Tuesday, January 31, 2023

Boneka Untuk Sarah

 Oleh : Wyda Asmaningaju


Dok. Pribadi

 

 

Menikmati suasana baru dengan orang-orang baru di sekelilingnya merupakan pemandangan yang sedikit asing bagi Sarah. Sedikit demi sedikit Siti mengenalkan teman sepantarannya yang tinggal dekat rumahnya. Siti sangat bersyukur mempunyai anak yang jarang sekali rewel. Sarah adalah anak yang ceria, mudah beradaptasi dan suka diajak siapapun.

 

Dia selalu berusaha banyak berkomunikasi dengan anaknya meskipun Sarah belum bisa banyak bicara. Hari-harinya dimanfaatkan sepenuhnya untuk bercanda, bermain, belajar dengannya. Apalagi kalau ayahnya tidak ada di rumah, banyak anak kecil datang ke rumah Sarah untuk bermain.

“Pagi tante, Sarah nya ada?” tanya Nita dan Gita suatu pagi

“Ada mbak Nita. Ini adik Sarah nya.” kata Siti sambil mendampingi mereka bermain.

Semua mainan Sarah dikeluarkan Siti dari kotaknya, termasuk berbagai macam bentuk puzzle untuk pertumbuhan otaknya.

Ntia dan Gita membantu merapikan mainan yang berserakan dan menatanya kembali sesuai bentuknya.

Tampak mereka bertiga sangat menikmati suasana pagi itu. Nita dan Sandra yang sudah agak besar bisa melayani keinginan Sarah.

‘Tante, apa adik Sarah tidak punya boneka yang bisa menangis?” tanya Nita kemudian.

“Tidak punya sayang.”jawab Siti dengan lembut.

“Aku punya tante. Kemarin barusan dibelikan paman.”

‘Oh ya pasti cantik ya bonekanya?”

“Sebentar ya tante aku mau ambil bonekanya.” tegas Nita sambil berlari pulang.

Sesaat kemudian Nita sudah kembali mengambil boneka kesayangannya. Melihat boneka cantik itu Sarah langsung merebutnya. Dengan sigap Nita mempertahankan bonekanya. Maka terjadilah tragedi saling berebut. Seketika Sarah yang tadinya periang menjadi sedih dan menangis sejadi-jadinya.

‘Nah kan gara-gara kamu sih Nita. Adik sarah jadi nangis tuh.” tuding Sandra pada Nita.

“Tapi aku kan gak mau bonekaku diambil.”

‘Kalau gak mau dipinjam ya main di rumahmu sendiri.” bentak Sandra

“Sudah mbak Nita kembalikan pulang saja bonekanya biar adik Sarah tidak minta ya.”

“Makanya tante adik Sarah dibelikan boneka seperti ini supaya tidak nangis.” tambah Nita yang masih belum pulang.

“Iya deh kapan-kapan. Sekarang adik Sarah mau bobok dulu ya” ucap Siti seraya membereskan mainan Sarah

“Iya tante saya pulang.” Sandra berpamitan diikuti Nita sambil menggendong bonekanya.

 

Siti berusaha menenangkan Sarah yang masih belum berhenti menangis.

“Anak cantik… sholehah nya ibu…cup ya sayang. Kita masih punya mainan banyak. Ini juga boneka cantik.”

Tangannya sambil menunjukkan boneka milik Sarah.

 

Menjeang sore harinya.

 

“Assalamu’alaikum dek Siti.”

“Wa’alaikum salam mas.” jawab Siti sambil mencium tangan suaminya.

“Agak sore mas pulangnya?” tanya Siti heran

“Iya tadi aku minta tolong teman sebentar untuk ngantar aku ke poliklinik karena perutku sakit.”

“Memangnya kenapa perutnya? “

“Kata dokter sih sepertinya maag dek.”

“Mungkin jenengan telat makan ya?”

“Ah gak kok. Tadi aku makan siang dengan nasi campur madura. Tapi sekarang sudah agak enakan setelah diberi obat.”

“Ya sudah mas, saya siapkan handuk dan baju gantinya untuk mandi ya.”

“Bagaimana Sarah? Apa seharian tidak rewel?” tambah Sumaji

“Ah tidak kok mas. cuma tadi minta bonekanya Nita yang dibawa ke sini.”

“Kenapa lagi dengan anaknya Gunawan itu?’

“Ah sudah gak usah diributkan.”

Siti mondar-mandir menyiapkan keperluan suaminya. Selesai suaminya mandi dia sudah siap dengan secangkir kopi untuk dihidangkan.

“Pesan dokter tadi, aku tidak boleh minum kopi lagi dek.”

“Oh maaf mas. Kalau begitu saya singkirkan kopi ini.”

“Mas kalau begitu sekarang makan saja ya?”

“Saya masakkan tahu telur kesukaan jenengan ya.”

“aku bosen dek.”

“Terus makan apa? Apa dibelikan di warung?” tambahnya

“Belikan soto saja.”

Hal seperti itu tidak sekali dua kali terjadi. Meskipun setiap hari Siti masak untuk suaminya tapi hanya dimakan sekali dan selanjutnya minta makanan dari luar alias jajan. Siti yang mulai bingung dengan masalah keuangan sementara sang suami sangat rewel dengan makannya terpaksa menurutinya dan sering dibelikan di luar. Malam semakin larut membuat suasana menjadi hening sesaat.

“Mas..apa boleh aku ngomong sesuatu.” pinta Siti sambil memijat kaki suaminya.

“Ngomong saja.”

“Maaf kalau sebelumnya aku tidak jujur. Uang belanjaan bulan ini tinggal sedikit mungkin bisa untuk belanja 2 hari lagi.”

“Ya cukup-cukupkan dek wong yang kerja hanya saya.”

Sentak Sumaji

“Ya kalau mas makannya di rumah saja, Insya Allah cukup tapi kalau masih harus beli lauk di luar itu yang menjadikan boros.”

“Ah kamu bisa-bisanya. Terus apa aku disuruh ngrampok?”

Melihat suasana yang memanas, Siti mengurungkan niatnya untuk melanjutkan masalah ini.

“Ya sudah mas gak usah dilanjutkan, sudah malam. Maafkan aku yang belum bisa menjadi istri terbaik buat panjenengan.”

