By. Wyda Asmaningaju
Pembelajaran diluar kelas (Foto:Dok.Pribadi
Sekitar 73 armada bemo yang sudah siap mengantar keberangkatan siswa-siswi SMP Negeri 31 Surabaya untuk mengikuti kegiatan pembelajaran di luar kelas dengan menonton film “Jo sahabat sejati” di Marvell City”. Baik siswa reguler maupun inklusi berparisipasi mengikuti kegiatan tersebut didampingi oleh masing-masing guru pendamping. Tepat pukul 09.00 keberangkatan yang mengasyikkan seperti pawai beriring-iringan sampai kurang lebih 90 menit perjalanan. Film yang terjadwal jam 11.00 - selesai diikuti anak-anak dengan tertib.
Awalnya dimulai dari 3 sahabat sepulang sekolah, Danar salah satu dari mereka mengajak ke tempat tertentu.
“Nar kenapa kamu mengajak kesini’ Tanya Cinta
“Ya nar, apa kamu punya maksud tertentu’ tanya Genta
“Kalian ingat beberapa waktu lalu kita hampir jatuh dari jurang dan ditolong oleh Jo, kuda yang baik dan penolong’
“Ya aku masih ingat sampai sekarang, makanya aku sayang Jo” kata Cinta
“Bukan kamu saja cin tapi kita semua sayang Jo”
Ayo sudah sore sekarang kita pulang.
Jo adalah kuda peliharaan milik Arif guru mereka. Tidak hanya mereka yang sayang terhadap Jo tapi semua warga desa di Sumedang juga menyayanginya.
Pada suatu hari dirumah Arif kedatangan tamu yang bertindak kasar pada ibunya dengan tujuan menagih hutang peninggalan almarhum ayahnya. Arif yang masih mengajar di sekolah bergegas pulang setelah diberitahu oleh adiknya Lisa tentang kedatangan tamu tersebut.
“Saya akan mengambil kudamu kalau kamu tidak membayar hutang suamimu”
“Tolong jangan sampai tahu anak saya tentang hal ini. Biarlah cincin kawin ini yang akan kubayarkan untuk melunasi hutang suami saya”
“Ah mana cukup…”
Setelah beberapa lama Arif dan lisa sampai dirumah pada saat rentenir itu mau mengambil kudanya”
"Jangan ambil kudaku, ini ambil motorku saja” Kata Arif sambil melemparkan kontak motornya
“Boleh juga motor ini’
Langsung dibawanya pergi motor Arif dan cincin kawin Ibu Arif tanpa mengucap terima kasih.
Hari berikutnya Lisa, adik Arif akan melanjutkan kuliah di Yogyakarta.
“Kak Arif aku belum bisa berpisah dengan Jo, siapa yang akan menemani Jo kalau aku jauh”
“Kan ada aku yang menemani Jo”
“Kakak kan ngajar kalau pagi.terus Jo sama siapa?”
“Ada Ibu kan”
“Ibu gak pernah peduli pada Jo”
“Ssstttt.. jangan bicara begitu..sudah… kamu fokus kuliah saja sudah lama kamu cuti sekitar 6 bulan sejak ayah meninggal”
Keesokan harinya Arif dan pacar Lisa sudah bersiap mengantar Lisa, sementara dia masih berbicara dengan Jo.
“Jo… aku akan pergi sebentar dan aku pasti kembali..kamu baik-baik ya”.
“Ayo Lisa.. kakakmu sudah siap didepan”
Dengan berat hati melihat Jo yang tidak menatapnya, Lisa berpamitan pada Ibunya dan segera naik mobil Pick up bersama kakak dan pacarnya.
Sepanjang perjalanan Lisa hanya diam seribu basa dan bulir-bulir air membasahi pipinya. Kakaknya hanya bisa membelai untuk menenangkannya.
Tanpa disadarinya Jo lepas dari kandang dan mengejar mobil itu.
Tampak dari Spion Lisa melihat jo yang kencang berlari dan langsung dipanggilnya.
“Jo…Jo…Jo…”
Seketika mobil dihentikan dan Lisa berlari turun memeluk Jo sambil menangis.
“Jo…pulang..aku akan kembali..sekarang pulang Jo”
Persahabatan yang tidak bisa diungkapkan oleh kata-kata. Kasih sayang yang diberikan Arif dan lisa selama ini membekas pada insting kuda ini.
Setelah beberapa kali disuruh Lisa pulang maka Jo berbalik arah pulang ke rumah.
Keesokan harinya Arif bersiap mengajar di SMPN 10 Sumedang. Setelah memberi makan Jo diapun berangkat.
“Sudah ya Jo ini makan dan minummu”
Setelah ditinggal agak jauh Jo gelisah didalam kandang dan berusaha untuk keluar. Sampai suatu saat kayu penutup ditendang dan dia bisa lepas mengejar Arif yang akan bekerja.
