Oleh : Wyda Asmaningaju
Membaca Judul buku ini SOS Sapa Ora Sibuk seakan menyentil saya supaya tidak mengatas namakan kesibukan untuk tidak menulis. Buku ini menginspirasi saya sebagai penulis pemula untuk selalu belajar banyak dalam hal kepenulisan. Beberapa puluh tahun silam saat masih di bangku kuliah saya pernah senang membaca dan menulis di waktu senggang. Beberapa kumpulan cerpen dan novel menjadi idola saya. Pada akhirnya pupus dengan sendirinya, karena tidak pernah saya pupuk dan siram.
Penulis buku ini adalah seorang dosen Universitas Negeri Surabaya, penggerak literasi, trainer, editor dan masih banyak lagi gelar yang beliau sandang. Penulis mempunyai kesenangan membaca dan menulis sejak masih kecil. Sudah selayaknya kalau sekarang beliau sudah menjadi hero. Semua butuh proses sehingga membutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk bisa menulis dalam semua genre dengan kaidah yang benar.
Identitas Buku
a. Judul : SOS : Sapa Ora Sibuk, Menulis Dalam Kesibukan
b. Penulis : Much. Choiri
c. Penerbit : Tankali
d. Tahun Terbit : 2020
e. Tempat Terbit : Sidoarjo
f. Tebal Buku : 167 halaman
g. Ukuran Buku : 20 x 14 cm
Buku ini dibuka dengan judul bab yang menjelaskan kepanjangan singkatan dari halaman judul, yakni “S.O.S” atau “Sapa Ora Sibuk” (Terj.: Siapa Tidak Sibuk).Judul yang unik menurut saya karena dengan membaca judul buku ini memberi makna bahwa semua orang menyatakan dirinya sibuk. Pada bagian tersebut, penulis mengemukakan bahwa sebagian besar orang yang terus merasa dirinya disibukkan dengan berbagai urusan yang digelutinya, entah karena tugas domestik maupun karir di luar rumahnya. Bahkan seorang pengangguranpun akan mencari pekerjaan sebagai bentuk kesibukannya..
Penulis membuktikan di sini bisa menulis kapanpun dan dimanapun. Penulis mengingatkan supaya tidak meremehkan sebuah tulisan, apapun bentuknya. Siapa tau suatu saat kita butuh tulisan penting yang tercecer dalam sejarah kita.
Selain hal di atas, semua kilah kesibukan itu bisa juga digunakan sebagai alibi. Inilah kilah yang membuat mereka tetap berada di ‘zona nyaman’ bergelut dengan kesibukan tetap yang menurut mereka akan menambah beban jika kegiatan menulis dicantumkan ke dalam list kegiatan sehari-sehari. Banyak orang dituhankan oleh kesibukan mereka sendiri, namun hal itu adalah salah mereka sendiri yang terlalu larut dalam kesibukan yang tiada akhirnya. Mereka terlalu mengakrabkan pada kesibukan, merubung, dan melekat seolah menjadikan kesibukan itu adalah kawan mereka.
Intinya dari berbagai macam kesibukan tersebut lambat laun menjadi alasan pembenar agar mereka meninggalkan kewajiban yang menurutnya harus ditunaikan, yaitu menjadi seorang penulis sebagai panggilan kalbu. Tak hanya itu, mereka seharusnya sadar bahwa manusia akan dilupakan cepat atau lambat jika tidak menuangkan pikiran, ucapan, dan Tindakan dalam tulisan.
Pada bab selanjutnya, penulis kembali menguatkan penjelasan pada bab pertama, dengan cara ingin menekankan kembali soal kepenulisan dikala sibuk yang harus selaras dengan bersikap positif terhadap kesibukannya. Jadi diharapkan, energi positif itulah yang oleh penulis dikatakan akan menghasilkan kekuatan dan peluang.
Selanjutnya penulis kembali menekankan tentang keharusan manusia untuk terjun dalam dunia kepenulisan dengan mengutip bahwa menuliskan membuat kata-kata dapat melintasi masa demi masa. Pada bab selanjutnya, penulis menerangkan soal pembiasaan diri dalam kegiatan menulis. Dari yang pada awalnya terpaksa maupun sukarela menjadi terbiasa.
Pada bab keempatnya, berbeda dari ketiga bab sebelumnya, tidak lagi mengangkat soal ajakan menulis, melainkan teknik dasar kepenulisan itu sendiri, dimana dikatakan bahwa menulis itu layaknya berkomunikasi dengan pembaca sebagai audiens-nya.
Lanjutnya pada 17 bab setelahnya, penulis menyebutkan ketujuh belas strategi yang direkomendasikan untuk memulai kegiatan menulis dikala sibuk, seperti: Rajinlah membaca, Gunakan alat perekam Gagasan, Kobarkan inspirasi menulis, Tentukan waktu utama, Menulis bebas, Menulis di dalam hati, Menulis di waktu utama, Manfaatkan waktu luang, Menulis yang dialami, Menulis yang dirasakan, Menulis selaras dengan minat dan pekerjaan, Menulis dengan riang, menulis yang banyak, Read better write faster, Buatlah Motto yang dahsyat, dan terakhir ialah menulis dengan doa.
Bagi non-penulis maupun penulis pemula, buku ini sangat direkomendasikan untuk membangun hingga meningkatkan minat atau ketertarikan dasar atas kepenulisan
Bahasa dalam buku ini tidak ditujukan untuk semua kalangan pembaca, namun untuk kalangan orang yang memiliki kesibukan yang padat.
Secara keseluruhan, buku ini sangat cocok untuk dinikmati oleh pembaca yang belum memiliki minat kepenulisan maupun pembaca yang juga merupakan penulis pemula, terlepas dari kekurangannya ide atau bahan.
Surabaya, 14 - 12 - 2022
Mantab Resensinya BU
ReplyDelete