Dilebarkan sayap kesabarannya supaya tidak melukai hati orang yang dicintainya. Disimpannya rapat-rapat semua rasa yang berkecamuk dalam dadanya. Bintang dan bulan sebagai saksi sedikit perselisihan malam itu. Akhirnya mereka terlelap ditelan dewi malam.

 

Keesokan hari.

 

Seperti hari-hari sebelumnya, setelah bangun tidur Siti menyiapkan air hangat untuk mandi Sarah kemudian dilanjutkan dia sendiri yang mandi. Kemudian menyiapkan handuk dan baju ganti sang suami sebelum mandi. Baru saja tangannya meletakkan baju tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu.

“Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikum salam.” jawab Siti serya membuka pintu depan.

“Oh mbak Reni silakan masuk.” tanbahnya

“Maaf dek, aku pagi-pagi ke sini.”

Dari belakang Sumaji yang belum mandi bertanya ada siapa di luar.

“Ada siapa dek pagi-pagi begini?”

“Mbak Reni mas.” sedikit berteriak

Setengah berlari Sumaji mendatangi kakaknya takut ada sesuatu.

“Ada apa mbak kok pagi-pagi sekali?”

“Maaf mengganggu kalian. Ini lo kemarin sore kita baru dengar katanya Sarah nangis gara-gara minta boneka nya Nita ya?”

“Oalah itu sih biasa mbak.”

“Nah .. mbah yut gak terima kalau sampai cicitnya nangis gara-gara itu.”

“Ah biasa itu mbak.” timpal Sumaji

“Kamu ngomong biasa tapi perasaan orang tua beda dengan kamu.” bentak Reni

“Ini saya disuruh mbah menghadiahkan boneka yang persis punya Nita kepada Sarah supaya dia senang.” jelas Reni sambil mengeluarkan boneka dari kotak besar.

“Maaf mbak Reni, saya jadi gak enak sama mbah. Masalah kecil seperti ini sampai-sampai melukai perasaan mbah buyutnya.” ucap Siti menyesal.

“Bukan kamu dek yang harus minta maaf tapi ayahnya sebagai kepala keluarga yang harusnya malu.”

“Kenapa aku harus malu, masak anakku harus punya mainan segalanya?” jelas Sumaji

“Ah sudahlah yang penting berikan boneka ini pada Sarah ya supaya senang.” pesan Reni.

“Sekali lagi terima kasih mbak, salam buat mbah buyut.”

“Ya dek aku pamit ya. Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikum salam.”

Setelah menutup pintu, Siti masuk kamar dan memberikan boneka itu kepada Sarah. Dengan cepat Sarah merebut dan  siap menggendong boneka yang persis kepunyaan Nita.

 

 

BERSAMBUNG

Saturday, January 28, 2023

Rumah Baru

 Oleh : Wyda Asmaningaju


 

                                                                        Dok. Pribadi


Menapaki bahtera rumah tangga yang masih seumur jagung, Siti dan Sumaji sudah menemui beberapa kerikil tajam kehidupan. Dengan keputusan Siti yang berhenti bekerja membuat Sumaji berputar otak untuk bisa memenuhi kebutuhan hidup sendirian tanpa bantuan istri, termasuk memikirkan kontrakan yang sebentar lagi akan habis.

“Dek, saya akan ke rumah mbah untuk menanyakan barangkali ada rumah yang habis kontrakannya.”

“Maksudnya bagaimana mas?”

‘Mbah kan punya banyak rumah yang dikontrakkan, mungkin salah satunya ada yang sudah habis masa kotrakannya. Nah kita bisa tinggal disitu.”

“Apa gak pa pa mas dengan mbakyu - mbakyu kan juga punya hak.”

“Kalau masalah hak ya harusnya aku yang paling banyak. Karena mbah kan punya dua anak. Yang pertama bude atau ibunya mereka dan yang kedua adalah ibuku.”

“Oh..gitu. Tapi aku gak enak mas. Tapi ya terserah njenengan lah.”

“Aku selama ini tidak penah minta apa-apa sama mbah. Lihat Itu mbakyu - mbakyu perhiasannya yang nempel banyak di badan mereka semua dari mbah. Aku cuma dikasih peniti emas itupun kalau anakku pertama perempuan. Ya…Alhamdulillah anakku perempuan.”

Siti hanya melongo sambil membayangkan semua hal yang dilihat dan dirasakan setelah mendengar pengakuan polos suaminya.

 

“Ya sudah dek, aku pamit ke rumah mbah dulu ya.”

“Iya mas, hati-hati.”

“Assalamu’alaikum .”

“Wa’alaikum salam.”

 

Dalam benaknya masih berkecamuk seribu pertanyaan tentang suaminya. Sambil merapikan taplak meja Siti dikagetkan dengan tangisan Sarah yang sepertinya terbangun dari tidur. Setengah berlari dibopongnya gadis montok yang lucu itu kemudian ditenangkan.

 

Beberapa saat kemudian di kediaman mbah putri.

 

“Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikum salam.”

“Apakah ada mbah, mbak Reni?”

“Itu lagi di dapur.” Reni sambil menunjuk ke arah dapur.

Tanpa panjang lebar Sumaji langsung menuju dapur mencari sosok orang penting baginya.

 

“Mbah…mbah..”

“Eh kamu..mana istrimu dan cucuku?”

‘Mereka di rumah.”

“Kenapa tidak diajak?”

“Mbah..aku ke sini mau tanya apa ada rumah kosong? Mau tak tempati sekeluarga.”

“Lo..apa kontrakanmu sudah habis? Kan istrimu juga kerja dekat kontrakan?”

“Dek Siti sudah gak kerja lagi mbah.”

“Kenapa?”

“Ah sudah mbah jangan tanya itu.”

‘Kamu pasti buat masalah ya.”

“Ayo mbah jawab pertanyaanku tadi.”

“Pertanyaan yang mana?”

“Aduh… yang kontrakan tadi lo..”

“Sebentar aku tanya mbakyumu dulu. Ayo ikut aku.”

Sambil menggandeng Sumaji ke ruang tamu mbah ti sedikit berteriak kepada cucu lainnya.

“Ren. Ini Sumaji tanya apakah ada rumah yang kosong atau kontrakannya tidak diperpanjang?”

