul.

        “Jangan khawatir mbak, disini tidak akan kecewa. Kami akan melayani dengan baik”

Setelah cukup urusan kami segera mencari kendaraan untuk ke kota. Alangkah kagetnya ketika seorang sopir yang kita tanya menjelaskan.

        “Sekarang sudah jam 5 sore bu ini kendaraan terakhir yang menuju ke kota”

Saya lihat ke dalam mobil penuh sayur-sayuran yang dibawa dua orang. Alhamdulillah masih di tolong angkot terakhir meskipun mobil sayur. Sambil menahan nafas karena bau tumpukan  kubis didalam angkot, mereka ngakak dalam hati. Menikmati perjalanan yang teman lain tidak dapatkan. 

 

*************


Lamunanku dikagetkan oleh nada dering Handphone yang setelah saya lihat Bu Yana video call.

        “Assalamu’alaikum Bu Ayu”

        “Wa’alaikum salam, Bu Yana”

        “Bagaimana keadaannya sekarang?”

        “Alhamdulillah… dua hari yang lalu aku menjalani operasi kanker payudara, kemarin di ruang observasi karena tiroid ku berulah dan sekarang sudah di ruang inap”.                                                                                                                                                                                                                                                                                                   

Bagai petir menyambar disiang hari, seakan jantung ini berhenti. Sahabat yang kini tidak bersama lagi  tiba-tiba mengabarkan hal yang tidak pernah terpikir olehku. Dengan berusaha menyembunyikan perasaan aku coba menguatkan hati untuk tidak lebai didepannya.                                                                                                                                                                      

Dengan segenap hati tanpa menyesal atau menangis bibirnya lancar mengucap semua hal yang terjadi. Bu Yana beberapa lalu menderita tiroid yang menyerang matanya dan belum sembuh masih ditambah ada kanker yang harus dioperasi.

 

Ya Allah… berilah kesembuhan pada sahabatku ini sehingga dia bisa melanjutkan perjuangan demi anak-anak bangsa, meskipun aku tidak bisa hadir bersamanya lagi.

 

Seketika Bu Ayu menambahkan video call untuk Bu Qom supaya bisa gabung bersama. Alhamdulillah segera diterima dan kita bertiga bisa saling mensupport Bu Yana supaya lebih tegar dengan musibah ini. Menata hati yang memang dituntut untuk kuat menjalani nasib atau bagian hidup kita masing-masing. masih ada tiga gadis cantik yang mengharap kesembuhan bu Yana sebagai mama tercinta dikeluarganya. Jalani dengan banyak bersyukur yakin badai pasti berlalu.

 

 

 

 

Surabaya, 23 November 2022

2 comments:

  1. Bu Ayu, tulisannya menarik. Tapi mulai sekarang, Bu Ayu perlu lebih cermat dalam menggunakan bahasa Indonesia: preposisi vs awalan, istilah Inggris, ejaan, dsb.

    ReplyDelete

Salah Paham

Versi Fiksi Mini  Oleh : Wyda Asmaningaju “Saya polisi, kamu telah terbukti bersalah atas nama hukum. Untuk tindakan selanjutnya mohon ikut ...