‘Jo pulang, kamu tidak boleh ke sekolah”
Tanpa menghiraukan kata-kata Arif Jo tetap berjalan menemani Arif ke sekolah.
Di tengah Jalan Pak Galih yang bersama istrinya dikebun memanggil Jo dan Arif.
“Apa Jo mau dibawa ke Sekolah Pak Arif?
“Iya nih pak, Jo tidak mau ditinggal”
“Eh jangan atuh…biar Jo bermain dengan saya disini”
“Ah nanti mengganggu pak”
“Tidak..tidak..biar disini membantu saya”
Sambil memegang kendali Jo, Pak Galih menautkan talinya dipohon. Disitu juga bersamaan istrinya yang bernama nurul (Ibunya Cinta) yang merasa sesak nafas.
Beberapa lama Jo melihat ular didepan Bu Nurul dan meringkik keras sambil mengangkat kaki depannya tinggi-tinggi. Mungkin karena takut dan kaget dengan tingkah laku seperti itu Bu nurul sempat pingsan dan tidak tertolong lagi. Begitu menyaksikan istrinya bernafas lagi sontak Pak Galih berteriak minta tolong.
“Tolong…tolong..Jo membunuh istriku”
Penduduk sekitar berdatangan. Anak-anak sekolah beserta Pak Arif berlarian ke kebun yang jaraknya tidak jauh dari sekolah mendatangi suara itu.
Cinta merasa sangat kehilangan ibunya. Kata-kata ayahnya membuat Jo sebagai terdakwa. Tanpa berpikir panjang juga penduduk sekitar mulai membenci Jo menganggap sebagai pembawa bencana.
Maka atas perintah Kepala Dusun Jo harus keluar dari desa supaya tidak terjadi lagi beberapa bencana didesa.
Cinta yang semula percaya kalau Jo penyebab kematian ibunya disadarkan oleh kedua sahabatnya.
“Apa kamu yakin Cin, Jo yang membunuh ibumu? Apa masih meragukan kesetiaan Jo?”
“Iya Cin, pasti Jo punya alasan sehingga dia mengangkat kaki depannya sehingga ibumu takut.
Dengan niat yang kuat mereka bertiga menemui Pak Arif yang akan membawa Jo keluar desa. Disaat Pak Arif lewat sambil menuntun Jo mereka berteriak.
“Pak Arif… kami tau tempat Jo yang aman”
Sambil berjalan mendaki dan menuruni bukit berempat dengan menuntun Jo. Sampai pada suatu tempat padang yang luas mereka berhenti.
“Nah disini tempatmu Jo, kita akan membuat kandang yang nyaman untuk Jo tersayang”
Bekerja sama dengan hati riang membuat kandang yang jauh dari penduduk. Setiap hari dikunjungi untuk memberi makan dan minum serta memandikannya.
Hari berganti hari, sampai pada suatu saat disekolah mereka mengadakan pentas seni yang melibatkan semua siswa untuk berpartisipasi didalamnya. Acara demi acara berlangsung sampai hampir selesai.
Tanpa disadari ada korsleting listrik yang mengakibatkan percikan api dan semakin membesar di atas gedung sekolah. Mereka berhamburan keluar dan saling bantu membantu. Jo yang jauh tempatnya dari desa itu merasakan bencana ini.
Dia meringkik keras dan melepaskan tali yang mengikatnya. Tidak begitu lama Jo sudah sampai di depan sekolah Arif dan membantu mengeluarkan orang-orang yang terjebak si Jago merah. Terakhir yang dia tolong adalah 3 sahabat kecilnya yaitu Cinta, Danar dan Genta. Alhamdulillah mereka selamat. Tapi Jo kejatuhan kayu berapi sehingga tubuhnya lemas dan meninggal.
Sebagian besar anak-anak menangis terbawa perasaan. Persahabatan tidak selalu dengan sesama manusia tapi Binatang juga mempunyai insting yang bisa merasakan kasih sayang kita dan bisa membalasnya.
Guru Pendamping (Foto: Dok. Pribadi)
Surabaya, 18 November 2022
Setiap huruf pertama dari kata petlrtama dlm dialog hrs dihuruf besar (kapital).
ReplyDeleteInggih Bapak, matur nuwun
DeleteSeru banget. Kegiatan yg keren.
ReplyDeleteDulu pernah sekolah sy, nonton film Laskar Pelangi di bioskop. Dan hanya kali itu saja.... Hehe....
terima kasih Bu Mien
DeleteSangat bagus tulisannya. Terus lenjut Bu.... Asah bakat menulisnya....
ReplyDeleteterima kasih Pak Aziz
Delete