‘Mungkin pak Rusdi yang kontrakannya di belakang itu mbah kurang satu bulan habis dan katanya mau pindah ke desa karena proyeknya sudah selesai.”

“Coba kalian tembusi lagi kalau memang kosong biar ditempati Sumaji sekeluarga.”

“Ya mbah habis ini saya tanyakan.’

‘Ayo mbak sama aku tanyanya biar lega kalau memang sudah habis.”

Bagai dikejar setoran, Sumaji langsung tancap gas mengajak mbak Reni konfirmasi kontrakannya kepada Pak Rusdi. Laksana gayung bersambut, usaha Sumaji tidak sia-sia alias membuahkan hasil. Maka detik itu pun dipastikan bahwa rumah itu sebulan lagi kosong dan akan ditempatinya sendiri. Setelah mendapatinya semua keinginannya maka Sumaji tanpa banyak basa basi langsung pamit pulang.

“Eh.. kamu mau kemana?’

“Pulang mbah. Mau bilang dek Siti tentang ini.”

“Sebentar, ini bawa buat istri dan anakmu.”

Mbah ti menyiapkan bungkusan aneka kue dan masakan buatan sendiri untuk oleh-oleh.

“Ya sudah mbah saya pulang, assalamu’alaikum”

“wa’alaikum salam.”

 

Dengan hati berbunga-bunga Sumaji menyampaikan berita ini kepada istrinya dengan berapi-api. Singkat cerita mereka akhirnya pindah rumah baru meskipun tampak sedikit pudar warnanya karena sudah lima tahun dikontakkan tanpa di cat ulang. Rumah dengan ukuran 6 x 12 itu dengan dua kamar tidur bawah dan beralaskan jubin biasa serasa cukup untuk keluarga kecil mereka.

 

Kali ini Siti merasa agak asing karena pindahan rumah bukan kontrak tapi hasil pemberian seseorang yang sedikit dipaksa suaminya. Tapi apa boleh buat penghasilan bersumber pada satu orang dan baginya menurut dengan suami adalah jalan menuju surgaNYA. Selama sang suami tidak mengajaknya ke tempat maksiat.

 

Rumahnya agak masuk gang kecil tapi masih bisa dilalui sepeda motor. Kampung yang padat membuat Siti harus menyesuaikan kembali dengan tetangga barunya.  Hari pertama menempati rumah Siti memasak bubur beras merah dan putih dan selanjutnya diantar sendiri ke tetangga dekat sembari berkenalan. Kehadirannya disambut hangat oleh banyak orang di kelilingnya tanpa memandang asal usul Siti. Sikapnya yang ramah dan penuh tanggung jawab menjadikan orang lain sangat menghargainya. Sementara Sumaji yang memang asli dari kampung itu sikap dan kepribadiaannya sudah diketahui banyak orang. Beberapa menit setelah Siti masuk kamar terdengar suara ketukan pintu

 

“Assalamu’alaikum…”

“Wa’alaikum salam..” Siti membukakan pintu sambil merapikan jilbabnya.

“Eh mbak Reni dan mbak Danita.. monggo silakan masuk.”

“Ya dek Siti. Kedatangan kami hanya main dan sangat kangen dengan si cantik Sarah.”

“Sebentar ya mbak saya panggilkan.”

Siti masuk kamar sebentar dan keluar lagi sambil menggendong Sarah.

“Ini budhe Sarah nya.”

“Aduh..tambah gemol ya badannya. Pinter ibunya merawat dari bayi paling minim beratnya sekarang sudah gendut.” Cetoteh Reni seraya mencuil pipi Sarah.

‘Iya nih Sarah tambah cantik ya.” tambah Danita.

“Sini sama budhe ya cantik.” kata Reni sambil menyiapkan kedua tangannya untuk menggendong Sarah.

“Eh ngomong-ngomong mana ayahnya?” Tanya Reni sambil memangku Sarah

“Ada di kamar budhe. Mau saya panggilkan ya?”

“Eh gak usah nanti malah ganggu.” cegah Danita

“Dek Siti kalau ingin ikut arisan PKK besuk saya daftrakan ke bu RT.” tambah Danita

“Ya mbak terima kasih.”

“Apa dek Siti masih kerja di toko makanan ya?”  tanya Reni

“Saya sudah tidak kerja mbak, karena tidak ada yang ngurus Sarah.”

‘Oh gitu. Ya dek mending ngurus anak sendiri daripada di momong sama pembantu yang tidak jelas.”

“Ya mbak.”

“Sarah.. ini budhe punya sedikit makanan untuk kamu ya cantik.” Kata Reni sambil mengeluarkan beberapa kue dan menyerahkan pada Sarah.

“Terima kasih budhe..” Sahut Siti mewakili anaknya.

“Sudah malam ya.. Sarah mau bobok. Budhe pamit ya.” Kata Reni sambil mengecup pipi Sarah dan menyerahkan Sarah ke ibunya.

“Kami pamit dulu dek, nanti disampaikan dengan ayah Sarah ya.”

“Baik  budhe terima kasih banyak atas kedatangannya.”

“Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikum salam.”

 

BERSAMBUNG

30 Januari 2023

Saturday, January 21, 2023

Maafkan Aku

 Oleh : Wyda Asmaningaju


Dok. Pribadi

 

 

“Mbak Tini, kuenya sudah datang belum?”

“Belum bu, padahal tadi sudah saya hubungi lagi.”

“Mungkin masih macet di jalan.”

“Iya bu. Ini nasi kuningnya sudah bisa dimasukkan tempatnya ya bu?”

“Ya saya rasa sudah dingin, bisa dicetak dan dimasukkan tempatnya.”

“Jangan lupa di atasnya nasi beri irisan lombok merah ya.”

“uuppss..Hampir lupa bu. Itu lomboknya malah saya letakkan di atas kulkas.”

 

Beberapa lama kemudian.

“Permisi, apa benar kediaman Ibu Siti Sholehah?”

“Ya mas dengan saya sendiri.”

“Maaf bu, ini kuenya agak telat karena pegawai kami ada yang mendadak tidak masuk sehingga kami sendiri yang mengantar.”

“Oh ya mas tidak mengapa, acaranya masih kurang satu jam lagi.”

Siti mengambil beberapa lembar ratusan ribu dari dalam dompet kemudian diserahkannya kepada pemilik bakery tersebut.

“Terima kasih bu, ini barangnya dan saya pamit.”

“Ya mas, terima kasih kembali.”

 

Beberapa saat kemudian rumah itu sudah dipenuhi gadis kecil berjlbab dan perjaka mungil berkopyah putih. Sekitar 20 anak yatim diundang untuk menghadiri tasyakuran Sarah yang hari ini genap berusia 1 tahun. Tampak Sarah mungil memakai gaun ungu bermotif bunga kuning dan berjilbab pink digendong Hartini sedang terheran-heran melihat banyak orang di rumahnya.

 

Sebagai shohibul bait, Siti menyerahkan acara sepenuhnya kepada pimpinan yayasan yatim tersebut. Dalam hitungan menit acara pun di awali dengan pembacaan ayat suci Al-qur’an, sholawat nabi dan diakhiri dengan do’a. Kemudian acara dilanjutkan dengan makan bersama dan berfoto ria. Sarah tampak senang melihat banyak sahabat kecil di sekelilingnya. Satu per satu anak-anak bersalaman dan berfoto bersama Sarah. Pada saat giliran anak terakhir Sarah mulai agak rewel mungkin terlalu capek dan setelah ditenangkan oleh Hartini maka sesi foto pun bisa dilakukan. Sekitar kurang lebih 1,5 jam acara berlangsung dan mereka berpamitan sambil menenteng tas cantik.

 

“Alhamdulillah ibu, acaranya berlangsung lancar.”

“Iya mbak. bahkan si cantik juga pinter gak rewel sama sekali.”

“Iya bu benar-benar menyenangkan.”

“Ayo mbak kita beres-beres.”

“Siap Ibu.”

Selesai acara mereka berdua tampak sibuk mengemasi barang-barang yang sudah tidak terpakai lagi dan membersihkan sisa-sisa sampah sekaligus mencuci tumpukan piring dan panci kotor. Sementara itu Sumaji yang dari awal duduk diluar sambil ngobrol dengan tetangga depan rumah.

 

Waktu berjalan begitu cepat, mereka selesai membereskan semua pekerjaan sekitar pukul 21.00. Tampak wajah Hartini sudah mulai kelelahan dan sudah saatnya dia istirahat.

 

“Bu, saya pamit istirahat ke kamar dulu.”

“Ya mbak, saya juga ngantuk.”

 

Sambil memanggil sang suami, Siti menutup jendela dan memasukkan gulungan tikar.

 

“Mas, sudah malam. Apa tidak istirahat?”

“Ya tunggu sebentar dek.

 

Sambil merapikan kelambu dan menata meja ditunggunya suaminya sampai masuk rumah. Setelah Sumaji masuk kemudian pintu dikuncinya.

 

“Dek, tadi aku lihat ada seorang anak laki-laki lucu.”

“Bagaimana mas?”

“Sepertinya mereka anak kembar, laki dan perempuan. Yang laki-laki setelah keluar rumah malah minta jajan kembarannya. Begitu tidak diberikan malah ngomel-ngomel sambil marah.”

“He..he ..bisa dibayangkan betapa lucunya ya masih kecil bisa ngomel-ngomel.”

“Ada yang tidak datang dek tadi anaknya Bu Ratna tetangga ujung gang. Lalu saya ambilkan tadi jajannya dan saya titipkan Farida yang  rumahnya disebelah.”

 

Sambil menahan rasa kantuk, Siti masih berusaha melayani pembicaraan dengan suaminya. Sambil menutup mulutnya saat menguap, matanya sudah mulai tidak kuat melek. Entah terakhir ngobrol apa temanya sehingga membuatnya tidak bisa berkata-kata lagi.  Malam semakin larut tidak terasa Siti sudah berada dalam peraduannya. Sumaji yang masih belum digelayuti rasa kantuk menghabiskan waktu malamnya dengan nonton sepak bola di Televisi. Suara TV yang tidak terlalu keras sedikit mewarnai keheningan malam.

 

Tiba-tiba Sumaji ingin ke belakang buang air kecil. Sebelum sampai di kamar mandi dilihatnya  pintu kamar Hartini sedikit terbuka mungkin lupa dikunci. Setelah selesai buang hajatnya dia pelan-pelan membuka pintu kamar Hartini dan mengambil sapu lidi sambil mengibas-ngibaskan ke atas badan Hrtini. Merasa ada seseorang berada di kamarnya, maka Hartini terbangun dan sontak berteriak.

“Ibu..tolong…ibu..tolong..”

Mendengar teriakan Hartini, Sarah terbangun sambil menangis sekaligus membangunkan Siti. Digendongnya Sarah seraya mendatangi suara tersebut.

“Ada apa mbak Tini?”

“Ini bapak masuk ke kamar saya.”

“Apa benar mas?”

“Ya saya cuma memastikan kalau di sini tidak ada nyamuk.”

“Bohong bu, mungkin bapak punya seribu alasan tapi saya yakin pasti punya niat jelek pada saya.”

“Kamu itu yang punya pikiran jelek.”

Siti yang bijaksana berusaha menenangkan Hartini untuk sedikit tenang dan berjanji menyelesaikan masalah ini.

“Sudah mbak, begini saja berhubung sekarang sudah larut besuk saja kita selesaikan masalah ini, jangan lupa kunci pintunya”

“Baik bu.”

Sisa kesunyian malam tidak bisa membuat ketenangan untuk seisi rumah itu. Masing-masing pribadi mempunyai seribu pikiran yang ada di kepalanya. Meskipun mata berusaha dipejamkan tapi otak masih mencari jati dirinya.

 

 

***

 

Keesokan hari.

 

Setelah sarapan bersama sang suami, Siti memanggil Hartini untuk menyelesaikan masalah tadi malam.

“Mbak Tini maafkan saya kalau selama ini keluarga saya membuat sampean tidak nyaman.”

“Bukan Ibu tapi bapak yang saya takutkan bu.”

“Kenapa kamu bawa-bawa nama saya?”

“Ya bapak dulu pernah tanya saya apa sudah punya pacar belum?”

“Apa benar mas?”

“Ya benar. Menurutku kan wajar saja cuma tanya seperti itu?”

Bagaikan menelan pil pahit Siti berusaha untuk menguatkan mental dan fisik. Hanya meminta petunjuk dzat yang paling tinggi masalah ini bisa diselesaikan.

“Mungkin selama ini  saya egois ya mas, hanya memikirkan pekerjaan dan anak. Tidak pernah mengurus suami. Saya belum bisa menjadi istri yang baik buat keluarga” Sesal Siti seraya meneteskan air mata.

“Maafkan saya ya mas. Hal ini tidak akan saya ulangi lagi.”

“Begini mbak Tini, sebelumnya saya juga minta maaf atas segala perlakuan saya dan suami kepada sampean. Untuk menjaga keutuhan rumah tangga saya dan menjaga kehormatan mbak Tini, mulai hari ini sampean saya pulangkan ke orang tua dengan kata lain ini adalah hari terakhir sampean kerja di sini. Dengan demikian saya juga akan keluar dari pekerjaan saya supaya saya bisa mengurus anak dan suami dengan baik.”

“Tapi bu …”

“Itu keputusan saya mbak untuk kebaikan semuanya.”

“Baiklah bu saya ihklas. Sebenarnya saya masih sayang dengan ibu dan Sarah tapi…”

Sumaji yang menyaksikan semua kejadian hanya diam seribu basa tanpa menunjukkan sikapnya sebagai kepala rumah tangga. Entah apa yang ada di dalam benaknya dengan keputusan Siti tersebut. Beberapa menit Hartini mengemasi semua barangnya dan pamit kepada jurangannya. Selesai Hartini meniggalkan rumah itu berbarengan Siti minta diantarkan ke toko tempat kerjanya dengan tujuan mengajukan resign.

 

 

BERSAMBUNG

 

Surabaya, 23 Januari 2023

 

Thursday, January 19, 2023

Resensi Buku Elegi Haekal

 Oleh :  Wyda Asmaningaju


Dok. Pribadi


Identitas Buku

a. Judul : Elegi Haekal

b. Penulis : Dhia’an Farah

c. Penerbit : Loveable

d. Tahun Terbit : 2021

e. Tempat Terbit : Jakarta

f. Tebal Buku : 377 halaman

g. Ukuran Buku : 19 x 13 cm

 

 

Buku bergambar pemandangan yang bernuansa sore dan lumayan tebal  ini sangat diminati remaja terutama oleh kaum hawa. Dari judulnya sudah bisa ditebak bahwa cerita buku ini mengandung ratapan dan ungkapan dukacita, khususnya pada peristiwa kematian. Penulisnya adalah seorang mahasiswi di salah satu Universitas Islam Negeri di Bandung. Dia  dalam menyalurkan hobinya menulis, memublikasikan cerita buatannya di media sosial Twitter dalam bentuk AU (Alternative Universe). Buku ini merupakan beku kedua. Buku sebelumnya berjudul Dikta dan Hukum. Kedua buku tersebut merupakan best seller.

 

Buku berjudul "Elegi Haekal" Karya Dhiaan Farah ini cukup unik, karena mengangkat tema percintaan berbalut fiksi dengan masalah yang kompleks. Masalah tersebut sangat berhubungan dengan kehidupan jaman sekarang. Buku ini mengingatkan saya kembali saat masih duduk di bangku sekolah yang penuh akan romansa remaja.

 

Kisah ini menceritakan seorang remaja yang bernama Haekal. Seseorang yang sangat mendambakan hangatnya kasih sayang orang tua dan juga keharmonisan di dalam rumah. Bagi Haekal mamanya adalah satu-satunya harta terbesar yang dia miliki, sehingga dia sangat menyayangi mamanya. Namun seiring berjalannya waktu mama Haekal kian menjauh, dikarenakan bagi mamanya kehadiran Haekal terus membongkar luka besar mamanya pada masa lalu. Kisah pada buku ini menggambarkan doa dan harapan seorang anak laki-laki atas keutuhan sebuah keluarga.

 

Haekal rela melakukan berbagai cara agar mamanya mampu menyayanginya dengan segnap hati akan tetapi nihil mamanya terus bersikap cuek kepada Haekal. Walaupun sang mama tidak pernah merespon usaha yang telah dilakukan oleh Haekal, akan tetapi Haekal pantang menyerah dan terus berusaha agar mamanya sayang kepadanya. Sebenarnya mama Haekal bukan orang yang jahat akan tetapi dia melakukan hal ini dikarenakan untuk menutupi aib pada masa lalunya.

 

Sebagai single parent, Hanna (mama Haikal) termasuk orang yang sukses dalam menjalani bisnis property.Sampai pada suatu forum yang mengangkat artikel mengenai Hanna, dia terpaku oleh satu komentar panjang. Bahkan beberapa detik:

“Keren, Terhebat! Semoga saya menjadi seperti mbak Hanna nantinya, yang bisa sukses di umur muda, walau cuma seorang diri. Ah, beruntung sekali yang menjadi anaknya nanti, pasti akan menjadi anak yang paling bahagia dan berbangga di muka bumi, karena mempunyai mama hebat seperti mbak Hanna. Saya Haekal, 17 tahun, fans no.1 mbak Hanna.” (hal.49). Namun semua usaha Haekal tidak membuatnya semakin menunjukkan perhatian dan kasih sayangnya, malah semakin membencinya..

 

Sampai suatu saat Haekal mengungkapkan perasaanya pada seekor anak kucing yang sendiri dalam dinginnya hujan tanpa induk yang mendampinginya.

“Ibu kamu mana? Nggak ada ya? Kamu sendirian? Kalau iya..berarti nasib kita sama.”(hal.127)

Haekal hanya ingin seperti anak-anak lain, ingin dianggap ada dan dihargai sebagai anak yang berusaha berbakti dan seharusnya mendapatkan banyak kasih sayang dan perhatian dari orang tua. Menurut Haikal, dia menyesal dilahirkan didunia karena dikelilingi orang-orang yang penuh ambisi akan tahta dan harta sehingga melupakan hati nurani untuk sesama seperti mama, kakek, neneknya.

 

Pada mulanya dikisahkan Hanna dan Jovan (mama dan ayah Haekal) merupakan seorang kekasih yang sangat romantis, akan tetapi karena kelalaian mereka berdua membuatnya terbelenggu dalam nafsu hubungan badan di luar nikah.. Hanna sengaja menutup aibnya rapat rapat dikarenakan hal yang dialaminya merupakan aib keluarga. Sekaligus hubungan meeka tidak direstui orang tua Hanna karena perbedaan status sosial dan kasta. Hanna berusaha mati-matian menyelamatkan janin yang ada di rahimnya meskipun orang tuanya berusaha keras menyuruh untuk menggugurkannya.

 

Pertemuan mereka kembali setelah belasan tahun yang tidak disengaja berawal dari pemanggilan Haekal oleh guru BK karena dia terdeteksi melakukan pemukulan kepada gurunya Pak Darto setelah merendahkan mamanya dengan kata-kata yang tidak pantas. Ayah Haekal merupakan guru BK disekolahnya.  

 

Haekal yang terus menyusuri masa lalu mamanya untuk mengetahui apakah ayahnya masih hidup atau tidak membuat mamanya marah dan tidak mau menghiraukan Haekal. Walaupun mamanya terlihat tidak suka dengan Haekal dan selalu mengatas namakan sibuk supaya tidak terlalu dekat dengannya tetapi sesungguhnya mamanya tetap mencintai Haekal. Bagaimanapun juga Haekal adalah anak yang dipertahankan supaya bisa lahir ke dunia.

 

Isi dalam buku ini membuat orang yang membacanya terbawa dalam alur, sehingga membuatnya larut dalam kesedihan dan juga menangis. Bukan hanya karena perlakuan dari kedua orang tua Haekal kepadanya, akan tetapi kisah dalam buku ini juga berakhir sad-ending, dikarenakan ayah Haekal pada akhirnya meninggal dunia untuk selamanya.

 

Bagi seseorang yang sedang jatuh cinta mungkin buku ini bisa jadi acuan untuk menulis surat cinta pada kekasihnya, karena dalam buku ini banyak terdapat banyak untaian surat cinta yang membuat pembacanya terbawa perasaan. Cerita ini bagus dibaca oleh kalangan remaja dengan hikmah tersirat yang berada di dalamnya. Bagaimanapun keadaan orang tua kita, di dalam lubuk hatinya yang paling dalam sungguh tertanam cinta tulus kepada putra- putrinya. Dan kita sebagai anak harus mampu menghargai serta menghormati kedua orang tua kita.

 

 

Surabaya, 20 Januari 2023




Saturday, January 14, 2023

Awal Segalanya

 Oleh : Wyda Asmaningaju

Dok.Pribadi

 

Kelahiran putri mungil dari pernikahan Siti dan Sumaji merupakan anugerah terindah dari sang Khalik. Meskipun lahir dengan berat badan yang minim, putri mereka tampak sehat dan gesit. Kebahagiaan sebagai seorang ayah tidak begitu saja dilewatkan, Sumaji menuju bed tempat istrinya berjuang melawan maut dan membisikkan sesuatu sambil menggendong bayi.

“Terima kasih telah menjadi ibu dari putri cantik kita.”

Segera dia mengenalkan nama Allah ke telinga bayi mungil yang diberi nama Sarah Ayuningtyas. Nama yang indah sesuai dengan parasnya dan semoga juga kepribadiannya kelak.

Setelah beberapa hari dalam pemulihan setelah melahirkan, maka Siti diijinkan dokter untuk pulang beserta bayinya.

 

Hari-hari yang indah mewarnai rumah sekaligus menambah kesibukan bagi Siti untuk mengurus suami dan anak sendiri tanpa bantuan orang tua. Sebelum ayam berkokok dia sudah bangun dengan bergegas mandi lalu masak sebisanya untuk bekal suami dan menyiapkan air hangat untuk mandinya si cantik Tiba-tiba dia teringat sesuatu.

“Mas, minta tolong ambilkan handuk Sarah di sebelah kursi ya.”

“Ambil sendiri dek, aku masih menyiapkan bekalku.”

Sebagai ibu perdana tidak jarang dia menahan sejuta rasa yang berkecamuk di dada supaya terlihat baik-baik saja di depan sang suami. Mungkin selama ini belum tampak sikap cueknya Sumaji dengan pekerjaan rumah karena masih berdua saja. Semua pekerjaan rumah mulai awal menikah dilakukan Siti sendiri tanpa sedikitpun dibantunya.

 

Dengan penuh kesabaran dan tanggung jawab, Siti melakukan pekerjaan rumah dengan ikhas dan senang. Memberi asi ekslusif selama masa cutinya belum habis. Mengkonsumsi sayur dan buah serta ikan supaya menghasilkan asi yang berkualitas untuk tumbuh kembang si mungil. Secara periodik memeriksakan kesehatan dan menimbangnya di puskesmas.

 

Bulan berganti bulan tidak terasa masa cutinya hampir habis. Dalam keheningan malam Siti berusaha mencari solusi untuk setiap permasalahan.

“Mas, sebentar lagi cutiku habis. Bagaiman kalau saya mencari pembantu untuk mengurus Sarah dan rumah?”

“Wah.. berapa ya gaji pembantu? Takutnya gajiku gak cukup dek.”

“Insya Allah gajiku cukup mas.”

“Tapi kan gaji dek Siti sudah dibuat bayar kontrakan.”

“Yang dibayarkan untuk kontrakan itu kan HR tahunan.”

“Kalau dek Siti merasa tidak keberatan ya saya ikut saja asalkan cari orang yang tepat.”

“Ya mas, nanti saya tanya tetangga mungkin punya kenalan.”

 

Melalui beberapa tetangga ada beberapa kandidat asisten rumah tangga yang memenuhi syarat akhirnya jatuh pada gadis asal Tuban yang bernama Hartini. Gadis berusia 23 tahun ini baru setahun merantau dan bekerja di sebuah pabrik di Surabaya.  

 

“Mas, ini mbak Tini yang akan membantu kita dalam mengurus semua urusan rumah.”

“Mbak Tini berasal dari mana?”

“Tuban pak. Setahun lalu saya bekerja di pabrik tapi sekarang sudah tidak karena tidak lulus tes kontrak.”

“Jadi sudah lama di sini?”

“Baru setahun yang lalu pak, saya merantau.”

“Oh.. ya silakan.”

Sambil mengantar Tini ke  kamarnya maka Siti menunjukkan berbagai tugas yang harus dikerjakan Tini selama dia tidak berada di rumah. Ketika dikenalkan Sarah, Tini seakan sudah kenal lama dengannya. Diambilnya dari gendongan Siti dengan lembut dan diajaknya ngobrol layaknya seorang sahabat.

Sarah juga tampak nyaman dan senang digendong Tini. Meskipun masih belum menikah tapi Tini sudah terampil menggendong Sarah.

 

Tibalah saatnya Siti harus kembali bekerja pagi ini. Sudah menjadi kebiasaan Siti bangun pagi buta dan melakukan semua rutinitas yang menjdi tanggung jawabnya sebagai ibu rumah tangga. Termasuk memandikan Sarah dan mendadaninya sehingga terlihat cantik dan segar.

“Anak cantik, ibu hari ini mulai kerja ya sayang. Mbak Sarah tidak boleh rewel ya..supaya mbak Tini bisa mengerjakan pekerjaan yang lain. Anak pintar ibu pasti tidak cengeng.”

Sambil menyusui Sarah, Siti berpesan untuk si cantik supaya tidak rewel. Setelah Sarah kenyang dan sampai tertidur langsung dibaringkannya di atas sprei warna pink bercorak bunga itu.

“Sudah ya mbak Tini, aku berangkat di antar suami.kalau Sarah bangun tolong dibuatkan susunya itu diatas meja.”

“Baik Ibu. Selamat bekerja. Semoga mbak Sarah pintar dan tidak rewel dengan saya.”

Sesampainya mengantar istri maka Sumaji tidak langsung bekerja tetapi mampir dulu ke rumah untuk menyampaikan sesuatu kepada Tini.

“Mbak Tini, sore ini aku pingin sayur asem dan ikan mujaer, sambel terasi. Tolong dimasakkan nanti”

“Baik pak, nanti saya masakkan.”

Hartini yang rajin dan terampil dalam bekerja dalam sekejab sudah menghasilkan banyak karya. Rumah yang bersih, cucian dan setrikaan tuntas, masakan sudah matang dan tak lupa adik Sarah yang terawat dengan baik.

 

Dalam hitungan kurang lebih delapan bulan Hartini mengabdi di keluarga Siti. Semua pekerjaannya dilakukan dengan ihklas meskipun tidak ada majikannya. Pelayanan yang memuaskan diberikan untuk keluarga kecil ini.

 

Suatu pagi yang tidak bersahabat, hujan mengguyur deras di daerah tempat Siti tinggal. Seperti biasanya Siti hendak berangkat bekerja sekaligus diantar suaminya sudah menunggu di depan rumah seraya membuka jok untuk mengambil jas hujan.

“Mas, mana jas hujanku/”

“Ini dek kemarin saya taruh di jok.” Setengah berteriak Sumaji sambil memberikan jas hujan Siti.

“Tak tinggal yang mbak Tini, hati-hati di rumah.”

“Iya, Ibu juga hati-hati.’

Dalam hitungan menit, maka motor butut itu pun tidak tampak dari pandangan. Hartini yang selalu senang mengerjakan pekerjaan rumah dengan melantunkan lagu-lagu favoritnya. Sesekali Sarah rewel di keluarkan jurus ampuhnya yaitu melantunkan sholawat sambil mengayun di pangkuannya. Maka Sarah pun akhirnya  tetidur lagi seakan terhipnotis.

 

Tidak disangka tiba-tiba ada suara motor dan berhenti di depan rumah. Maka diberanikan untuk mengintip sejenak dari balik kelambu. Ternyata Sumaji yang balik ke rumah. Dengan cepat dibukanya pintu dan bertanya.

“Ada yang ketinggalan pak?”

“Tidak, saya memang libur hari ini.”

“Oh gitu.”

Sambil berlalu Hartini hendak masuk dan menyelesaikan pekerjaannya.

“Eh.. jangan pergi. Ke sini mbak.” Sambil melambaikan tangan.

“Ya pak .. ada yang harus saya kerjakan?’ tanyanya polos.

“Ah tidak. Mumpung kita hanya berdua apa boleh saya tanya sesuatu?”

“Maksud bapak apa? Saya tidak paham?”

“Apa kamu sudah punya pacar?”

“Ah bapak ini kok aneh-aneh pertanyaannya.”

“Aku tanya serius. Jawab dengan jujur.”

“Memangnya kenapa pak kalau saya belum punya pacar?”

“Ah gak pa pa kok tapi kamu cantik masak belum punya pacar?”

“Maaf pak. Pertanyaan bapak aneh bagi saya.”

“Bukankah kamu yang aneh? masak usia 23 tahun masih belum punya pacar.”

“Maaf pak. Saya tinggal  ke belakang ya? masih banyak yang harus saya kerjakan.”

Kali ini Hartini dibiarkan saja melakukan pekerjaan seperti biasanya. Sesekali Sumaji melirik dengan mencuri pandang seraya menikmati wajah polos dengan tubuh sintal itu mondar mandir membersihkan rumah. Entah pikiran apa yang sedang berada dalam benaknya.


BERSAMBUNG


Surabaya, 16 Januari 2023

Thursday, January 5, 2023

Kelahiran Anak Pertama

 Oleh Wyda Asmaningaju


Dok. Pribadi

  

Pernikahan Siti dan Sumaji sudah menginjak bulan keenam. Seperti biasanya setelah mencuci bersih alat masak dan makan pagi, Siti tampak sudah bersiap untuk berangkat. Sambil mengenakan tas kecil dan seragam kerjanya seraya melempar senyum untuk suami tercinta.

“Mas, sudah siap ya aku mau berangkat.”

“Sudah sayang, apa gak ada yang ketinggalan?”

“Sepertinya tidak mas.”

Bergegas Sumaji mengeluarkan motor bututnya sambil mengantar Siti bekerja, sementara dia juga melanjutkan perjalanannya menunaikan kewajibannya sebagai pegawai. Tapi setelah beberapa meter motor berlalu tiba-tiba Siti menutup mulutnya dengan tangan kiri dan memintanya untuk berhenti.

“Stop.. mas sepertinya aku mau muntah.”

Secepat kilat Sumaji menghentikan laju motor sejenak untuk memenuhi permintaan sang permaisuri tercinta.

“Ada apa dek.”

Siti bergegas turun dan muntah di pinggir jalan.

“Gak tau mas, tiba-tiba perutku sakit dan terasa ingin muntah.”

“Apa masuk angin dek? Atau kita langsung ke dokter ya?”

“Terserah mas, kepalaku juga pusing.”

Setelah beberapa lama diskusi maka diputuskan mencari dokter terdekat yang akhirnya ditemukan hanya berjalan sekitar 500 meter.

“Alhamdulillah dek ini ada dokter praktek yang sudah buka.”

“Iya mas.”

Karena masih pagi tanpa harus antri merekapun langsung bisa mendapatkan pelayanan pertama. Tampak serius Sumaji mengutarakan keluhan istrinya kepada dokter. Maka dokter Dharma menyuruh Siti berbaring dan memeriksa pasiennya dengan teliti.

“Anda berdua temanten baru ya?”

“Kok dokter tahu?” Sumaji malah berbalik tanya.

“Selamat mas, anda akan menjadi ayah.”

“Maksud dokter apa?”

“Isteri anda hamil mas.”

“Alhamdulillah…” Jawab mereka bersahutan.

“Dijaga ya kandungannya supaya  janin dan ibunya tetap sehat .”

“Iya dok.” Jawab Siti

“Apa mbaknya bekerja?”

“Iya dok.”

“Tidak masalah, selama kondisi tubuh tetap kuat. Akan saya beri tambahan vitamin untuk memperkuat kandungan.”

 

Akhirnya diputuskan untuk kembali pulang setelah memeriksakan ke dokter. Mereka pulang dengan hati berbunga-bunga yang sebentar lagi akan memiliki momongan tanpa harus menunggu lama di usia pernikahannya. Untuk berbagi kebahagiaan maka kabar ini disampaikan kepada orang tua Siti di desa dengan menelponnya. Pesan-pesan seorang ibu ketika anaknya sedang mengandung calon cucunya merupakan petuah yang bijak, wajib dijadikan pedoman hidup untuk menapaki dunia yang baru bersama keluarga tercinta. Meskipun jauh keberadaan sang buah hati tidak menjadikan jarak yang berarti untuk mereka berdua bisa saling berbagi cerita.

 

Kehamilan pertama yang dinikmati seorang ibu muda yang bekerja memang mengharuskan kondisi tubuh yang sangat prima. Siti yang tidak suka obat sehingga membiasakan diri mengkonsumsi vitamin dan mineral secara alami misalnya dengan makan sayur-sayuran dan buah-buahan setiap hari. Untuk mendapatkan gizi seimbang tidak lupa selalu istikomah minum susu sapi asli yang dibeli tidak jauh dari tempat tinggalnya. Kebiasaan hidup di daerah pedesaan yang serba alami masih melekat di dalam kehidupannya hingga kini. Sebagai pegawai toko yang tidak seberapa gajinya dan ditambah gaji suami sebagai pegawai rendahan di sebuah BUMN karena memang hanya lulusan SMP maka dengan berpola hidup hemat dan tidak boros mereka bisa mencukupi kebutuhan berdua.

 

Bulan berganti bulan, kehamilan Siti semakin membesar dan membutuhkan perhatian ekstra dari suami. Suatu malam sang suami yang masih belum pulang ditunggunya dengan hati risau. Tidak biasanya Sumaji terlambat pulang tanpa mengabari sama sekali. Dicobanya menelpon tapi tidak diresponnya. Sekitar pukul 20.08 kedengaran seseorang mengetuk pintu.

“Assalamu’alaikum dek Siti.”

“Wa’alaikum salam.” Jawab Siti sambil membukakan pintu.

“Malam mas pulangnya.”

“Iya nanti tak ceritakan.”

Sambil menyiapkan air hangat untuk mandi suaminya, Siti menyiapkan handuk dan pakaian ganti. Setelah suaminya masuk kamar mandi, Siti menghangatkan makan malam yang tadi sudah disiapkan. Setelah semuanya siap maka merekapun makan malam bersama.

“Maaf dek, aku terlambat pulang karena harus mengantarkan temanku pulang yang mempunyai dua anak yatim.”

“Memangnya kenapa harus diantar pulang mas? Maksudnya apakah biasanya juga diantar?’

“Tidak. Itu tadi aku membelikan mainan buat kedua anaknya dan sekalian tak antar jadi agak malam pulangnya.”

Siti semakin tidak bisa memahami alasan suami yang tidak masuk akal.

“Mas. Kehamilanku semakin besar dan aku butuh panjenengan untuk lebih banyak disampingku  sebagai penguat dan pendukung janin ini yang akan menjadikan kita sebagai panutan dan kebanggaannya.

“Iya maaf dek. Sekali ini saja aku terlambat.”

“Janji tidak berbuat yang aneh-aneh lagi ya.”

“Siap.. janji.”

Bagaikan siap dalam upacara, tangan Sumaji satunya memeluk Siti dengan tujuan memecahkan ketegangan diwajahnya sambil menikmati dewi malam. Ditemani sang bintang yang hanya sedikit menampakkan sinarnya pembicaraan mereka dilanjutkan sampai larut. Tetiba Siti merasakan perutnya sakit dan mulas.

“Mas .. perutku sakit.” keluhnya sambil memgangi perutnya.

“Apa mau lahiran dek.”

“Aku tidak tau.”

Sesaat kemudian ada sesuatu meletus seperti balon dan roknya basah.

“Mas, apa ini? Rokku basah.”

Suasana dini hari yang sunyi menjadikan penduduknya larut di tengah dinginnya malam. Tampak Sumaji bingung mencari bantuan dan diputuskan mengetuk pintu tetangga sebelah rumah Dengan bantuan tetangga yang mempunyai mobil maka Siti dengan segera dilarikan ke rumah sakit. Sepanjang perjalanan air ketuban terus saja membasahi sarung yang dipakainya meskipun sudah duganti berkali-kali. Sesampainya di rumah sakit dengan sigap perawat memeriksa kondisi Siti dan memasang alat infus di lengan kirinya. Sumaji yang merasa bersalah tampak komat kamit berdo’a untuk keselamatan istri dan bayinya. Setelah beberapa jam Siti berjuang secara mental maupun fisik untuk bisa melahirkan normal dengan panduan seorang perawat yang masih muda, maka  tangis bayi perempun memecah memenuhi ruangan dengan lantangnya  dan lahir dengan selamat.

 

 

BERSAMBUNG

 

Surabaya, 6 Januari 2023

 My advertisement in the last week